Sejarah Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)

A. Jejak Peradaban Melayu Klasik.

Sesungguhnya kota Tanjungpinang merupakan pusat tumbuhnya peradaban Melayu klasik. Beruntung sekali sekarang kota Tanjungpinang dekat dengan ibukota Propinsi Kepulauan Riau.

Perlu adanya kajian historis filosofis. Propinsi Kepulauan Riau atau Kepri berdasarkan UU no 25 tahun 2002. Pemimpin Propinsi Kepulauan Riau bertekad kuat. Yaitu Ismeth Abdullah, Darjo Sumarsono, Muhammad Sani, Agung Mulyana, Nuryanto, Nurdin Badsirun dan Isdianto.

Kesadaran tentang arti penting kearifan lokal di era globalisasi telah mendorong Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) untuk menyelenggarakan aktivitas budaya. Dengan untuk memperoleh pemahaman dan pendalaman atas pemikiran filosofi yang tersebar di seluruh kawasan Nusantara.

Pada era globalisasi ini tiap-tiap bangsa akan merapatkan diri, agar tetap bertahan dalam kancah percaturan dunia. Potensi lokal selama ini diyakini memiliki daya kekuatan yang tangguh. Oleh karena itu, butir-butir luhur warisan nenek moyang itu perlu dikelola sedemikian rupa, sehingga tercipta sebuah kristalisasi pandangan hidup yang sesuai dengan kultur jatidiri bangsa.

Dengan kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten dan kota, kegiatan kebudayaan ini tampak semarak dan semangat. Aktivis seni dan LSM pun berpartisipasi maksimal. Semua pihak sepakat bahwa problematika kenegaraan harus melibatkan peran publik yang lebih luas. ATL dalam hal menjadi pelopor utama, demi terwujudnya cita-cita mulia.

Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) menyelenggarakan Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara pada tanggal 23 – 27 Mei 2012, bertempat di Pulau Bintan, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Bagi kebanyakan pemuda pemudi Indonesia, nama Pulau Bintan amat akrab. Sejak kelas V SD, para siswa mengenal pulau ini sebagai kawasan tambang bouksit. Beberapa soal ujian kerap menanyakan di mana penghasil bouksit itu? Pertanyaan ini selalu diulang-ulang. Materi pelajaran pun mencantumkan secara jelas. Sebegitu seringnya maka keberadaan pulau ini menjadi hafalan. Meskipun jarang yang tahu persis lokasinya.

Menurut informasi dari Bang Fahri, tukang ojek yang mangkal di depan Hotel Aston, bahwa TKI/TKW banyak transit di Pulau Bintan. Maklum, letaknya amat dekat dengan Singapura. Kadang-kadang terbersit pikiran nakal, sebaiknya Pulau Bintan bergabung dengan negara Singapura saja, pasti lebih kopen dan kajen. Daripada punya ibukota di Jakarta yang agak jauh. Tapi ini angan-angan belaka. Tak perlu digagas serius. Kita tetap mendukung NKRI. Jelek-jelek begini, tetap menghargai negeri sendiri. Tidak perlu gugat sejarah. Sudah menjadi takdir Tuhan, kita punya NKRI, harus dijaga. Biar makmur dan mujud.

Seminar kali ini diikuti oleh perwakilan dari Sabang sampai Merauke. Di bawah kepemimpinan Ibu Dr. Pudentia MPSS, ATL tampak ngrembaka dan ngrembuyung. Terbukti tiap mengadakan acara senantiasa gegap gempita, meriah dan menyenangkan. Wajar saja karena priyayi ini supel dalam pergaulan. Bisa momong, momor dan momot. Tiap bertegur sapa menunjukkan sikap akomodatif, komunikatif dan persuasif. ATL benar-benar misuwur, kuncara dan kawentar. Pada kali ini kelihatan betul Bu Pudentia menjadi bintang bersinar terang.

