B. Pelopor Anyaman Nilai Nasionalisme.
Menurut Ir H Soekirman, nilai kebangsaan parlu dilacak secara historis. Paham nasionalisme dikaitkan dengan faktor historis, sehingga diperoleh pemahaman yang sistematis, integral dan komprehensif.
Oleh karena itu, Ir H Soekirman lantas menyusun buku yang berjudul Onderneming Van Sergai. Buku diluncurkan oleh Penerbit Bangun Bangsa Yogyakarta tahun 2013. Serdang Bedagai memiliki hamparan perkebunan yang luas. Boleh dibilang Sergai merupakan sentra wisata kebun.
Rintisan tradisi berkebun ini berkembang pesat di wilayah kasultanan Serdang. Sultan Thaf Sinar Basyar Shah memimpin Kasultanan Serdang tahun 1817-1850. Raja yang berwawasan luas ini bertekad untuk memajukan usaha perkebunan karet, coklat, kelapa sawit, tembakau. Kasultanan Serdang tampil sebagai negeri yang sangat makmur.
Sukses gemilang ekspor impor tanaman komoditas berlanjut pada masa pemerintahan Sultan Basyaruddin Syariful Alam Shah. Beliau memimpin Kerja Serdang tahun 1850-179. Kurun waktu ini digunakan untuk mempererat tali silaturahmi antar Kerajaan Nusantara. Tenaga ahli dari Jawa didatangkan dari Wonogiri, Blitar, Banyumas, Pacitan, Purworejo, Magelang, Temanggung, Bojonegoro.
Bersamaan itu pula Sultan Basyaruddin Syariful Alam Shah menjalin kerjasama dengan Kasultanan Deli. Sultan Mahmud Al Rasyid pada tahun 1861 membangun infrastruktur jalan, pelabuhan, pabrik dan kantor dagang bertaraf internasional. Kerajaan Deli dan Kerajaan Serdang mampu menyedot perhatian dunia. Pekerja dari Jawa mendapat rekomendasi. Mereka bekerja rajin, tekun, jujur, trampil. Dalam menjalankan tugas selalu ingat pitutur gemi nastiti ngati ati.
Puncak kemesraan Jawa Melayu terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah. Beliau memimpin Kasultanan Serdang sejak tahun 1879. Gagasan beliau tentang modernisasi sungguh cemerlang. Pada tahun 1883 bersama dengan Sultan Mahmud Al Rasyid raja Deli, menghadiri peresmian jalur kereta api Medan Aceh. Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah menggandeng investor kenamaan. Yakni Deli Spoorweg Maatschappij.
Transportasi berjalan maju lancar. Industri perkebunan beruntung lipat ganda. Kehidupan bertambah makmur. Tenaga ahli Jawa berdatangan dan menetap di daerah Kerajaan Deli, Langkat dan Serdang. Pada tahun 1815 Sinuwun Paku Buwana X melakukan kunjungan kenegaraan. Beliau disambut dengan gegap gempita oleh Sultan Deli, Sultan Langkat dan Sultan Serdang.
Demi menjaga hubungan emosi batin, Sinuwun Paku Buwana X memberi oleh oleh khusus. Rum kuncaraning bangsa, dumunung ing luhuring budaya. Warga Jawa transmigrasi di daerah Sumatera Utara diberi hadiah seperangkat gamelan laras pelog slendro. Juga dibawakan sampun, batik, kebaya, blangkon, jarik, sabuk wala, epek, keris, sanggul, bros.
Raja Melayu pun memberi cendera mata. Berupa kain tenun Melayu dan Ulos Batak. Suasana keakraban dibangun oleh para raja Melayu dan Jawa. Ini menjadi bibit kawit, cikal bakal kebangsaan. Nilai nasionalisme dibangun secara kultural. Embrio diplomasi kebangsaan dirunut secara historis sosilogis, sehingga jiwa kebangsaan mengakar kuat.
Proses akulturasi Budaya Jawa, Melayu, Batak yang terjadi saat ini memperkokoh tali persatuan dan kesatuan bangsa. Jasa para raja itu perlu dihormati oleh generasi muda. Gayut dengan itu muncul organisasi yang dipimpin oleh Drs Joni Walker Manik, yaitu Kerabat Kerukunan Rakyat Batak.
Pada tahun 2012 dibangun kembali Istana Kasultanan Serdang. Pertanda Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai Sumatra Utara tanggap atas nilai sejarah bangsa. Jasmerah, jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Biar masa depan tambah berjaya. Selingan diskusi disajikan tembang gotong royong.
Gotong royong dha tumandang gawe, ambangun jiwa ambangun negara, nusa bangsa ing nusantara.
Lanang wadon sarta tuwa mudha, sengkut gya gumregut ngayahi kewajiban, kanggo mbangun marang kautaman, adil makmur kasembadan.
Ir H Soekirman, Bupati Serdang Bedagai menyadari arti penting peninggalan sejarah. Istana Kasultanan Serdang menjadi pusat pengembangan budaya Melayu. Beliau pemimpin yang berhasil memadukan antara nilai lokal, nasional dan global. Ir H Soekirman selalu berusaha untuk melestarikan jatidiri yang bersumber dari sejarah luhur bangsa.
(LM-01)
