Sejarah Kabupaten Purworejo

Peradaban yang agung dipelajari oleh KRA Tjokronagoro l lewat Serat Pustaka Raja Purwa pada tahun 1825. Ilmu tata praja diperoleh dari serat Nitisruti karya Pangeran Gayam Pajang. Pengetahuan geografi dibaca melalui serat Centhini. Ilmu sambung srawung diajarkan Serat Wulangreh. Keshalehan sosial Bupati Tjokronagoro l diakui oleh segenap santri wilayah Kedu. Pernyataan itu diucapkan oleh perwakilan pemuda Kedu tahun 1826..

Pada tahun 1827 pergi belajar pesantren kilat di Sidogiri Pasuruan. Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali menjadi bacaan wajib saat Bupati Tjokronagoro belajar di Pondok Pesantren Gebang Tinatar Ponorogo. Ilmu nahwu shorof, mantik, fiqih, muamalat lulus dengan predikat summa cumlaude. Pada tahun 1828 reuni alumni pondok pesantren Gebang Tinatar. Beliau jadi santri kinasih Kyai Haji Kasan Besari. Pada tahun 1829 Abdullah Hasan memimpin pertemuan Paguyuban rasa manunggal di Banyumanik Semarang.

Oleh karena masa pemerintahan Bupati Tjokronagoro l, banyak berdiri pondok pesantren dan peguron Kejawen. Tujuannya untuk membina mental generasi muda. Bahkan Bupati Tjokronagoro l mengirim pemuda belajar ukir ukiran di Jepara. Ibu ibu disuruh ke Laweyan Surakarta untuk kursus batik. Belajar membuat gamelan di Bekonang Sukoharjo. Malah ada yang dikirim ke Madiun untuk kursus sambel pecel.

Pergaulan Bupati KRA Tjokronagoro l sangat luas. Berteman baik dengan KGPAA Mangkunagara IV. Malah diajak diskusi dalam penyusunan Serat Wedhatama. Pemikiran Bupati KRA Tjokronagoro l bersifat mistis etis. Pernah Bupati Tjokronagoro l pada tahun 1835 diajak lelaku oleh Sri Mangkunagara IV. Misalnya meditasi di Gunung Lawu, kungkum di Kali Ketangga, tapa brata di kahyangan Dlepih Tirtomoyo Wonogiri. Lenggah saluku tunggal, megeng napas mbendung swara, sajuga kang sinidhikara. Napak tilas pertemuan Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Ilmu iku kelakone kanthi laku.

Serat witaradya mengajarkan konsep kepemimpinan ber budi bawa laksana. Tiap tahun Bupati Tjokronagoro l selalu menyelenggarakan bakti sosial. Beliau mengirim sembako ke Majenang Cilacap, Wangon Banyumas, Susukan Banjarnegara dan Pantai Ayah Kebumen. Untuk wilayah bang wetan sampai gunung Lingga Trenggalek. Sungguh pejabat yang murah hati. Kekayaan yang dimiliki digunakan untuk dana driyah. Amemangun keryenak tyasing sesama.

Kecakapan dalam bidang pemerintahan cukup meyakinkan. Sebelum menduduki jabatan Bupati Purworejo, Raden Mas Abdullah Hasan sudah aktif dalam kegiatan sosial keagamaan. Pernah menjadi ketua himpunan santri Jawa. Sekretaris Paguyuban alumni Gebang Tinatar. Ketua forum komunikasi masyarakat Kedu. Anggota Tim pendaki gunung Sundara Sumbing. Ketua pecinta gula kelapa Purworejo. Carik Paguyuban among desa. Semua komunitas senang dan mendukung aktivitas Raden Mas Abdullah Hasan. Setelah menjabat Bupati Purworejo, kedudukannya amat mantab. Jiwa raganya untuk mengabdi pada rakyat.

Kariernya semakin cemerlang. Setelah bekerja di Kepatihan Kraton Surakarta Hadiningrat, beliau sering mendapat penugasan. Bertugas tim pembangunan umbul cakra. Pengawas pembangunan umbul Pengging. Komisaris pabrik kecap Purwodadi. Tim reboisasi kebun kopi kembang Semarang. Pelaksana pemugaran pelabuhan Tegal. Turut pula usaha pengeboran minyak di Cepu. Penanaman jati di wilayah Padangan Bojonegoro dilakukan pada tahun 1824.

Perjuangan, pengabdian dan jasa Raden Mas Abdullah Hasan bagi masyarakat Purworejo besar sekali. Boleh dikatakan sempurna tanpa cacat. Wajar diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. KRA Tjokronagoro l dilantik sebagai Bupati Purworejo pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono Vll.

2. KRA Tjokronagoro ll, 1856 sampai 1896. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono Vll.

3. KRA Tjokronagoro lll, 1896 sampai 1907. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwono X.

4. KRA Tjokronagoro IV, 1907 sampai 1919. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwono X.

5. KRT Sastro Soedardjo, 1919 sampai 1921. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwono X.

6. KRA Soeryadi, 1921 sampai 1927. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwono X.

7. KRA Hasan Danoediningrat, 1927 sampai 1945. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwono X.

8. R. Moeritno Wongsonagoro, 1945 sampai 1950. Masa pemerintahan Presiden Soekarno.

9. M. Soerardjo Sastrodiprodjo, 1950 sampai 1956. Masa pemerintahan Presiden Soekarno.

10. Hardjo Kartoadmodjo, 1956 sampai 1958. Masa pemerintahan Presiden Soekarno.

11. H. Pamoedji, 1958 sampai 1960. Masa pemerintahan Presiden Soekarno.

12. Slamet Soetohardjono, 1960 sampai 1966. Masa pemerintahan Presiden Soekarno.

13. Wiryo Ratmoko, 1966 sampai 1967. Masa pemerintahan Presiden Soekarno.

14. Soekarto Albert Harries, 1967 sampai 1975. Dilantik masa pemerintahan Presiden Soekarno.

15. Kol. Soepantoko, 1975 sampai 1985. Masa pemerintahan Presiden Soeharto.

16. Drs Soetarno, 1985 sampai 1990. Masa pemerintahan Presiden Soeharto.

17. KRTH H. Marsaid Reksohadinagoro SH, 2000 sampai 2005. Dilantik masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

18. H. Kelik Sumrahadi, S. Sos, 2005 sampai 2008. Dilantik masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

20. Drs. H. Mahsun Zain, 2008 sampai 2016. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

21. H. Agus Bastian SE MM, tahun 2016. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Perjalanan lintasan peradaban itu membuat warga berpikir arif bijaksana. Kabupaten Purworejo memiliki sejarah yang panjang. Prestasi gemilang telah diukir. Penggabungan trah Cokrojoyo atau Sunan Geseng dengan trah Syekh Siti Jenar merupakan bentuk akulturasi budaya adi luhung. Trah Bagelen berguru kepada Sunan Geseng. Beliau murid Kanjeng Sunan Kalijaga. Sedang Trah Semawung banyak berguru kepada Syekh Siti Jenar. Keduanya aliran peguron sepakat untuk hidup berdampingan sebagai warga Kabupaten Purworejo.

Daerah ini cukup aktif dan dinamis. Kenyataan berbicara dengan begitu indahnya. Warga Purworejo membuktikan perbedaan adalah kekayaan yang penuh berkat rahmat. Mereka selalu toleransi dan saling menghormati. Banyak sumbangan dari warga Purworejo untuk kemajuan ibu pertiwi. Semoga bahagia selalu, nir bita, nir baya, nir sambikala.

(M-01)

BAGIKAN KE :