Secara konsepsional, literasi tidak hanya terkait dengan ketrampilan membaca dan menulis. Literasi juga dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mencari, menggali dan menemukan informasi dari berbagai sumber, yang kemudian informasi itu diidentifikasi, dianalisis, dan dijadikan sebagai sikap dan tindakan dalam mengambil keputusan hidup.
Menurut Laxman Pandit (2007), literasi mencakup semua kemampuan yang diperlukan oleh seseorang atau sebuah komunitas untuk ambil bagian dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan teks dan wacana (diskursus). Literasi juga diartikan sebagai upaya mengkotekstualkan teks. Informasi, ilmu dan pengetahuan tidak hanya berhenti ditingkat wacana, akan tetapi harus dipraktikkan dan diamalkan dalam kehidupan nyata.
Dalam kontkes inilah, Sukarno tidak hanya sekedar menjadi pembaca, pemikir, dan penikmat ilmu pengetahuan. Sukarno telah mempraktikan apa yang ia baca dan apa yang ia gagas dan pikirkan. Sukarno mengamalkan semua ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan untuk Indonesia merdeka dan untuk mengisi kemerdekaan itu. Dalam bahasa Gramsci, Sukarno telah menjelma menjadi intelektual organik, dan bukan intelektual mekanik.
Gagasan besar Bung Karno dalam Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Ia wujudkan dalam membangun dan membangkitkan gerakan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemikiran Bung Karno untuk menemukan landasan dasar negara di tengah keberagamaan dan kebhinekaan berbangsa Ia wujudukan melalui buku Lahirnya Pancasila (1945). Pancasila sebagai landasan dasar negara telah diterima oleh semua pihak. Sebagai pemimpin bangsa, Sukarno telah menjadi tauladan dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila untuk kehidupan berbangsa.
Masih banyak gagasan-gagasan besar Sukarno yang ia tulis dan Ia implementasikan untuk pembangunan bangsa dan memajukan dunia. Gagasan dan perjuangan anti kolonialisme dan imperialime, Gerakan Non-Blok, Mewujudkan tatanan dunia yang berkeadilan, Membangun perdamaian dunia –adalah gagasan-gagasan besar Sukarno yang ia perjuangkan hingga Ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Masa Depan Bangsa
Studi Bank Dunia (2011) bertajuk Learning Poverty melaporkan sepertiga dari anak Indonesia usia 10 tahun tidak terampil membaca dan memahami cerita sederhana. Bahkan hasil Programme International Student Assessment (PISA) tahun 2018, menunjukkan selama 18 tahun skor keterampilan membaca anak-anak Indonesia tidak mengalami perubahan signifikan. Hasil ini dikonfirmasi Assessment Kompetensi Siswa Indonsia (AKSI) Kemendikbud tahun 2016, yang menyebut 47 persen siswa kelas IV SD di Indonesia tidak terampil membaca. Padahal anak-anak ini seharusnya sudah harus terampil membaca saat kelas 3 SD.
Besarnya jumlah siswa SD yang tidak terampil, merupakan ancaman besar bagi masa depan pembangunan di Indonesia. Jika tidak ditangani sejak dini, maka anak-anak ini akan menjadi beban keuangan pemerintah di masa depan.
Disisi lain, minat membaca masyarakat kita juga masih tergolong sangat rendah. Satrawan Taufik Ismail (2007) dengan pedasnya menkritik, generasi Indonesia merupakan generasi nol buku, generasi yang rabun membaca dan pincang menulis. Padahal di zaman Hindia Belanda menurut Taufik, para pelajar Indonesia setingkat SMA diwajibkan membaca 25 buku dalam 3 tahun.
Tentu saja potret suram literasi kita saat ini akan sangat berpengaruh bagi kemajuan bangsa Indonesia. Dan bila tidak ada upaya yang masif dalam meningkatkan ketrampilan literasi bagi masyarakat dan khususnya anak-anak, maka akan berdampak pada masa depan bangsa kita.
Alvin Toffller dalam The Future Shock (1970) mengatakan, masa depan umat manusia adalah informasi. Siapa yang menguasi informasi, maka dialah yang menguasai dunia. Agar mampu menguasai informasi, manusia harus terus-menerus belajar. Kata kunci untuk dapat menguasai informasi adalah ketrampilan berliterasi. Dalam dokumen Prague Declaration (2003) bertajuk Towards an information Literate Society, juga ditegaskan bahwa penguasaan literasi berkontribusi penting dalam pencapaian tujuan pembangunan millennium PBB dan menghormati deklarasi universal Hak Azasi Manusia.
Sesungguhnya Bung Karno telah memberikan contoh dan suri tauladan bagi kita para generasinya, betapa pentingnya literasi untuk kehidupan dan membangun bangsa. Dengan literasi, Bung Karno telah menjelma menjadi sosok pejuang dan pemimpin yang intelektual, memiliki gagasan besar dan orisinil, berkarakter dan berperikebadian, pantang didikte, dan selalu berdiri di kaki sendiri. Bung Karno adalah potret model literasi yang ideal bagi bangsa.
Sekalipun Bung Karno telah tiada, namun kecintaannya pada dunia literasi dapat menjadi pembelajaran dan inspirasi bagi kita semua. Mari kita belajar literasi dari Bung karno untuk masa depan bangsa yang gemilang.
(M-01)
