Sejarah Kabupaten Kudus

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)

A. Kota Tajug Kudus Perpaduan Nilai Santri Priyayi Produksi.

Kabupaten Kudus merupakan contoh perpaduan nilai santri, nilai priyayi dan nilai produksi. Nilai santri terpantul dari kota Kudus sebagai pusat pengajaran agama sejak tahun 956 Hijrah atau 1549 Masehi. Kanjeng Jafar Shodiq Sunan Kudus adalah anggota Wali Sanga yang berjasa menyebarkan agama Islam di wilayah Kudus. Agama ageming aji, bahwasanya agama itu pelita alam raya.

Kanjeng Sunan Kudus amat menghormati adat istiadat setempat. Daging kerbau lebih dipilih daripada daging sapi. Berarti umat Islam di kabupaten Kudus menghormati tradisi budaya Hindu yang terlebih dulu berkembang. Kearifan lokal diterapkan agar hidup ini berjalan selaras serasi seimbang.

Kadipaten Kudus sudah seharusnya ditempatkan, karena trah yang diberi julukan sesuai dengan nama kota ini. Selama beberapa waktu besar pengaruhnya terhadap jalan sejarah. Kekuasaan mereka berdasarkan pada wibawa sebagai pemimpin jemaah orang santri. Mereka dapat dibandingkan dengan raja-raja Cirebon Darusalam dan Giri Gresik, yang memulai kegiatan mereka sebagai kyai, yang kemudian membentuk trah dan berhasil meraih kekuasaan yang cukup besar.

Pembesar agama linuwih. Adanya daftar lima imam Masjid Agung yang dimuat dalam Hikayat Hasanuddin di Banten. Imam yang kelima pada daftar itu adalah tokoh yang kemudian menjadi Kanjeng Sunan Kudus. Trah para khatib di Masjid Agung di Demak Bintara berasal dari Pangeran Rahmat dari Ngampel Denta Surabaya dan anak perempuannya, Nyai Ageng Pancuran, Kanjeng Sunan Bonang, konon adalah imam pertama. Keluarga Ngampel semula berasal dari negeri Cempa. Kealiman dan semangat menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah, keluarga Kudus ini berjasa karena salah seorang anggotanya menjadi pemuka Imam keempat, ia diberi julukan Kanjeng Khatib Agung Rahmatullah ing Ngudung.

Eling lan waspada. Sesudah meninggalnya Kanjeng Sunan Ngampel di Surabaya, para santri memutuskan mengakhiri kehidupan kompetisi duniawi. Raja Demak Bintara juga tetap caos bulu bekti glondhong pengareng areng, guru bakal guru dadi, peni peni raja peni, mas picis raja brana ke Majapahit.

Hak dan kewajiban srimbang. Beliau masih merasa wajib menyatakan ketaatannya kepada Majapahit. Berbondong bondong para santri di bawah pimpinan Pangeran Ngudung, imam Masjid Agung Demak Bintara, dan ulama. Bupati Terung tugas yang telah dibebankan oleh Narendra Agung kepadanya.

Prastawa di Jawa Timur ini dilukiskan sebagai prastawa yang bertepatan waktu dengan pernikahan seorang putri Demak Bintara dengan seorang anggota trah kyai yang baru muncul di Cirebon. Pernikahan tadi berlangsung antara Hasanuddin, Kanjeng Sultan Banten yang pertama putra dengan putri Kanjeng Sultan Trenggana dari Demak Bintara. Pesta pernikahan Agung terjadi pada 1552.

Pembesar masjis berpengaruh atas kerajaan. Imam keempat di Masjid Agung Demak Bintara yang diganti oleh anaknya yang ditetapkan dalam jabatannya oleh Syekh Nurullah. Beliau kelak kawentar sebagai Kanjeng Sunan Gunung Jati di Cirebon. Kanjeng Sunan Gunung Jati justru pada waktu yang sama telah menjadi ipar raja di Demak Bintara. Beliau hingga dalam posisi yang demikian ia dapat menyatakan pengaruhnya. Khatib Agung muda di Demak Bintara inilah, yang akhirnya dapat mengelola kota kraton tua. Beliau mencapai hasil gemilang itu terutama karena kekuatan gaib.

