Ibu Idap Kanker dan Kena Santet, Dua Bocah SD Gagal BDR

Untuk tanggung jawab sebesar itu, baik Mutiara maupun Permata terpaksa sering sekali mengorbankan waktu-waktu belajarnya. Mutiara dan Permata harus selalu siaga mana kala ibunya butuh bantuan.

Olo do sipata ndang marsiajar borukkon. Ala sai mengangguki au. Borngin, arian, manogot. Ala ni posi sahithon.–Kadang anakku ini sampai tak sempat atau terganggu belajar, karena aku sering meraung kesakitan, entah itu malam, pagi, siang. Sakit sekali kurasa,” terangnya.

Belum lagi, Maria hanya memiliki satu ponsel android. Itulah yang dipakai anaknya untuk belajar secara bergantian. Tetapi mereka lebih sering tidak belajar. Mereka banyak tidak mengerti pelajaran dari sekolah karena proses belajar mengajar secara daring sangat menjenuhkan. “Kami lebih banyak nonton tivi, Tulang. Karena sambil jaga mama, kami juga jualan, jaga warung. Nanti sebentar-sebentar ada pembeli,” kata Mutiara.

Sebagai anak sulung, Mutiara rindu kembali belajar di sekolah, agar bisa mengikuti materi pelajaran dengan baik. Cita-citanya, ingin menjadi guru. Berbeda dengan adiknya, Permata. Si bungsu bertekad ingin menjadi dokter. Ia remuk hati melihat ibunya sakit-sakitan. Kepada ibunya ia selalu berkata, “Mak, carikanlah botot banyak-banyak, biar pudan (bungsu-red) nanti bisa jadi dokter. Kalau hari ini belum bisa ngobati mamak, suatu hari pudan pasti bisa.”

Mendengar impian anaknya itu, Maria makin bersemangat untuk bertahan hidup. Ia ingin lekas sembuh agar bisa kembali memulung. Namun, saat ini, Maria membutuhkan banyak duit untuk membiayai proses penyembuhannya. Ia juga butuh asupan gizi agar lekas kesehatannya pulih.

Namun, sejak Maret 2020, ketika kanker payudaranya meletus, ia tak lagi bisa memulung, tidak lagi punya penghasilan. Ia hanya bisa mengandalkan laba dari usaha warung kelontongnya yang dikelola kedua putrinya itu. “Dua karetakku nungnga hugadis asa adong parubatanku tikki i di Rumah Sakit Columbia dohot Royal Prima. Nga hugadis angka barangku. Holan kode-kode on nama.–Dua sepeda motor, telah kujual untuk biaya pengobatanku ke rumah sakit. Barang berhargaku juga kujual. Sekarang tinggal warung saja,” ia menjelaskan.

Maria mengatakan, jika tidak ada program belajar dari rumah, bakalan begitu sengsara dirinya. Karena hanya kedua putrinyalah yang bisa merawatnya di rumah, tidak ada orang lain.

Sementara, baik Mutiara maupun Permata masih anak kecil yang kebutuhannya adalah belajar dan bermain. Mereka kehilangan banyak momen berharga selama program Belajar Dari Rumah ini. Selain karena merawat ibu mereka, juga fasilitas belajar serta metode pembelajaran jarak jauh yang menjenuhkan.

Ikkon hujujung gellengkon. Halakon nadua do ngolukku. Naduaon do mambahen au mangolu, jala ndang olo au talu tu sahithon–Terus terang, aku ingin mewujudkan cita-cita anakku. Mereka berdualah hidupku. Karena merekalah aku tetap bertahan hidup,” pungkasnya.

Tim Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera dipimpin Uba Pasaribu datang menjenguk Maria lalu mendoakannya. Uba juga memberikan motivasi kepada Maria agar tetap kuat dan senantiasa memohon kepada Tuhan. Tak lupa, Uba juga memotivasi Maria dan Permata agar semangat belajar mewujudkan cita-cita. Tak lupa, Uba memberikan uang Rp 500.000 untuk membantu biaya perobatan Maria.

“Saya berharap Pemko Medan peduli dengan nasib kedua anak ini. Mereka perlu dibantu agar bisa belajar dengan baik selama program BDR ini. Apalagi ibu mereka sedang sekarat,” ungkapnya. (Red)

BAGIKAN KE :