Sejarah Kayu Jati Cepu

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, Hp 087864404347)

A. Jenis Jenis Kayu Jati Cepu.

Wilayah Cepu memiliki kekayaan kayu jati yang bermutu tinggi. Cepu Bojonegoro, lor Rembang kidul Blora, nengetan Tuban Babad lan Lamongan, Gresik Surabaya.

Lingkungan jati Cepu menawan selalu. Pemilihan kayu jati harus sesuai dengan bangunan yang dirancang. Jenis jenis kayu jati beragam rupa.

Kawruh kalang memuat pedoman tentang bangunan yang dibuat dari kayu jati. Diuraikan dalam serat Centhini karya Sinuwun Paku Buwana V, Raja Karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1820-1823. Keterangan tentang kayu jati berhubungan dengan paugeran urip.

1. Jati bang.
Kayu jati ini keras, halus dan nglenga atau berminyak. Sebagai bahan bangunan akan menjadi awet dan kokoh. Pemilik mendapat belas kasih dari sesama.

2. Jati kembang.
Jenis jati kembang memiliki urat seperti ukiran kembang. Berwarna kecoklat coklatan. Cocok untuk hiasan bangunan. Akan tampak lebih indah. Pemilik lancar usaha.

3. Jati sungu.
Jati sungu berwarna hitam. Wujudnya mirip sungu atau tanduk. Bisa memperindah rupa bangunan. Pemilik mendapatkan pekerjaan yang terhormat.

4. Jati kapur.
Jati kapur batangnya lunak. Serabut atau uratnya kasar. Berwarna keputihan putihan. Cocok untuk bangunan yang berhawa panas dan tanahnya gersang. Pemilik memiliki kesabaran tinggi.

5. Jati uger uger.
Kayu jati yang berasal dari batang pohon yang bercabang rangkap. Cocok untuk membuat pintu kori, pintu cepuri, pintu regol. Agar masyarakat mendapat kedamaian dan ketentraman.

6. Jati traju mas.
Kayu jati yang bercabang tiga. Cocok untuk bangunan molo, blandar, pangeret. Pemilik akan mendapat harta berlimpah, rejeki mbanyu mili.

7. Jati Pandawa.
Jati bercabang lima lambang kekompakan. Cocok sebagai bahan soko guru atau tiang utama. Tekad pendawa lima memperkokoh tali persaudaraan.

8. Jati Mulo.
Jati ini berasal dari lingkungan berair dan berhawa lembab. Kayu jati mulo untuk tiang penyangga. Pemilik akan bersemangat kerja. Cita cita luhur terlaksana.

9. Jati tunjung.
Kayu jati yang menjadi susuh manuk. Terutama sarang burung elang. Pemilik akan naik pangkat, punya derajat. Status sosial lebih terpandang.

10. Jati gedong.
Jati yang berurat melingkar kokoh indah. Berguna untuk bahan papan, alamari, gebyok. Pemilik akan dikagumi lingkungan sekitar.

11. Jati gedam.
Jati yang dihingapi hewan iber iberan. Cocok untuk bahan perkakas rumah. Meja kursi, dipan, dingklik. Pemilik akan punya pengikut yang patuh.

12. Jati monggang.
Kayu jati yang tumbuh di gumuk atau onggokan tanah yang tinggi. Cocok untuk membuat gardu, Pesanggrahan, rumah peristirahatan. Pemilik punya jiwa ramah pemurah, luwes bergaul.

13. Jati gendhong.
Jati yang tumbuh di tanah pekarangan. Cocok untuk bahan mainan anak. Perkakas buat momong balita. Pemilik menjadi pribadi yang menyenangkan.

14. Jati gedheg.
Kayu jati yang punya gembolo atau bagian yang menonjol. Cocok untuk dinding pembatas. Kadang kadang untuk tirai atau warana. Pemilik punya kepercayaan diri yang kuat.

15. Jati gadhu.
Kayu jati ini punya tonjolan mirip gandhik atau pipisan. Cocok untuk pembuatan kandang ternak. Pemilik akan kaya dalam hal ingon ingon sapi, kebo, wedus, jaran. Kejayaan bertambah terus.

Dari perspektif historis, Cepu Blora perlu dilacak secara semantis. Nama kabupaten Blora memang arum kuncara. Kata Blora berasal dari kata Belo dan Ara ara. Blora juga bermakna belo ing ara ara. Belo itu anak kuda. Ara ara berarti padang rumput. Belo merupakan hewan piaraan yang punya masa depan gemilang. Belo yang dirawat dengan baik akan menjadi hewan ternak yang mewah megah. Kalau beruntung kuda yang bermutu tinggi pasti menjadi kesayangan para bangsawan utama.