Banyak raja dari seluruh tlatah, bahkan dari Palembang, dan semua ulama Kanjeng Sunan Giri memainkan peranan istimewa dengan keris ajaibnya. Para sunan, dari Giri misalnya, baru mendapat posisi tinggi pada paruh kedua abad 16. Tanah Jawa berpengalaman dalam mengelola perubahan.

Kedamaian dijaga terus. Raja Islam itu sesudah pindahnya Kotanegara lama menanamkan kekuasaannya di bagian terbesar Jawa Timur dan Madura. Karena pengaruh Kanjeng Sunan Gunung Jati, iparnya, pada waktu itu juga ia memakai gelar sultan. Pengaruh Sunan Kudus sangat luas. Beliau juga ahli dalam bidang pemerintahan. Masyarakat harus diatur dengan sistem tata praja yg rapi. Murid-murid Sunan Kudus berasal dari Demak, Pajang dan Jipang Panolan. Mereka terdiri dari bangsawan yang memiliki jabatan birokrasi.

Sukses yang dicapainya barangkali mengakibatkan kekuasaan Khatib Agung Demak Bintara, yang pada waktu itu agaknya masih muda menanjak drastis. Kebesaran dan tindakan Kanjeng Sultan Kudus harus dianggap kisah mengenai dia sendiri. Silsilah trah leluhur raja raja Surakarta dari abad 19. Beliau dianggap layak dicantumkan dalam buku itu, karena seorang putri trahnya diperistri oleh Sinuwun Sunan Paku Buwana III di Surakarta yang memerintah tahun 1749-1788. Kanjeng Sunan Kudus sendiri memperistri putri Kiai Gede Kali Podang. Beliau adalah putri Bupati Terung, Adipati Kanduruwan yang mempunyai hubungan darah dengan kalangan ningrat.

Nilai priyayi berkaitan dengan ketrampilan untuk menggerakkan roda pemerintahan, birokrasi dan tata praja. Hierarki kenegaraan harus dipelajari, karena terkait dengan aspek kepemimpinan. Mengatur orang banyak perlu memiliki ilmu sosiologi, antropologi, psikologi dan humaniora. Pendekatan keilmuan yang paripurna.

Kanjeng Sunan Kudus mengajari murid muridnya agar mengutamakan kepentingan orang banyak. Rame ing gawe sepi ing pamrih. Ulama suci yang berderajat tinggi dan penuh semangat tempur itu, yang diberi nama Kanjeng Sunan Kudus. Pada 1527, masih bertahun tahun hidup di Demak Bintara sebagai Khatib Agung Masjid Agung, hingga akhirnya ia mendirikan Kota Kudus yang bermartabat.

Pemerintahan Pangeran Trenggana telah pindah ke Demak Bintara dari Cirebon. Kanjeng Sunan Kalijaga adalah seo-rang dari trah tinggi, yang bertalian darah dengan para pejabat di kota pelabuhan tua, Tuban. Rupanya, ia disenangi baik oleh yang kelak bernama Sunan Cirebon Darusalam maupun oleh yang kelak disebut Kanjeng Sultan Trenggana di Demak Bintara. Kanjeng Sunan Kudus, seperti kerabatnya, Kanjeng Sunan Bonang, terutama adalah seorang ahli dan penyebar agama secara damai.

Kesadaran ekologi dan ekonomi diajarkan Sunan Kudus untuk menjaga kelestarian alam. Sepanjang Gunung Kendheng terdapat kayu jati berkualitas tinggi. penebangan liar harus dicegah. Kayu jati sebagai barang komoditi perlu diatur dengan ketat. Itulah praktek amar makruf nahi munkar dalam bidang lingkungan. Sunan Kudus berusaha dengan sekuat tenaga untuk memayu hayuning bawana.

