Sejarah Upacara Maesa Lawung Di Alas Krendha Wahana

Oleh: Dr Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347)

A. Wilujengan Negari untuk Memperoleh Keselamatan.

Upacara wilujengan negari maesa lawung diselenggarakan pada hari Senin Wage, tanggal 14 Desember 2020. Bertepatan dengan penanggalan Jawa, 28 Jumadil Awal 1954 Jimakir. Tempatnya di Alas Krendha Wahana.

Bagi masyarakat Jawa Alas Krendha Wahana memang wingit, gawat kaliwat liwat, angker kepati pati. Hutan ini masuk wilayah Gondangrejo Karanganyar. Dari Karaton Surakarta Hadiningrat berjarak sekitar 15 km ke arah utara.

Kerajaan Pengging sejak tahun 423 diperintah oleh Prabu Kusuma Wicitra. Demi keselamatan rakyat raja Pengging tiap tahun melakukan upacara maesa lawung. Upacara dilengkapi dengan sesaji serba mentahan.

Alas Krendha Wahana merupakan Kahyangan Bathari Kala Yuwati. Disebut juga Bathari Uma, Dewi Pramoni, Bathari Durga. Kedudukannya di alam kadewatan amat tinggi. Karena Dewi Kala Yuwati permaisuri Sang Hyang Jagad Girinata.

Persiapan upacara wilujengan negari Maesa lawung termasuk njlimet. Harus teliti permati. Kekeliruan sedikit saja berakibat kerugian. Abdi dalem purwa kinanthi bekerja dengan berpedoman paugeran yang turun tumurun.

Tradisi wilujengan itu dilakukan oleh semua raja Jawa. Prabu Kertanegara raja Singosari tahun 1274 melaksanakan sesaji maesa lawung dengan megah mewah. Rakyat perkotaan pedesaan dan pegunungan dilibatkan untuk kegiatan wilujengan.

Prabu Brawijaya V raja Majapahit menjadikan wilujengan maesa lawung sebagai hari sakral nasional. Pada tahun 1469 seluruh rakyat Kerajaan Majapahit mendukung jalannya upacara adat. Tradisi berlangsung dengan kepanitiaan yang rapi.

Ketua panitia dipegang oleh Sri Makurung Handayaningrat. Menantu Sinuwun Prabu Brawijaya ini terkenal sakti mandraguna. Sri Makurung Handayaningrat adalah Adipati Pengging yang menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Pembayun.

Pelaksanaan upacara ini dibantu oleh Raden Batara Katong, adik Pembayun. Kelak dinobatkan sebagai Bupati Ponorogo. Batara Katong sejak kecil diasuh oleh Ratu Pembayun dan Adipati Handayaningrat.

Kelancaran upacara maesa lawung jaman Majapahit berkat bantuan Raden Bondhan Kejawan atau Lembu Peteng. Bersama dengan Dewi Nawangsih, Raden Bondhan Kejawan bertugas meneliti kelengkapan sesaji upacara. Terlebih dulu mendapat doa dari Ki Ageng Tarub.

Perubahan besar terjadi pada tahun 1478. Kekuasaan pindah tangan pada Kasultanan Demak Bintara. Raden Patah atau Sultan Shah Alam Akbar Jimbun Sirullah meniadakan upacara wilujengan negari Maesa lawung. Awal Kerajaan Demak berkuasa memang berusaha untuk menghilangkan adat istiadat. Oleh sebab dianggap melanggar keyakinan.

Tanpa diduga sebelumnya. Negeri Demak Bintara kena musibah besar. Di mana mana terjadi pageblug mayangkara. Rakyat hidup susah. Wabah penyakit sulit diredakan. Pagi sakit, sorenya mati. Malah badan metiang, siang harinya nyawa melayang. Begitu terus setiap hari. Wabah pageblug mengancam seluruh kawasan negeri.

Pada tahun 1480 atas usul Kanjeng Sunan Kalijaga diadakan rapat agung. Sultan Shah Alam Akbar Jimbun Sirullah mau menerima nasihat para wali. Upacara wilujengan negari Maesa lawung diselenggarakan kembali.

Syukur Alhamdulillah, pageblug mayangkara sirna seketika. Upacara maesa lawung ternyata menyelamatkan tanah Jawa. Rakyat hidup ayem tentrem. Petani mencangkul di sawah dengan tenang. Tanaman subur, ekonomi jadi makmur. Panen berlimpah ruah.

Sultan Hadiwijaya berkuasa di Kerajaan Pajang sejak tahun 1546. Upacara wilujengan Maesa Lawung dipimpin oleh Ki Ageng Butuh. Umumnya panitia dipegang para murid Syekh Siti Jenar. Mereka adalah penganut Kejawen yang mencapai makrifat sejati.

Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati memerintah kerajaan Mataram sejak tahun 1601. Upacara Maesa lawung dipegang oleh abdi dalem yang berasal dari Kabupaten Pati. Ibunda raja adalah Kanjeng Ratu Waskitha Jawi, putri Ki Ageng Penjawi, Bupati Pati yang terkenal kaya raya.

Kanjeng Sri Susuhunan Amangkurat Agung pada tahun 1647 menyelenggarakan upacara wilujengan negari Maesa lawung. Panitia dilakukan oleh warga Tegal, Banyumas, Wonosobo, Banjarnegara dan Purbalingga. Kegiatan ini dikoordinir oleh Kanjeng Ratu Wiratsari, cucu Pangeran Benawa. Permaisuri raja Mataram ini mengutamakan tata cara yang diwariskan nenek moyang.

B. Karaton Surakarta Melakukan Upacara Maesa Lawung.

Perpindahan ibukota Mataram dari Kartasura ke Surakarta pada tanggal 17 Sura 1746. Sinuwun Paku Buwana II tetap melakukan upacara sesaji maesa lawung secara teratur.

BAGIKAN KE :