Nasionalisme Sultan Serdang Dalam Kenanganku

Dari penutur, dan penulis tentang Sultan Serdang saya berani menilai bahwa nasionalisme Sultan Serdang adalah Paripurna. Dia hidup di rentang waktu 1865-1946 masa penjajahan Belanda. Catatan Belanda yang negatif tentang beliau jadi bukti bahwa dia adalah pejuang bangsa. Sosok Sultan Serdang yang selalu di intip intelijen Belanda sebagai bukti nyata.

Beliau mangkat diawal kemerdekaan 13 Oktober 1946. Masa situasi kritis yang dikenal sebagai “revolusi sosial”. Masa sandyakala. Keluarga dicerai-beraikan dalam pengasingan. Ada yang disekitar Pematang Raya dan Kampung Merdeka Tanah Karo. Namun penghormatan terakhir pemakaman beliau dilakukan dengan upacara militer. Upacara itu diantar ribuan rakyat dengan tangis dan kesedihan yang dalam. Sejak mangkat beliau diberi gelar “Marhom Perbaungan”.

Aku menjabat sebagai Wakil Bupati Serdang Bedagai 2010-2015. Saat itu beliau mendapat penghargaan sebagai penerima Bintang Mahaputera Adipradana (2011). Berbahagia aku ikut dalam proses pengusulannya. Bahkan ikut menjemput kedatangan piagam penghargaan di Polonia Medan. Bersama ahli waris Kesultanan Serdang kami bersama di VIP Room Bandara Polonia ketika itu.

Akhirnya sebagai bangsa yang besar. Sebagai insan yang ingin menjunjung tinggi harkat martabat orang mulia. Berdasar pula pada lintasan karya semasa hidup. Pembangunan pertanian, pendidikan, seni budaya, kesehatan, dan silaturahmi kemanusiaan yang luas, kami berharap Sultan Sulaiman Syaiful Alamsyah dapat dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Wawasan kebangsaan, penghargaan kepada suku bangsa rumpun Melayu tidak diragukan. Kehadiran suku Jawa, Banjar, Karo, Batak timur, dan lainnya di tanah bertuah Serdang adalah prakarsa beliau. Sejarah harus diungkap, misteri harus dibuka. Keteladanan harus dikembangkan. Kajian, penelitian, seminar, semestinya digelar. Ahli sejarah dari generasi milenial harus tampil.

Hingga sekarang pertanyaanku pada alm emak belum terjawab. Kenapa istana orang besar di Kota Galuh di bumi hangus? Apa kesalahan Sultan kepada rakyat? Siapa yang menjadi aktor yang tidak bertanggung jawab? Hingga hari ini aku tak pernah dapat jawaban dari alm emak. Pun, orang lain di Perbaungan jarang mengungkap masalah ini.

Ku akhiri, pulau pandan jauh ditengah, dibalik pulau si angsa dua, hancur badan dikandung tanah, budi yang baik dikenang juga.

(M-01)

BAGIKAN KE :