Menelusuri Jejak Pertalian Darah Para Wali Dalam Buku Bertajuk “Sejarah Peteng, Sejarah Rante Martabat Tembung Wali”

Muhamad Mukhtar Zaedin,  sebagai motor penggerak dan pakar dalam alih bahasa, mengungkapkan bahwa memang babad bukanlah satu catatan ilmiah sejarah. Namun, bisa melengkapi bukti bukti sejarah yang ada karena di dalam babad ada hikayat hikayat yang berkembang di masyarakat pada masa itu yang di masukkan secara tertulis.

Tidak juga semua keterangannya berarti benar. Namun begitulah pada waktu itu bagaimana penulis dan penyalin mereka sebuah peristiwa. Perlu diingat, pada masa itu kertas bukan milik massal. Hanya dimiliki orang tertentu yang berkait dengan kerajaan.

Drh. H. R. Bambang Irianto, BA, dan juga didukung oleh Ketua Pengelola Rumah Budaya Nusantara Pasambangan Jati Cirebon, secara khusus juga oleh Mas Raden Edwin Sudjana yang tak lain adalah keluarga Keraton Kecirebonan dalam hal ini pemilik naskah, ” tulis muhammad Mukhtar Zaedin

Bagi para pemuda dan pegiat sejarah,  dan penggemar kewalian, buku Sejarah Peteng” Sejarah Rante Martabat Tembung Wali ini yang terangkum sebanyak 277 halaman yang ditulis oleh Muhammad Mukhtar Zaedin,  H. Sariat Arifia dan Ki Tarka Sutarahardja. Dan,  selaku Editor Drh.H.R.Bambang Irianto.BA, dengan tata letak oleh Nasir Nur H,  diikuti desain sampul oleh Nur Huda A, dan telah masuk dalam cetakan sejak oktober 2020, sungguh menarik untuk di baca.

(Dipa)

BAGIKAN KE :