Acara ini dipersiapkan dengan cukup matang. Karena bertaraf internasional, maka sedapat-dapatnya wangun, pantes dan memikat. Dalam kop surat tertera International Seminar On Indonesian Oral Traditions VIII. Tema pokok seminar ini yaitu “Dari Ingatan ke Kenyataan, From Memory to Reality”. Masing-masing tema diperjelas dengan uraian yang meliputi keberadaan Budaya Melayu dan Globalisasi (Malay Culture and Globalization). Bahasan lainnya mengenai Sempadan, Geopolitik, Sejarah Warisan Budaya dan Pengelolaan Tradisi (Border Space, Geopolitics, History Heritage and Safe Guarding of Tradition).

B. Nilai Pendidikan Multikultur Melayu.

Pendidikan toleransi dan multikultur juga ditekankan. Oleh karenanya dibicarakan pula tentang perayaan keberagaman. Dalam hal ini adalah keberagaman hayati, keragaman budaya dan perubahan kebudayaan (celebrating diversity from biodiversity to cultural diversity and cultural changes). Tujuannya adalah memperkokoh identitas dan pembentukan karakter bangsa. Ujung-ujungnya untuk mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan masyarakat (identity and nation character building for peace and prosperity). Begitulah cita-cita luhur yang tetap relevan di era global ini.

Terkait dengan hal itu, perlu deskripsi tradisi lisan di masa depan, penguatan komunitas dan industri kreatif (oral tradition in the future, community development and creative industry). Paparan topik di atas berguna buat penyusunan strategi kebudayaan. Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tentu amat terbantu. Butir-butir kesimpulan seminar ini merupakan dokumentasi sekaligus sosialisasi gagasan cemerlang dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Usaha mulia ini memang memerlukan kerjasama dengan semua pihak. ATL lantas menggandeng Pemerintah Propinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kota Tanjungpinang. Kegiatan kolektif ini juga mengusung Program Revitalisasi Budaya Melayu (RBM) dengan disertai acara Festival Tradisi Lisan Melayu, peluncuran buku terbitan ATL, pameran buku, foto, film, kerajinan rakyat, bazar dan wisata budaya. Sebuah aktivitas yang memadukan untuk praktis dan teoritis.

Pegiat sastra lisan yang berdatangan dari seluruh pelosok tanah air, dengan sendirinya menjadi ajang silaturahmi akademis. Pertukaran informasi cultural ini terjadi semacam persaudaraan pengkaji kearifan lokal. Tiap peserta berusaha mengenalkan keagungan daerah. Dari beragam perspektif lokalitas, terkumpullah bentuk keunggulan yang dimiliki oleh negeri ini. Ensiklopedi berbudaya daerah dapat ditambahkan entrinya. Inilah yang dinamakan dengan proses pembentukan identitas naratif.

Posisi geografis kebudayaan Melayu sungguh strategis. Dalam lintasan sejarah dunia, etnis Melayu telah melakukan kontak diplomatik dengan bangsa-bangsa dunia, sebut saja bangsa Eropa seperti Portugis, Perancis, Inggris, Spanyol dan Belanda. Pulau Sumatra, Malaya dan Kalimantan merupakan komunitas yang banyak dihuni etnis Melayu. Bahkan Semenanjung Malaya banyak dibangun oleh Gubernur Jendral Raffles. Beliau meletakkan dasar-dasar kokohnya kebudayaan Melayu yang berpusat di Singapura. Kejayaan bangsa Singapura tak bisa dilepaskan dari jasa Raffles. Bagi kawasan Asia Tenggara peranannya cukup besar.

Kontak bangsa Melayu dengan bangsa Asia Barat seperti Arab, Mesir, Yordania, Kuwait, Yaman, Irak dan Iran sungguh mewarnai kebudayaan Melayu hingga sekarang. Terutama paham budaya Islam. Mulai dari cara berpakaian, ceritera rakyat dan adat istiadat penuh dihiasi dengan nilai-nilai keislaman. Kepiawaian etnis Melayu dengan petatah petitih, syair dan pantunnya merupakan sarana untuk mengembangkan pendidikan budi pekerti.

Akulturasi dengan bangsa Asia Selatan, terutama negeri India, Bangladesh, Srilanka dan Pakistan. Warna Hindu sebagian berpengaruh pada Hikayat Iskandar Zulkarnain dan Hikayat Seri Rama. Untuk masa kini pengaruh Asia Selatan masih lebih kecil dibanding dengan pengaruh yang berasal dari Timur Tengah. Seolah-olah budaya Melayu identik dengan soal keislaman. Berbeda dengan suku Jawa yang terbentuk oleh kultur Hindu/Budha dan Islam.