Dalam bidang ekonomi pun Kanjeng Sunan Kudus menganjurkan untuk bersikap adil dan tepa selira. Watak tamak, serakah dan mau menang sendiri seharusnya dihindari. Si kaya memperhatikan yang lemah ekonomi. Sebaliknya yang merasa lemah ekonomi harus bekerja keras. Kedua belah pihak harus kerjasama, gotong royong, saling menghargai. Kehidupan toleransi yang baku dan penting.

Sunan Prawata, pengganti Kanjeng Sultan Trenggana di Demak Bintara, setelah mula mula menjadi murid Kanjeng Sunan Kudus, kemudian Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai gurunya. Kisah kisah ini ternyata berasal dari lingkungan masyarakat orang alim atau masyarakat santri. Dapat dimengerti jika hal itu juga mencerminkan pandangan dan pendirian kelompok pengikut Kanjeng Sunan Kudus.

Kanjeng Sunan Kudus karena keinginan untuk hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk memperdalam ilmu ketuhanan dan melakukan karya karya yang direstui oleh keutamaan. Tahun sebelum 1549, tahun yang sesuai dengan tahun 956 Hijriah yang tercantum di atas mihrab masjid raya di Kudus sebagai tahun pembangunan.
Partisipasi sosial dikembangkan.

Pembangunan masjid ini memerlukan waktu beberapa tahun. Kanjeng Sunan Kalijaga datang dari Cirebon ke Demak Bintara pada 1543. Khatib Agung Demak Bintara tergerak pindah ke Kudus, maka 1543 dapat di-anggap sebagai batas perhitungan paling awal. Tahun itu masih berada dalam periode pemerintahan Kanjeng Sultan Trenggana.

Kudus berasal dari kata Arab al Quds, yakni Baitul Mukadis. Nama yang diberikan kepada tempat itu waktu dinyatakan sebagai tempat suci oleh Kanjeng Sunan Kudus Demak Bintara menjadi imam jemaah. Nama yang lebih tua ialah Tajug. Ietaknya tidak begitu jauh di sebelah timur laut Demak Bintara. Kanjeng Kiai Demang Telingsing yang mula mula menggarap tempat yang kemudian menjadi Kota Kudus. Dia seorang Cina Islam, namanya semula The Ling Sing. Tempat itu sudah agak berarti, sebelum dijadikan kota suci oleh Kanjeng Sunan Kudus. Kudus dadi punjering kawruh.

B. Kanjeng Sunan Kudus Menjadi Guru Para Raja dan Bupati Tanah Jawa.

Nilai produksi berhubungan dengan kegiatan perdagangan, bisnis dan transaksi barang dan jasa. Sejak pemerintahan Sinuwun Paku Buwono I, raja Mataram, Kabupaten Kudus dijadikan sentra industri. Pada tahun 1713 Kanjeng Raden Adipati Padmonagoro dilantik menjadi Bupati Kudus. Raja Mataram hadir langsung. Saat itu pula Sinuwun Paku Buwono I meresmikan pasar Kudus.

Kota Suci Kudus sudah kawentar di Jawa dan bahkan di Nusantara sebagai pusat agama. Masjid rayanya diberi nama al Manar atau al Aqsa, seperti Masjid Agung di Baitul mukadis. Kawula dalem kota suci, Kanjeng Sunan Kudus. Hal ini mengingatkan pada jaman Hindu Budha. Agama yang terlebih dulu hadir.

Dalam pidato sambutannya Sinuwun Paku Buwono I berpesan kepada Adipati Padmonagoro, agar mempelajari warisan Sunan Kudus. Beliau sendiri sering belajar atas wejangan Sultan Kudus lewat ulama Mataram Kartasura. Ulama Rahmatullahi dari Ngudung, Khatib Agung Masjid Agung Demak Bintara, beberapa kali disebut juga Kanjeng Sunan Kudus, atau dicampuradukkan dengan dia. Kanjeng Sunan Kudus pertama yang sebenarnya ialah anaknya. Sunan ini konon bernama Jafar Sidik. Pada mihrab masjid disebutkan al qadhi Jafar Shadiq sebagai pendiri masjid. Pangarsane kaum agama.

