“Kami akan membangun jembatan pejalan kaki Kali Progo dengan bentang 120 meter dengan lebar 2 meter yang kokoh kuat dan artistik. Kita juga mengevaluasi jika suatu saat Jembatan Kali Progo penuh dilalui orang karena ada even tertentu, maka kita siapkan agar konstruksinya kuat. Hal ini untuk mengantisipasi adanya kecelakaan jembatan ambruk”
Berbeda dengan jembatan gantung pejalan kaki judesa, jembatan pejalan kaki Kali Progo ini merupakan jembatan rangka baja lengkung. Adapun estetika bentuk desain jembatan ini dikoordinasikan dengan Ditjen Cipta Karya agar selaras konsepnya, namun struktur jembatan telah ditentukan oleh Ditjen Bina Marga sesuai spesifikasi.
Target pelaksanaan paket-paket tersebut menurut Akhmad Cahyadi dapat diselesaikan dalam 1 tahun anggaran yaitu 2020. Namun ia melihat realisasi di lapangan dan jadwal terkontrak. Salah satunya mengingat trotoar yang menggunakan material batu andesit sedangkan produsen materialnya tidak banyak di seluruh Indonesia sehingga diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama.
“Ini menyangkut seni juga dari desain artistik sehingga tidak gampang pekerjaannya dan harus dilaksanakan dengan hati-hati menggunakan kualitas material premium sesuai spesifikasi. Jika kontrak cepat (selesai lelangnya) maka kita selesaikan akhir tahun namun bila kontraknya mundur (karena ada kendala dalam lelang) maka akan kita usulkan untuk dilakukan perpanjangan waktu melalui paket Multi Years”.
Dengan dukungan infrastruktur Ditjen Bina Marga ini Akhmad Cahyadi mengharapkan wisatawan lokal maupun manca negara yang ke borobudur dapat menikmati kawasan wisata candi dengan lebih nyaman sehingga akan mendorong mereka untuk tinggal lebih lama. Efek berantainya yaitu akan meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan ini melalui tumbuhnya usaha barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. /Lpt
Dilansir dari Humas Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII
Editor ; eno
