Oleh: Dr Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347.
A. Pengembangan Budaya Melayu Lewat Jalur Literasi)
Kebudayaan Melayu dikembangkan oleh para Sultan Serdang. Kepustakaan dibangun dengan melibatkan pakar kesusateraan.
Sastra Melayu yang tumbuh di Istana Kasultanan Serdang berguna untuk membentuk kepribadian luhur. Nilai tradisional ini bisa digunakan sebagai sarana membina pendidikan karakter. Bahan ajar muatan lokal bersumber dari sejarah budaya yang lahir di lingkungan kerajaan.
Pengalaman Kasultanan Serdang sejak tahun 1723 kaya dengan kreasi dan produksi budaya. Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah berjasa meletakkan dasar dasar pemerintahan dan kenegaraan. Rintisan perjuangan berlanjut pada periode pemerintahan berikutnya. Tak lupa pembesar kasultanan Serdang bekerja sama dengan kerajaan lain. Misalnya Kasultanan Deli dan Kasultanan Langkat.
Bentuk kerja sama ini perlu ditiru. Peradaban besar dilakukan oleh Kerajaan masa silam. Sejarah berdirinya kerajaan Serdang berhubungan erat dengan Kesultanan Deli dan Kesultanan Langkat. Prestasi gemilang diukir dengan penuh pesona. Kemewahan masa silam membentuk identitas naratif.
Kasultanan Deli lahir lebih senior. Secara geneologis masih ada hubungan kekerabatan dengan Sultan Serdang. Berturut turut raja yang memerintah Kesultanan Deli, yaitu:
1. Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, tahun 1632-1668.
2. Tuanku Panglima Parungit, tahun 1668-1698.
3. Tuanku Panglima Padrap, tahun 1698-1728.
4. Tuanku Panglima Pasutan tahun, 1728-1761.
5. Tuanku Panglima Gandar Wahid, tahun 1761-1805.
6. Sultan Awaluddin Mangendar, tahun 1805-1850.
7. Sultan Osman Alam Shah, tahun 1850-1858.
8. Sultan Mahmud Al Rasyid, tahun 1858-1873.
9. Sultan Makmun Al Rasyid, tahun 1873-1824.
10. Sultan Osman Al Sani, tahun 1924-1945.
11. Sultan Perkasa Alam Shah, tahun 1945-1967.
12. Sultan Azmy Perkasa Alam Al Haj, tahun 1967-1998.
13. Sultan Osmab Perkasa Alam, tahun 1998-2005.
14. Sultan Mahmud Lamanjiji Perkara Alam, tahun 2005-2020.
Hubungan kekerabatan antar Sultan dilakukan dengan pernikahan. Dalam kekerabatan Kesultanan Melayu, para raja masih ada hubungan famili. Antara sultan Serdang dengan Para Sultan Langkat pun berhubungan erat. Adapun para Sultan Langkat yakni:
1. Panglima Dewa Shahdan, tahun 1568-1580.
2. Panglima Dewa Sakti, tahun 1580-1612.
3. Raja Kahar, tahun 1612-1673.
4. Bendahara Raja Badiuzzaman, tahun 1673-1754.
5. Raja Kejuruhan Hitam, tahun 1754-1818.
6. Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, tahun 1818-1840.
7. Tuanku Sultan Musa Al Khalid Al Mahadiah Muazzam Shah, tahun 1840-1893.
8. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1893-1927.
9. Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1927-1948.
10. Tengku Athaar, tahun 1948-1990.
11. Tengku Mustafa Kamal Pasha, tahun 1990-1999.
12. Tengku Herman Shah, tahun 1999-2001.
13. Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2001-2003.
14. Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2003-2020.
Kekerabatan antar keluarga kerajaan memang berguna sebagai sarana ikatan politik. Ini umum sifatnya. Penulisan urutan raja berguna untuk memahami sistem kerajaan. Pewarisan nilai pun mudah dipetakan. Sedangkan para raja kasultanan Serdang Darul Arif yakni:
1. Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1723-1767.
2. Sultan Amab Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1767-1817.
3. Sultan Thaf Sinar Basyar Shah 1817-1850.
4. Sultan Basyaruddin Syariful Alam Shah, tahun 1850-1879.
5. Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah, tahun 1879-1946.
6. Tuanku Rajih Anwar, tahun 1946-1960.
7. Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifaullah Alam Shah Al Haj, tahun 1960-2001.
8. Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah, tahun 2001-2011.
9. Sri Sultan Tuanku Ahmad Thalla Syariful Alam Shah, tahun 2011-2020.
Ketiga kerajaan ini berjuang gigih demi jayanya kebudayaan Melayu. Kerajaan Serdang masih berlangsung hingga kini. Kehidupan kerajaan dalam rangka keseimbangan jiwa raga. Lahir batin harus berjalan selaras serasi seimbang. Sastra Melayu membentuk nilai kebangsaan yang tinggi. Sekaligus sebagai sarana mengembangkan imajinasi historis.
Historiografi ditulis dengan penuh warna. Sehingga muncul semangat juang. Kesadaran untuk melestarikan sistem kerajaan perlu diberi tempat yang tepat. Rumusan pada era modern ini sangat penting. Supaya tidak terjadi salah paham antar warga bangsa. Keselarasan menjadi cara utama. Sultan Serdang berkiprah begitu megah.
Untung sekali Kabupaten Serdang Bedagai dipimpin oleh pribadi yang berbudaya. Ir H Soekirman terlalu menghayati nilai historis para Sultan Serdang.
Pada hari Senin tanggal 30 Desember 2020, Ir H Soekirman, Bupati Serdang Bedagai Sumatra Utara melakukan ziarah di makam Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah. Raja Kasultanan Serdang ini memerintah tahun 1879-1946. Makam raja Serdang ini berada di sebelah barat Masjid Raya Perbaungan. Sambil sholat Dhuhur berjamaah Ir H Soekirman berdoa buat pembesar Kasultanan Serdang yang banyak jasa.
Kewibawaan pembesar kerajaan bisa memberi tuah. Kasultanan Serdang Darul arif mengutamakan kearifan. Suri teladan banyak ditemukan dalam perjalanan kebijakan pemerintahan Sultan Serdang. Peribahasa Melayu Sergai mengajarkan keluhuran. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Jasa perjuangan dikenang sebagai suri tauladan.
