Benteng Putri Hijau dan Mitologi yang Menyelimutinya

Pinangan Kerajaan Aceh terhadap Putri Hijau yang cantik rupawan merupakan penghalusan dari kalimat penaklukan yang dilakukan oleh Kesultanan Aceh. Kecantikan Putri Hijau lebih bermakna kecantikan/kesuburan bumi dan alam Kerajaan Aru yang sangat terkenal sampai ke Aceh. Hal ini berhubungan dengan ekspansi Kerajaan Aceh yang pada masa itu Aru dipandang merupakan kekuatan yang akan menjadi pesaing. “Pinangan” dari Kesultanan Aceh terhadap Puteri Hijau tentu saja ditolak. Sebagai sebuah kerajaan yang mandiri keinginan Kesultanan Aceh untuk menjadikan Kerajaan Aru sebagai daerah taklukan mendapatkan penolakan, sehingga Kesultanan Aceh menggunakan cara peperangan. Disebutkan dalam mitologi tersebut bahwa Putri Hijau tidak bersedia dan akhirnya melarikan diri. Tuanku Luckman Sinar meyebutkan bahwa Putri Hijau menggunakan perahu dengan motif kepala naga menuju Selat Malaka. Pertahanan terakhir adalah Meriam Puntung. Mengingat jasa-jasanya pada masa belakangan meriam tersebut diperlakukan sebagai “anak/saudara” Puteri Hijau dan Naga Simangombus.

Penaklukan Aceh terhadap Aru kemungkinan diiringi juga dengan proses Islamisasi mengingat pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan institusi Islam yang cukup gencar melancarkan Islamisasi. Akibat penaklukan ini adalah mulai dikenalnya Islam di daerah yang menjadi kekuasaan Kesultanan Deli. Pada masa itu kemungkinan masyarakat Aru masih menganut kepercayaan yang telah ada sebelumnya (Agama Hindu/Budha), hal ini terlihat dari temuan berupa fragmen lingga (simbol dari Dewa Siwa) yang saat ini terdapat di Sukanalu yang oleh masyarakat dianggap sebagai peluru meriam. Sampai sekarang, meriam puntung, yang dianggap keramat oleh kesultanan Deli masih terdapat di Istana Maimon. Meriam puntung adalah merupakan salah satu bukti simbol gigihnya perlawanan masyarakat Aru (Deli) disaat penaklukan oleh kerajaan Aceh. Pengkultusan meriam puntung yang dalam mitologi dianggap sebagai saudara Putri Hijau pada hakikatnya adalah untuk mengingatkan kita generasi penerus bahwa perjuangan untuk mempertahankan kebenaran adalah mutlak, walaupun adakalanya mengorbankan diri kita. Selain itu meriam puntung dianggap sebagai ikon pemersatu beberapa sub etnis asli penduduk Kerajaan Deli.

Penaklukan Aceh jangan dianggap upaya untuk memecah belah persatuan yang ada, penaklukan Aceh lebih banyak hanya bersifat politis mengingat Aru sebagai kerajaan yang besar suatu saat akan menjadi ancaman. Meriam puntung yang saat ini tersimpan di Istana Maimon tersimpan sebagai benda sakral yang merupakan symbol dari berhasil dikuasainya Kerajaan Aru yang merupakan cikal-bakal kerajaan Deli yang telah mendapat pengaruh dari kerajaan Aceh. Pecahan meriam puntung yang terdapat di Sukanalu adalah ungkapan yang terdapat di masyarakat bahwa pada masa lampau, dan masa kini, masyarakat Karo, yang diwakili oleh masyarakat Sukanalu, adalah merupakan bagian dari Kerajaan Deli.(JB01)

Sumber : kemendikbud.go.id

BAGIKAN KE :