Pak Jokowi Dan Kebijakan Berpihak Pada Rakyat

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp.087864404347)

A. Rakyat Gembira Sejahtera.

Kesejahteraan rakyat menjadi prioritas utama bagi sekalian pemimpin. Pikiran mulia sudah dicontohkan oleh Bapak Lamidi Wirjo Mihardjo yang menjadi Lurah Kragan Karanganyar. Kebetulan beliau kapernah Eyang Kakung Pak Jokowi. Darah pengabdian itu terus mengalir dari kakek ke putra wayah.

Teladan utama menjadi bahan kebijakan. Seorang pemimpin harus bertindak ber budi bawa leksana. Maksud ungkapan ber budi adalah sikap seorang pemimpin yang murah hati, suka memberi ganjaran, berdana ria dan selalu memikirkan kesejahteraan bawahan dan rakyatnya. Dalam budaya Jawa dikenal dengan ungkapan manunggaling kawula Gusti.

Pemimpin memiliki kesempatan yang berlimpah ruah untuk mengumpulkan kemakmuran, kenikmatan dan kehormatan tanpa banyak harus bersusah payah. Namun bila hasilnya tidak disebarkan secara merata dan adil maka kenikmatan itu akan menjelma menjadi senjata makan tuan. Bahkan suatu saat akan menjatuhkan diri dan martabatnya. Maka diperlukan sikap eling lan waspada.

Sikap murah ditunjukkan oleh Sinuwun Amangkurat Amral tahun 1677 saat menundukkan ibukota dari Plered ke Kartasura. Ungkapan ber budi maknanya asring paring dana. Tindak kongkritnya yaitu anggeganjar saben dina yang bermakna seorang pemimpin yang pemurah, kreatif, inovatif serta memiliki kepribadian agung.

Pemindahan ibukota Mataram ke Kartasura disokong sikap bawa laksana Bupati Surabaya, Pangeran Pekik. Arti ungkapan bawa leksana adalah seorang pemimpin yang menepati dan menetapi kata- katanya. Sabda brahmana raja sepisan kudu dadi tan kena wola- wali, mengandung makna bahwa perkataan ulama dan umara itu harus bisa dipegang. Oleh karena itu sebelum diucapkan harus dipikirkan masak- masak. Penduduk Surabaya, Madura dan Makassar membantu Sinuwun Amangkurat Amral tahun 1677 – 1703.

Ulama dan umara bersatu. Raja dan brahmana merupakan figur panutan yang diikuti oleh banyak orang. Idiom esuk dhele sore tempe hanya patut diucapkan oleh pedagang di pasar yang hanya mengejar laba tak memikirkan dampak kata- katanya. Sangat berbahaya bila pemuka masyarakat cepat- cepat berubah ucapannya hanya untuk menuruti selera sesaat. Ada ungkapan sabda brahmana raja.

Pangandikane ratu, sabdane brahmana, sepisan dadi. Pemimpin yang mencla- mencle akan menyusahkan pengikutnya. Lire kang bawa leksana anetepi pangandika adalah suatu ungkapan yang penuh dengan prinsip luhur yang perlu dipraktikkan para pemimpin.

Kepedulian seorang pemimpin ditunjukkan oleh Sinuwun Amangkurat Mas yang memerintah tahun 1703 – 1708. Beliau membangun wilayah pesisir yang berpusat di Lasem Rembang. Seorang pemimpin harus bersikap anteng. Anteng bermakna tenang, halus, indah tapi berbobot. Ada pepatah: air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan, yaitu larangan untuk meremehkan hal-hal yang kelihatan remeh yang tak berdaya.

Sikap anteng akan menimbulkan kewibawaan dan mendatangkan rasa hormat dari pihak lain. Dalam proses belajar mengajar, sikap anteng itu sangat diperlukan. Guru akan merasa dihargai jika muridnya bersikap anteng. Dengan sikap anteng berarti murid memperhatikan dan memahami ajaran gurunya. Suasana gaduh akan membuat pelajaran tidak bisa dipahami dan emosi mudah terbakar. Pesisir utara maju pesat.

Wilayah Lasem Rembang memang basis pendukung Sinuwun Amangkurat Mas. Dalam forum resmi sikap anteng diperlukan demi kelancaran hal yang sedang dibicarakan. Keputusan yang dihasilkan oleh forum yang anteng pesertanya maka hasilnya akan lebih jernih. Dalam kehidupan sehari- hari pribadi yang anteng bisanya mampu berpikir lebih jernih untuk memecahkan berbagai persoalan.

