Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)
A. Tokoh Pendiri Semarang.
Sejarah Kabupaten Semarang memiliki posisi strategis dalam kancah peradaban Jawa. pendiri Semarang bernama Ki Ageng Pandanaran merupakan keturunan Kasultanan Demak yang berkepribadian paripurna. Di kalangan Kejawen beliau juga dikenal dengan gelar Sunan Tembayat.
Ki Ageng Pandhanaran tampil sebagai pemimpin yang waskitha ngerti sakdurunge winarah. Tokoh penting dari Semarang yaitu Kanjeng Ratu Wetan, cucu Pangeran Benowo Pajang. Beliau menjadi garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Tegalarum, yang menurunkan Gusti Raden Mas Drajad. Kelak bergelar Sinuwun Paku Buwana I, raja Mataram yang beribukota di Kartasura. Garis keturunan Semarang ini melahirkan raja Jawa, trah kusuma rembesing madu. Darah Semarang menurunkan raja raja Jawa.
Kedudukan Kabupaten Semarang yang menjadi sentral historis, politis, sosiologis dan ekonomis cukup diperhitungkan dalam kancah diplomasi kenegaraan di Asia Tenggara. Generasi muda perlu mengetahui seluk beluk sejarah lokal, demi menatap masa depan yang lebih gemilang.
Bakat kepemimpinan para pendiri Kabupaten Semarang hendaknya ditelusuri perjalanan sejarahnya. Sunan Pandhanaran adalah putra Pati Unus. Jadi Pandhanaran masih cucu Raden Patah, raja Demak Bintara. Beliau mendirikan Kabupaten Semarang pada tanggal 12 Rabiul Awal 927 H atau 15 Maret 1521. Nama kecil Pandhanaran yaitu Made Pandan. Karena besar jasanya dalam menyiarkan agama, lantas orang memberi sebutan Sunan Pandhanaran.
Kepribadian Ki Ageng Pandhanaran dalam mengelola Kabupaten Semarang dipengaruhi oleh faktor historis, sosiologis, filosofis dan theologis. Faktor historis terkait dengan leluhur Ki Ageng Pandhanaran yang masih keturunan Kraton Demak dan Majapahit. Watak kenegarawanan dibentuk oleh tradisi yang selalu labuh labet marang praja. Faktor sosiologis Ki Ageng Pandhanaran terkait dengan letak Semarang yang kosmopolis. Sepanjang pantai utara tanah Jawa menjadi tempat pelabuhan pelayaran dan perdagangan.
Tentu saja Semarang menjadi kawasan yang memiliki nilai jual secara ekonomis. Contoh yang nyata adalah industri mebel yang terkenal di Jepara. Kerajinan kayu jati memunculkan orang kaya seperti Sunan Hadirin. Bersama dengan Kanjeng Ratu Kalinyamat, Sunan Hadirin berhasil membangun kerajaan bisnis. Beliau tampil sebagai donatur kraton Demak dan kraton Pajang.
Pemikiran filosofis Ki Ageng Pandhanaran banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu, Budha dan Islam yang amat selaras.
Praktek theologis dengan pendekatan akulturasi budaya membuat Ki Ageng Pandhanaran menjadi penyebar agama Islam diterima oleh semua kalangan.
Maklum Ki Ageng Pandhanaran merupakan murid kesayangan Kanjeng Sunan Kalijaga. Tampil sebagai ulama dan umara setelah berguru kepada Sunan Kalijaga. Sebelumnya Adipati Pandhanaran diberi ujian berupa kekayaan emas. Ternyata Adipati Pandhanaran lulus ujian.
Sunan Kalijaga menyuruh pergi ke Gunung Jabalkat. Letaknya sebelah selatan kota Klaten, yaitu daerah Bayat. Ditengah jalan Sunan Pandhanaran bertemu dengan begal yang mencoba merampas harta benda istrinya. Begal yang merampok itu bernama Sambang Dalan. Dikutuk berubah menjadi seekor domba. Ketika perampok itu menjadi murid Ki Ageng Pandhanaran namanya adalah Syekh Domba.
Selama tinggal di Gunung Jabalkat, Ki Ageng Pandhanaran menjadi pelopor hidup gotong royong atau tembayatan. Maka daerah Ki Ageng Pandhanaran disebut Tembayat. Berkat jasanya ini maka masyarakat selalu meneladani. Setelah wafat dimakamkan di bukit Cakra Kembang Desa Paseban kecamatan Bayat Klaten Jawa Tengah. Pusaka warisan Ki Ageng Pandaran tiap Sura dijamas yaitu Tombak Ki Ageng Bayu dan Tombak Trisula.
B. Darma Bakti Para Bupati Semarang.
1. Ki Ageng Pandhanaran atau Pangeran Mangkubumi I 1521-1553. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sultan Trenggana Raja Demak.
2. Pangeran Ketib 1553-1586. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sultan Hadiwijaya Raja Pajang.
3. Pangeran Menggala 1586-1589. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Panembahan Senopati Raja Mataram Kota Gedhe.
4. Pangeran Nayamerta 1589-1605. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Panembahan Senopati Raja Mataram Kota Gedhe.
5. Pangeran Arya Wangsa 1605-1620. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Prabu Hadi Anyakrawati Raja Mataram Kota Gedhe.
6. Pangeran Khalifah 1620-1648. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sultan Agung Raja Mataram Pleret.
7. Tumenggung Tambi 1648-1659. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung Raja Mataram Pleret.
8. Tumenggung Yudonegoro 1659-1679. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung Raja Mataram Pleret.
9. Tumenggung Mertoyudo 1679-1709. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral Raja Mataram Kartasura.
10. Tumenggung Astroyudo 1709-1723. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana I Raja Mataram Kartasura.
11. Tumenggung Surohadimenggolo I 1723-1734. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Jawi Raja Mataram Kartasura.
12. Tumenggung Surohadimenggolo II 1734-1742. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana II Raja Mataram Kartasura.
13. Tumenggung Surohadimenggolo III 1742-1751. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana II Raja Mataram Surakarta.
14. Tumenggung Surohadimenggolo IV 1751-1779. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana III Raja Mataram Surakarta.
15. Tumenggung Surohadimenggolo V 1779-1803. Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV Raja Mataram Surakarta.