Dalam tradisi kerajaan Jawa hewan kuda merupakan sebuah kebanggaan yang bergengsi tinggi. Belo yang digembala dipadang rumput akan menjadi bahan perhatian semua mata yang menatap. Tak terkecuali wilayah Blora. Sejak dulu menjadi perhatian berbagai pihak. Di Blora ada imbalan yang sangat memadai. Sesungguhnya kabupaten Blora memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Pada jaman kerajaan Majapahit wilayah Blora kerap menjadi tujuan kunjungan para pejabat istana.

Pada tahun 1352 Prabu Hayamwuruk berkunjung ke Bedander Bojonegoro. Raja Majapahit ini napak tilas perjuangan leluhurnya yaitu Prabu Joyonagoro. Perjalanan diteruskan ke Cepu Blora. Di sana beliau mengamati potensi alam Cepu Blora yang berlimpah ruah. Kayu jati dan minyak merupakan kekayaan alam yang mahal harganya. Kerajaan Majapahit memberi perlindungan dan pengaturan yang menguntungkan rakyat.

Kerajaan Majapahit masa kepemimpinan Prabu Brawijaya V semakin peduli pada wilayah Blora. Prabu Brawijaya V pernah tapa ngeli di Kali Lusi. Beliau juga melakukan meditasi di Gunung Kendheng. Rombongan kraton Majapahit kembali ke Surabaya naik perahu Kyai Rajawesi. Berangkat dari Cepu de-ngan menelusuri Bengawan Solo.

Masyarakat Blora telah sepakat menetapkan hari jadi kabupaten Blora. Hari ulang tahunnya diambil dari Kamis Kliwon tanggal 2 Sura 1675 atau 11 Desember 1749. Bupati pertama dijabat oleh Adipati Wilwatikta. Saat itu Blora dibawah pembinaan kraton Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun paku Buwana III.

Dalam Serat Centhini karya Sinuwun Paku Buwana V yang memerintah karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1820-1823 Blora banyak disebut. Wilayah Blora memiliki 5 keunggulan.

1. Kayu Jati.

Kayu jati Blora berkualitas internasional. Penanaman kayu jati memerlukan waktu yang lama. Setidak tidaknya 50 tahun. Itu baru bisa dipanen. Hari raya tentu lebih baik.

2. Minyak tanah.

Sumur yang mengalir di wilayah Cepu menjadi kekayaan berlimpah ruah. Karunia Tuhan yang diberikan kepada masyarakat Blora amat besar.

3. Semen Gamping.

Sepanjang gunung Sewu dan gunung Kendheng merupakan bahan untuk membuat semen. Bahkan sudah tersedia. Tinggal mengolah saja sudah menjadi barang mewah.

4. Padi Gogo.

Padi gogo ditanam di ladang yang kering. Tidak perlu air yang cukup. Padi gogo tumbuh subur di sekitar tanah tandus. Rasanya enak sekali. Mutu rasanya berkelas dunia.

5. Burung Perkutut.

Manuk kutut bersuara merdu, nyaring atau kung. Orang yang mendengar akan merasa tenang ayem tentrem. Burung perkutut sekitar gunung Kendheng sungguh memikat dan mahal harganya.

Tim kerajaan Surakarta sejak tahun 1810 sudah melakukan kajian yang mendalam atas wilayah Blora. Gunung Kendheng gunung Sewu, gunung Pandhan diulas terperinci. Penjelasan dari serat Centhini yang disusun tim karaton Surakarta dapat dijadikan panduan untuk mengolah wilayah Blora. Sepanjang sungai Bengawan Solo merupakan kawasan alam yang menye-diakan kekayaan yang amat banyak. Cuma perlu pengaturan yang jeals. Jangan sampai terjadi keributan. Itulah gunanya aturan hidup.

Kemajuan kabupaten Blora menjadi perhatian dunia sejak tahun 1862. Sinuwun Paku Buwana IX raja Kraton Surakar-ta Hadiningrat mengundang investor internasional. Pelabuhan Tanjung Emas Semarang diperbaiki. Mutu ketrampilan juru ukir Jepara ditingkatkan dengan pelatihan. Transportasi yang menghubungkan stasiun Cepu dibangun dengan sangat bagus. Jalur kereta api dibangun menghubungkan Cepu Surabaya dan Cepu Semarang. Betapa strategisnya kota Cepu Blora. Pemuda-pemudi Cepu dilatih dalam bidang teknologi modern. Mereka bisa bekerja di perusahaan kereta api.