Demi memajukan kesejahteraan umum, Sinuwun Amangkurat mendirikan pabrik trasi. Seorang pemimpin harus memahami konsep meneng. Meneng artinya diam. Namun diam di sini bukan dalam arti tanpa sikap dan tidak tahu persoalan. Seseorang harus diam di kala tertentu agar suasana tidak menjadi keruh. Pelabuhan, pelayaran, perdagangan amat berkembang.

Lasem Rembang memang beruntung. Suasana yang panas akibat dari ucapan yang bermacam- macam menambah potensi konflik menajam dan perselisihan meruncing. Pilihan untuk diam merupakan sikap terbaik dan bijaksana. Di sini bisa dikatakan: diam adalah emas. Apabila konflik memuncak dan ujung kompromi tak diketemukan, biasanya mereka akan berpaling kepada pihak yang tidak banyak bicara. Dan barulah pihak ini memberikan solusi yang jernih dan efektif. Tindakan diam juga bisa digunakan untuk menghadapi orang keras. Orang keras kalau dihadapi secara frontal akan bertambah beringas. Dengan diam, lama-kelamaan ia akan sadar diri. Itulah tindakan yang bijaksana.

Selama tinggal di Rembang, raja Mataram ini bersikap ramah tamah, merakyat. Dukungan kuat pada Sinuwun Amangkurat Mas berasal dari Lasem. Seorang pemimpin harus bersikap jatmika. Jatmika adalah segala tindak- tanduk yang berdasarkan kaidah kesusilaan, sehingga siapa saja yang menyaksikan akan berkenan dalam hati.

Dalam posisi apa pun, sikap jatmika senantiasa membawa rasa wibawa, segan dan hormat.
Contoh sejarah yang baik menjadi perhatian bagi Pak Jokowi. Bagi kalangan bangsawan, ningrat atau priyayi, sikap jatmika akan menimbulkan rasa simpati buat rakyat kecil. Kekaguman rakyat kecil terhadap kelas atas karena tingkah laku yang jatmika ini. Sikap ini membuat rakyat kecil menaruh kepercayaan. Kepercayaan termasuk modal yang ampuh untuk menerapkan wewenang.

Keberpihakan pada kepentingan rakyat tentu menimbulkan simpati dan dukungan. Dukungan rakyat kecil terhipnotis oleh wibawa jatmika sang pemimpin. Sebagai contoh adalah yang ditunjukkan oleh Presiden Soekarno. Hingga sekarang, kharisma beliau terpancar seolah-olah beliau masih hidup dan memberikan semangat juang.

Ayahanda Pak Jokowi, Bapak Widjiatno Notomihardjo memberi petunjuk keutamaan. Seorang pemimpin harus sembada. Sembada berarti berperilaku yang sesuai dengan kemampuan, perkataan, serba cukup, cocok dengan kenyataan dan selalu mengambil keputusan tanpa merepotkan orang lain.

Orang yang sembada berarti segalanya sudah ditakar, diukur dan dikira -kira. Banyak orang yang suka menutupi kekurangan diri dengan berbuat berlebihan, sehingga pada ujung- ujungnya menimbulkan kesulitan. Berperilaku mewah agar mendapat wah, itu sama halnya dengan menabung masalah. Penampilan mewah boleh-boleh saja tetapi harus sembada dengan menakar diri.

Prinsip sembada ini bila dilanggar maka seseorang akan kecele, kewirangan, dan menjadi buah bibir buruk bagi orang yang iri. Kadang-kadang menjadi luapan balas dendam dengan mengejek. Sebaiknya keteladanan historis menjadi panduan kepemimpinan.

Rakyat menjadi fokus utama dalam pelayanan publik. Seorang pemimpin harus bersikap wiratama. Wiratama berasal dari kata wira yang artinya gagah berani dan utama yang artinya juga utama. Wiratama berarti gagah berani melakukan kebajikan, atau satria agung yang gagah berani membela kebenaran dan keadilan.

Cukup sandang pangan papan itu kebutuhan pokok rakyat. Seorang pemimpin yang berjiwa wiratama berarti mementingkan kepentingan orang banyak. Dirinya merasa bermakna hidupnya apabila bermanfaat bagi masyarakat umum. Tenaga dan pikirannya disumbangkan kepada khalayak. Cepat kaki ringan tangan dalam beraktivitas sosial dan peduli dengan nasip orang lain yang membuatnya populer.

Secara alamiah pemimpin akan muncul dari orang-orang yang peduli lingkungan dan memperhatikan kepentingan umum. Akhirnya kepemimpinan yang demikian itu akan diakui. Tercukupinya kebutuhan rakyat menjadi syarat keberhasilan pimpinan negara.

B. Perluasan Lapangan Kerja.

BAGIKAN KE :