Sejarah Pusaka Keraton Surakarta Maesa Keturunan Kyai Slamet

Pamong Pakasa Boyolali bernama Kanjeng Teguh Hadinagoro hendak berdialog di Pesanggrahan Pracimoharjo. Letaknya di desa Paras Cepogo Boyolali. Program antar Pakasa terjalin. Pakasa Nganjuk dan Boyolali merintis kegiatan bersama.

Minggu 20 Desember 2020 ini hari bersejarah. Adapun pembahasan mengenai Kyai Slamet merupakan program khas Pakasa Boyolali. Kepercayaan Kraton pada pengurus Pakasa Boyolali merupakan kemuliaan. Berkah yang menjadi anugerah.

Pemeliharaan Maesa keturunan Kyai Slamet memiliki arti filosofis yang dalam. Arti kata slamet berarti selamat. Istilah lain slamet yakni wilujeng, rahayu, widada, basuki, sugeng. Kebo Kyai Slamet mengacu pada tujuan keselamatan lahir batin.

Masyarakat percaya bahwa dengan menghormati Kyai Slamet hidupnya selalu ayem tentrem sejahtera. Keluarga lancar rejeki. Warga sehat kuat. Penghormatan kepada Maesa keturunan Kyai Slamet menjadi tradisi yang turun tumurun.

Peranan pelopor Pakasa terasa betul. Misalnya Kanjeng Surojo Hadinagoro, pamong Pakasa yang bersemangat. Dari alur keluarga masih keturunan Trah Kepatihan. Aktif dalam Forum Budaya Mataram, Musium dan benda purbakala. Dinamika budaya Boyolali disertai dengan pengkajian, penelitian dan penghayatan. Di tangannya bentuk tradisi dan modernisasi berjalan serasi.

Lapangan puluhan Pengging tempat menggembala Kebo Bule. Kanjeng Ahmadi bekerja tiap hari. Berdarma bakti pada Karaton Surakarta Hadiningrat. Dengan keyakinan mendapatkan berkah. Sebuah keyakinan yang sudah terbukti kebenaran.

Maesa Kyai Slamet selalu mendapat penghormatan dari para raja. Empu Supo jaman Karaton Pengging diperintah oleh Prabu Kusumo Wicitro tahun 423. Empu Supo turut serta mengasuh Kyai Maesa Slamet. Atas dhawuh raja Pengging.

Pujangga Kyai Yasadipura diberi wasiat oleh ayahanda Bupati Padmonagoro. Pusaka Kyai Slamet memberi berkah pada Kawula dalem karaton Surakarta Hadiningrat. Juga pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita selalu memberi penghormatan yang tinggi pada pusaka Kerajaan.

Jumlah Kyai maesa yang diasuh KRA Ahmadi Hadinagoro sejumlah 11 ekor. Terdiri dari jsntan dan betuna. Kategori jantan yaitu Kyai Pahang, Kyai raji, Kyai jalu, Kyai jlitheng. Kategori betina yakni Nyai Pon Sepuh, nyai inem, nyai nora, nyai iyeng, nyai melati cemeng, nyai pon muda, nyai wanti.

Jabatan KRA Ahmadi Hadinagoro di karaton Surakarta Hadiningrat yaitu Abdi Dalem Srati maesa ing Pengging. Ada lagi yang bertugas di Cepogo lereng Gunung Merapi dan gunung Merbabu.

Tiap malam Jumat Pahing pusaka Maesa keturunan Kyai Slamet dikirap. Rute kitab dari kandang menuju alun Alun Pengging. Berakhir di Masjid Cipto Mulyo. Pamong berpakaian Srati. Peserta dari berbagai kawasan.

Menurut KRA Ahmadi Hadinagoro Kyai Maesa keturunan Kyai Slamet mendapat sesaji dan wilujengan. Malam Jumat Pahing berdoa bersama dipimpin abdi dalem ulama.

Keterangan abdi dalem Srati dilanjutkan di Pesanggrahan Pracimoharjo Paras Boyolali. Sekaligus memantau perkembangan gunung Merapi dan Gunung Bibi. Lahar dan lava gunung Merapi terlindungi oleh Wibawa gunung Bibi. Gunung Bibi dianggap lebih sepuh wutuh tangguh dan berpengaruh.

Pusaka maesa keturunan Kyai Slamet memberi berkah pada masyarakat. Karaton Surakarta Hadiningrat menjadi penjaga keselarasan jagad gumelar dan jagad gumulung.

(LM-01)

BAGIKAN KE :