Menilik Ekspor Kopi Dimasa Pandemi

Selaras dengan itu, Ketua AEKI Sumut Saidul Alam juga mengakui bahwa dampak pandemi C-19saat ini untuk eksportir kopi memang ada, tetapi tidak signifikan. Karena ekspor impor yang dilakukan asosiasi berdasarkan kontrak-kontrak yang dibuat sebelumnya. “Jadi di sentra-sentra produksi kopi juga, di daerah-daerah penghasil kopi belum terlihat dampaknya karena daerah juga sudah memproteksi diri dengan membatasi warga luar masuk ke daerah mereka. Mereka hanya menghasilkan kopi lalu mengirimkan produk-produknya,” terangnya.

Saidul menyebut, sampai saat ini kontrak dagang yang dibuat, semuanya berjalan lancar sesuai harapan. Walaupun saat ini ada sedikit kendala, sebagai dampak shifting di pelabuhan. Para pemilik kapal mengurangi jumlah kapal yang berangkat, sehingga arus ekspor sedikit tersendat karena kurangnya armada untuk mengangkut kopi-kopi tersebut ke negara-negara tujuan. “Kita bersyukur sampai hari ini kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, semuanya sudah mendukung. Kita bisa terus bersinergi,” ujar Direktur Utama PT Kirana Tiga Delapan itu.

Dukungan dari Wamen perdagangan, kata Saidul, sangat berarti bagi pengembangan kopi di Sumut. Jika nenek moyang kita dulu mengembangkan kopi dengan pola tanam tradisional, tugas generasi sekarang adalah berinovasi. Sebab potensi produksi kopi dari Sumatera Utara sangat tinggi. Saat ini, volume ekspor kopi dari Sumatera Utara sekitar 5.000 ton per bulan.

Saidul mengatakan, dukungan pemerintah terhadap petani kopi perlu ditingkatkan, utamanya dalam hal pengembangan sumber daya manusia. Petani-petani kopi millenial perlu diciptakan sebab hampir 75 persen lahan kopi ukurannya begitu luas yang tersebar di 13 kabupaten justru dikelola oleh orang-orang pensiunan (usia tua). Sehingga kreasi petani tua itu mungkin sebatas kegemaran, bukan produktivitas atau inovasi.

Lelaki berkepala plontos itu berharap pemerintah daerah mau membuat konsep pertanian kopi secara terintegrasi. Mulai dari penyediaan lahan, penyediaan kompos, pola tanam tumpang sari hingga pemanfaatan teknologi olah kopi. Selai itu, pemerintah daerah diharapkan mempersiapkan generasi muda untuk menjadi petani millenial. Dengan membekali pemuda-pemuda kita ini dengan bagaimana memanfaatkan teknologi untuk budidaya kopi, kita bisa mencapai produktivitas yang maksimal. “Saat ini volume ekspor kopi kita dari Sumatera Utara sekitar 600-800 kg per hektar per tahun, padahal potensinya bisa sampai 2,5 ton per hektar per tahun. Katakan 1,2 ton saja per tahun dengan lahan Sumatera Utara yang begitu luas, kita berpotensi menjadi produsen sekaligus eksportir kopi nomor satu di Indonesia. “Bekalilah pemuda-pemuda kita bagaimana berinovasi dalam budidaya kopi,” anjurnya.

Bupati Aceh Selatan Teungku Amran yang turut dalam Public Hearing itu mengatakan, Pemda Aceh Selatan sangat mendukung para eksportir kopi. “Pada prinsipnya, kita sangat mendukung karena ini salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan masyarakat petani-petani kopi yang ada di pedesaan. Kami harapkan, tindak lanjut dari apa yang Wamen katakan bisa kami realisasikan secepatnya,” pungkas dia.

Usai kegiatan, Jerry pun menyempatkan diri untuk belajar me-roasting kopi langsung dari ahlinya, serta bagaimana menjadi barista. Ia memilih meroasting kopi Lintong. Acara ditutup dengan pemberian cinderamata serta foto bersama.

(LM-01)

BAGIKAN KE :