Pada waktu Jafar Shodiq sudah menginjakkan kaki di Kudus. Kota itu masih bernama Tajug. Yang mula mula mula mengembangkan kota Tajug adalah Kyai Telingsing. Ada yang menyebut Ki AgengTelingsing. Dia merupakan panggilan sederhana kepada The Ling Sing, orang Cina beragama Islam.

Kota Kudus itu sudah ngrembaka sebelum kedatangan Jafar Shodiq. Beberapa cerita tutur mempercayai bahwa Jafar Shodiq merupakan penghulu Demak Bintara. Di Tajug, Jafar Shodiq mula mula hidup di tengah-tengah jamaah dalam kelompok kecil. Jamaah Jafar Shodiq itu merupakan para santri yang dibawanya dari Demak Bintara.

Para pengikutnya itu merupakan warga setempat yang dipekerjakan Jafar Shodiq untuk menggarap tanah ladang. Jafar Shodiq mula mula hidup dari penghasilan menggarap lahan pertanian. Beliau senantiasa menegakan disiplin, di samping itupun selalu taat kepada perintah atasan. Ketaatan dan keberanian itulah yang menyebabkan beliau ditakuti dan disegani oleh bawahannya khususnya. Kanjeng Sunan Kudus kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebar-an agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Kanjeng Sunan Kudus adalah Masjid Menara Kudus. Nama Jafar Shodiq atau Kanjeng Sunan Kudus tercatat dalam warta masjid.

Masjid ini didirikan pada 956 Hijriyah, sama dengan 1549 M. Dalam inskripsi terdapat kalimat berbahasa arab yang artinya. Telah mendirikan masjid Aqsa ini di Negeri Quds. Sangat jelas bahwa Jafar Shodiq menamakan masjid itu dengan sebutan Aqsa setara dengan Masjidil Aqsa. Ini merupakan masjid pusaka bagi umat Muslim.

Setiap bulan Rajab para raja dan Bupati Jawa berkumpul di kota Kudus. Mereka mendengar wejangan Kanjeng Sunan Kudus tentang keutamaan hidup. Beliau amat dihormati oleh segenap pejabat pemerintah. Kajen keringan marang sesamaning tumitah.

Kota Tajug juga mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Kanjeng Sunan Jafar Shodiq sendiri lebih kawentar dengan sebutan Kanjeng Sunan Kudus. Dalam menyebarkan agamanya, Kanjeng Sunan Kudus mengikuti gaya Kanjeng Sunan Kalijaga, yakni menggunakan model tut wuri handayani. Artinya, Kanjeng Sunan Kudus tidak melakukan perlawanan frontal, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit demi sedikit. Sethithik mbaka Sethithik.

Jaman dulu masyarakat Kudus masih didominasi penganut Hindu. Maka, Kanjeng Sunan Kudus pun berusaha memasukan kebiasaan mereka ke dalam syariat Islam secara halus. Kanjeng Sunan Kudus justru menyembelih kerbau, bukan sapi, pada saat hari raya Idul Qurban. Itu merupakan bagian dari penghormatan Kanjeng Sunan Kudus kepada para pengikut Hindu.
Demikian juga Kanjeng Sunan Kudus membangun sebuah menara untuk azan dengan desain seperti bangunan Hindu yang saat ini dikenal dengan nama Menara Kudus.

Menara Kudus berdiri megah. Adapun kata manara berasal dari bahasa Arab nar yang berarti api atau nur yang berarti cahaya. Awalan kata ma menunjukkan tempat. Dengan begitu menara berarti tempat menaruh api atau cahaya di atas. Akan tetapi kemudian menara mempunyai manfaat yang lain, yakni untuk mengumandangkan azan. Yaitu guna menyeru orang melakukan sembahyang. Keunikan Menara Kudus adalah bentuknya yang lain dari menara masjid yang lain. Bentuk menara ini justru menunjukkan corak dan gaya bangunan jaman pra Islam. Tansah eling marang bibit kawite.

Pembangunan menara kudus itu pun melibatkan kasultanan Demak Bintara. Penguasa daerah Cirebon, Grobogan, Blora menyumbangkan kayu jati. Dengan senang hati mereka ikut serta secara bergiliran. Soko guru melambangkan kokohnya bangunan. Tiang atap menara tersebut terdapat sengkalan yang berbunyi, Gapura rusak ewahing jagad yang berarti tahun 1606 Jawa atau 1685 M.