Ditilik dari sesi komparatif maka Melayu dan Jawa tampak betul pada figur Soekarno Hatta. Soekarno tokoh Jawa, Hatta tokoh suku Melayu. Cara pandang, filosofis, keyakinan hidup dan aliran pemikiran keduanya sangat berlainan. Tapi demi NKRI yang dijiwai nasionalisme, kedua tokoh yang berbeda pandangan hidup itu rela melebur. Beliau berdua bersahabat erat hingga anak cucu. Perbedaan Jawa Melayu sehari-hari bisa dilihat dari penyajian warung makan Solo dan rumah makan Padang.

Hubungan Melayu dengan Asia Tengah dan Timur diwakili oleh orang Cina, Korea dan Jepang. Hanya bangsa Cina paling dominan. Bahkan sejak zaman Sriwijaya, mahaguru Cina yang bernama U Ching menjadi tokoh menjadi tokoh penyebar agama Budha di Palembang.

Saat itu Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat penyebaran agama Budha yang berpengaruh di Asia Tenggara. Kini banyak suku Melayu yang berakulturasi dengan etnis Cina. Bahkan lebih mengakar sampai di kawasan pedesaan. Berbeda dengan kontak Jawa, hubungan dengan etnis Jawa tampak elitis. Sebatas pada kalangan perkotaan dan bangsawan. Untuk orang desa masih sangat asing dan aneh. Sampai detik ini hubungan itu tetaplah renggang.

Beruntung sekali NKRI punya suku Melayu yang tersebar di penjuru negeri. Identitas kultural Melayu menjadi soko guru, penyangga jatidiri nasional. Bersama dengan etnis lain, keutuhan NKRI turut serta dijaga oleh orang Melayu. Tugas pemerintah untuk menjaga, melestarikan dan menghormati budaya Melayu. Ketahanan Nasional salah satunya adalah melalui unsur kebudayaan. Luasnya kebudayaan Melayu tentu menjadi modal dasar.

C. Pengembangan Literasi Sastra Melayu.

Ulasan tentang warisan budaya Melayu diulas secara khusus oleh Walikota Tanjungpinang, Ibu Suryatati. Kepala Daerah yang peduli pada sastra dan budaya. Buku-buku dengan tema sastra dan budaya telah lahir dari tangannya. Dengan moderator yang pintar berbalas pantun. Busana adat Melayu menambah semarak acara. Tampak para pegawai Gubernuran Kepri dan Pemkot yang mengikuti atasan.

Ketua ATL, Bu Pudentia memberi pengantar. Berbicara di mimbar dengan suara empuk enak didengar. Tak ketinggalan paduan busana yang anggun, berwibawa dan menggema. Pantas sekali jadi penyelenggara acara bertaraf internasional. Seolah-olah Tanjungpinang menjadi pusat perhatian dunia. Layak sekali Tanjungpinang diberi julukan Kota Gurindam Negeri Pantun. Isyarat bahwa kebudayaan Melayu memang gudang kesusasteraan. Lantas teringat Raja Ali Haji, Amir Hamzah. Kini di bawah kepemimpinan Suryatati A Manan, Tanjungpinang menggelar Seminar Tradisi Lisan Nusantara. Dalam kumpulan pantun Majelis, Suryatati berpantun :

Kalau saudara jalan di taman

Ambil sekuntum bunga kamboja

Kalau ingin negara kita aman

Budayakan pantun di mana saja.

Buah pinang memang dibeli zaitun

Warnanya merah terikat katun

Tanjungpinang memang negeri pantun

Kotanya indah masyarakatnya santun.

Kutipan di atas diterbitkan pada tanggal 25 Maret 2012. Beberapa karya puisi buah tangan Suryatati:

1. Melayukah Aku

2. Perempuan Walikota

3. Surat Untuk Suami

4. Perempuan dalam Makna

5. Bual Kedai Kopi

6. Sejak Kita Berjauhan

7. Pantun Majelis

BAGIKAN KE :