Sinuwun Paku Buwono X memerintah tahun 1893-1939. Pemuda pemudi dari wilayah Banjarejo, Bogarejo, Cepu, Japan dan Jati diundang untuk belajar pengelolaan kebun teh di Ampel Boyolali pada tahun 1915. Setelah itu mereka bekerja dengan sistem kontrak. Upahnya lebih dari memadai. Setiap 3 bulan karyawan kebun teh ini diberi fakansi untuk kunjung orang tua di kampung. Semua biaya ditanggung perusahaan.

Pemuda pemudi Jeken, Kedungtuban, Kradenan, Kunduran, Ngawen, Sambong, Randublatung, Todanan, Tunjungan pada tahun 1916 diajak belajar manajemen gula di pabrik Gondang Winangun. Pengalaman berharga ini berguna untuk menyongsong masa depan.

Kepercayaan masyarakat Cepu Blora terhadap benda magis jati tinggi sekali. Beberapa kayu jati yang mesti dihindari. Jati klabang pipitan, tundhung, sadhang, sundhang, sondho, sarah. Sebaiknya jati ini dihindari.

Jenis jati sial lainnya yaitu jati sujen terus, wutak ati, prabatang, gombang, galigang, gronang, gandhongan, gosong, gronggang, buntel mayit. Jati ini membawa petaka. Bisa digunakan setelah diberi syarat khusus.

Kabupaten Blora memiliki sesanti atau motto MUSTIKA. Akronim MUSTIKA ini bermakna Maju, Unggul, Sehat, Tertib, Indah, Kontinyu, Aman. Harapan rakyat Blora ini disajikan dalam bentuk lagu laras pelog berjudul Blora Mustika.

Maju terus pembangunan nagri
Unggul kabul kuncara kang ginayuh
Sehat lahir kalawan batine
Tertib rancak tumata tuwin titi permati
Indah agawe tentreming rasa
Kontinyu tan kendhat kang binundi
Aman ayem temah karta raharja.

Lagu Blora Mustika tersebut populer sejak tahun 1984. Para wiyaga, waranggana sering mengumandangkan lagu Blora Mustika. Bahkan dalam seni tayub menjadi lagu favorit. Dengan garab balung yang kreatif, kendangan yang sigrak tentu membuat pengibing merasa cocok. Mereka njoged sesuai dengan irama. Suara ibu waranggana tayub yang merdu menjadikan mereka gembira ria. Penanggap rata-rata sedang punya hajad. Mantu, khitan, kelahiran bayi sering mengundang rombongan langen tayub.

Pengembangan seni budaya Blora boleh dikata maju sekali. Rakyat Blora tampil bahagia dengan nanggap tayub. Wilayah Cepu, Jepon, Randublatung mudah dijumpai pementasan seni tayub. Pengrawit tayuban rata rata dinamis, bebas dan sigrak. Nama yang terdengar selalu meriah, sensual dan menarik untuk gerakan. Seni tayub membuat bahagia bersama.

B. Kiprah Perjuangan Pimpinan Wilayah.

Kekayaan wilayah Cepu Blora berlimpah ruah. Pemimpin mengatur harta warisan nenek moyang. Kemakmuran diharap dirasakan oleh sekalian warga negara.

Kayu jati Cepu Blora merupakan warisan dunia yang perlu penataan. Misalnya cara menghindari balak atau petaka.

Jati pipitan kulitnya panas. Pemilik mudah cekcok, sengketa, bertengkar. Hawanya sumuk tak bisa tentram.

Jati tundhung mudah untuk saling mengusir. Jati sadhang melintang di sungai yang mendatangkan kesusahan.

Ada lagi jati sondho rebah di atas tunggak, yang menurunkan martabat. Jati sarah hanyut, membuat halangan laku. Jati sujen terus bikin lubang temus, membuat pemilik gagal total. Semua aturan ini perlu diperhatikan.

Para pemimpin amat peduli keselamatan. Larangan ini berlaku untuk sekalian warga. Pengetahuan tentang kayu jati dipelajari teliti.

1. Tumenggung Wilatikta 1749-1762. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.

2. Tumenggung Jayeng Tirtanata 1762-1782. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.

3. RT Tirtakusuma 1782-1812. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.

4. RT Prawirayuda 1812-1823. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.

5. RT Tirtanegoro I 1823-1842. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono V, raja Surakarta Hadiningrat.

6. Adipati Cokronegoro I 1842-1843. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.

7. RT Tirtonegoro II 1843-1847. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.

8. RT Notowijoyo 1847-1857. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.

9. RT Cokronegoro II 1857-1886. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.

10. RT Cokronegoro III 1886-1912. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.

BAGIKAN KE :