Adanya tahun sengkalan, gapura = 6, rusak = 0, ewah = 6, jagad = 1. Sengkalan tersebut hanya menunjukkan bahwa saat itu terjadi perbaikan atab yang mulai rusak. Jadi kapan tepatnya dibangun bangunannya berarti kira kira beberapa puiluh tahun sebelum itu Menara Kudus bercorak bangunan Hindu, berbentuk mirip dengan Candi Jago, tempat perabuan raja Wisnuwardhana yang didirikan tahun 1275-1300 M. Tempatnya di dekat kota Malang.

Kayungyun pepoyaning kautaman. Cara yang simpatik itu membuat para penganut agama lain bersedia mendengarkan ceramah agama Islam dari Kanjeng Sunan Kudus. Surat Al Baqarah, yang dalam bahasa Arab artinya sapi, sering dibacakan Kanjeng Sunan Kudus untuk lebih memikat pendengar. Bangunan lain di sekitar Masjid Kudus, tidak meninggalkan unsur arsitektur Hindu, misalnya gapura gapura.

Kebiasaan unik lain Kanjeng Sunan Kudus dalam berdakwah adalah acara bedug dandang, berupa kegiatan menunggu datangnya bulan Ramadhan. Untuk mengundang para jamaah ke masjid, Kanjeng Sunan Kudus menabuh beduk bertalu talu. Setelah jamaah berkumpul di masjid, Kanjeng Sunan Kudus mengumumkan kapan persisnya hari pertama puasa. Perayaan yang diselenggarakan oleh Sunan Kudus selalu berjalan meriah. Para santri berdatangan dari seluruh pelosok negeri. Umyung gumuruh suara mbata rubuh yang hadir.

Sekarang ini, acara dandangan masih berlangsung. Rit klampit brungkat kumpul. Menjelang Ramadhan, banyak orang datang ke areal masjid. Kanjeng Sunan Kudus menciptakan karya sastra dan budaya: Tembang Maskumambang, Tembang Mijil, Masjid Menara Kudus. Pada tahun 1569 Pangeran Timur, Bupati Madiun sowan ke Kudus. Beliau membawa tim kuliner yang masak nasi pecel.

Reuni di Kabupaten Kudus juga sebagai ajang promosi produk lokal. Nama Kanjeng Sunan Kudus di kalangan masyarakat setempat, dipercaya sebagai seorang tokoh yang kawentar dengan seribu satu kesaktian. Kanjeng Sunan Kudus dikatakannya sebagai seorang wali yang sakti, yang dapat berbuat sesuatu di luar kesanggupan otak dan tenaga manusia biasa.

Pada jaman dahulu pernah Kanjeng Sunan Kudus pergi haji serta bermukim di sana. Kemudian beliau menderita penyakit kudis, sehingga oleh kawan kawan beliau Kanjeng Sunan Kudus dihina. Maka disebabkan karena kesaktiannya, timbullah malapetaka yang menimpa negeri Arab dengan berjangkitnya wabah penyakit. Pageblug mayangkara membuat cemas.

Segala daya upaya telah diusahakan untuk mengatasi bahaya tersebut namun kiranya semua itu sia-sia belaka. Akhirnya dimintalah bantuan beliau untuk memberikan jasa jasa baiknya. Karena kesaktian beliau, pageblug mayangkara tersebut menjadi reda kembali. Atas jasa beliau tersebut, amir dari Negeri Arab itu pun berkenan untuk memberikan hadiah kepada beliau sebagai pembalas jasa. Sunan Kudus memang sakti mandraguna.

Masjid yang terletak di Desa Nganguk di Kudus itu adalah masjidnya Kanjeng Sunan Kudus yang pertama kali. Jauh sebelum Kanjeng Sunan Kudus memegang tampuk pimpinan di Kudus, maka seorang tokoh terkemuka di sana ialah Kyai Demang Telingsing.

BAGIKAN KE :