Jimmy sempat diajak oleh Ketua DPRD Dairi, Sabam Sibarani, untuk duduk di sebelahnya. Namun, Jimmy menolak.
“Pak Wakil, mari sini duduk pak,” ucap Sabam.
“Oh, enggak usah pak,” balas Jimmy sembari berlalu keluar gedung.
Saat ditemui di luar gedung, Jimmy mengaku tidak tahu para pejabat yang hendak dilantik Bupati Eddy Berutu sore itu.
Dirinya bahkan tidak menerima tembusan surat tentang hasil lelang jabatan eselon II.
“Bupati dan Wakil Bupati kan sama-sama dipilih oleh masyarakat. Saya tidak dipilih ketika Bupati menang (pilkada-red), tetapi kita sama-sama dipilih masyarakat. Legitimasinya sama. Kita harapkan koordinasi itu antara Bupati dan Wakil Bupati bagus, agar pemerintahan ini bisa berjalan kondusif. Kalau sudah seperti ini, dalam hal pelantikan, penentuan pejabat eselon, bahkan perihal tembusan berkas aja tidak diberikan, bagaimana kita melakukan tupoksi saya sebagai Pengawasan dan Pembinaan,” kata Jimmy.
Ia mengatakan, hubungannya dengan Bupati Eddy Berutu sudah kurang harmonis sejak pelantikan eselon III dan IV, akhir tahun 2019 lalu.
“Saya tunggu. Saya sudah sabar sekali, sejak pelantikan eselon III dan IV yang pertama dan kedua, sampai saat ini,” kata Jimmy.
Ia mengatakan, tidak apa-apa pelantikan dilanjutkan. Meski begitu, ia menegaskan berhak diajak koordinasi soal seleksi jabatan eselon II ini.
Koordinasi itu, sambung Jimmy, bukan karena mengharapkan sesuatu.
“Saya enggak minta bahwa saya harus menentukan orangnya, tetapi setidaknya diberitahukanlah sama saya. Masa sampai pelantikan dilaksanakan, tidak saya terima sama sekali berkasnya siapa yang mau dilantik. Kan lucu,” ucap Jimmy.
“Kita ngomong harmoni keberagaman-harmoni keberagaman, tetapi di dalam internal kita aja kita tidak bisa berkoordinasi untuk mewujudkan harmoni itu, sayang sekali. Karena ujung-ujungnya tetap masyarakat yang dirugikan,” kata Jimmy mengakhiri.
Sebagai informasi, visi pemerintahan Eddy-Jimmy adalah Dairi Unggul yang Menyejahterakan Masyarakat dalam Harmoni Keberagaman.
(M-01)
