Sejarah Kabupaten Bondowoso

24. Moh Rivai 1983 – 1988

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

25. Agul Sarosa 1988 – 1998

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

26. Dr. Mashoed 2003- 2008

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

27. Drs. Amin Said Husni 2008 – 2018

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

28. Drs. Salwa Arifin 2018 – 2023

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

C. Perkembangan Kabupaten Bondowoso.

Kabupaten Bondowoso betul betul menjadi pengikat bondho paringane Gusti kang Moho Kuwoso. Kedatangan Raden Malikis Sholihin tahun 1831, putra Raden Ajeng Sukaptinah di kabupaten Bondowoso disambut meriah. Cucu Adipati Cakraningrat, Bupati Pamekasan Madura ini sekarang menjadi raja karaton Surakarta Hadiningrat. Saat penobatan warga Sumenep dan Pamekasan merayakan dengan suka cita. Darah Madura berkuasa di Jawa. Prestasi ini sungguh membanggakan. Demikian para warga Situbondo dan Bondowoso, nama Raden Malikis Sholihin terlalu populer.

Beliau kini bergelar Kanjeng Sinuwun Paku Buwono VII.

Perhatian raja Surakarta pada Kabupaten Bondowoso memang menjalankan amanat Ibunda. Raden Ajeng Sukaptinah berwasiat agar, Raden Malikis Sholihin menyempatkan untuk lelaku di Gunung Hyang, Gunung Ijen, Gunung Argopuro, Gunung Krincing, Gunung Kelap, Gunung Alas Sereh, Gunung Bisu, Gunung Bendiso.

Mider ing rat angelangut

lelana njajah negari

mubeng tepining samudra

sumengka anggane wukir

anelasak wana wasa

tumurune jurang terbis.

Raden Ngabehi Ranggawarsita menyertai kunjungan Sinuwun Paku Buwono VII di Bondowoso.

Dengan dipandu Adipadi Kertokusumo, pujangga kraton Surakarta memberi uraian sejarah tanah Jawa. Masyarakat Madura yang berwarga Bondowoso perlu bangga. Pada tahun 1293 tokoh Madura, Arya Wiraraja berjasa dalam mendirikan kerajaan Majapahit. Arya Wiraraja adalah leluhur masyarakat Madura yang hebat dan terhormat.

Warga kabupaten Bondowoso yang berasal dari Madura memang amat sadar kehidupan historis masa lampau. Perpindahan mereka ke Bondowoso atas dukungan Adipati Cokronagoro Bupati Sumenep dan Adipati Cakraningrat Bupati Pamekasan.

Biaya perjalanan ditanggung oleh Raden Ajeng Sukaptinah atau Kanjeng Ratu Kencono Wungu. Beliau permaisuri raja Surakarta Hadiningrat. Raden Ajeng Sukaptinah terkenal sebagai istri raja yang kaya raya. Beliau punya usaha kerajinan perak Kotagedhe, mebel Jepara, batu marmer Tulungagung. Raden Ajeng Sukaptinah juga komisaris pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Pada tahun 1837 warga Bondowoso dipimpin Demang Puspodriyo datang di daerah Sukodono Tahunan Jepara.

Atas perintah Bupati Kertokusumo mereka belajar seni ukir-ukiran. Diharapkan mereka memiliki ketrampilan dalam bidang pertukangan. Pada tahun 1838 Demang Jalitirto memimpin warga Bondowoso datang ke desa Candi Ampel Boyolali.

Mereka belajar tentang manajemen perkebunan teh. Di sana juga dilengkapi dengan vila penginapan, yaitu Pesanggrahan Madusita.

Tahun 1839 Demang Wirotaruno memimpin tim Bondowoso di daerah Kembang Semarang. Mereka belajar tata niaga dan manajemen kopi. Tahun 1840 Demang Jatitaruno datang di daerah Beulangan Wonosari Klaten.

Bersama rombongan mereka belajar tentang pembuatan genteng, bul, genthong, kuwali, maron, kendhi, jun, jambangan. Semua industri itu di bawah binaan Kraton Surakarta Hadiningrat. Biaya konsumsi, transportasi dan akomodasi dibantu oleh Sinuwun Paku Buwono VII.

Nyai Melas diberi tugas oleh Bupati Wirodipuro pada tahun 1852. Nyai Melas dan rombongan belajar industri batik di Laweyan.

Ibu-ibu Bondowoso diharap dapat mengembangkan industri batik sebagai tambahan ketrampilan keluarga. Program ibu-ibu ini sungguh berguna buat mewujudkan keluarga sejahtera.

Tim Adipati Wondrakusumo pada tahun 1883 berkunjung ke Kudus. Mereka belajar mengembangkan kawasan industri yang ramah lingkungan. Daerah Kudus sejak dulu berhasil membuka lapangan usaha yang beragam.

Industri berkembang pesat, maju dan menguntungkan. Para pemuda dilibatkan dalam studi banding. Generasi muda memang harus dididik, dibina, diarahkan. Kelak mereka menjadi pemimpin di Kabupaten Bondowoso.

Raja Surakarta Sinuwun Paku Buwono X pada tanggal 1 Oktober 1897 datang di Bondowoso. Beliau kerap berkunjung ke Alas Purwo Blambangan untuk bermeditasi.

Kali ini Sinuwun Paku Buwono X meresmikan pembangunan rel dan stasiun kereta api Bondowoso. Adipati Kertosubroto berhari-hari melakukan upacara penyambutan. Panitia bekerja maksimal. Seksi konsumsi diserahkan pada warga dari daerah Binakal, Botolinggo, Cermee, Curahdami. Seksi keamanan diserahkan kepada warga dari daerah Gorejegan, Jambesari, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan. Seksi perlengkapan diserahkan kepada warga dari daerah Sumberwrungin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen. Seksi transportasi diserahkan kepada warga dari daerah Tegalampel, Tenggarang, Tlogosari, Wringin, Wonosari. Seluruh rakyat Bondowoso suka gembira.

Angkutan kereta api membuat warga Bondowoso lancar. Mobilitas mereka gampang dilakukan. Barang dan jasa berjalan cepat, aman, nyaman. Kereta api terhubung ke seluruh jaringan kereta api di Tanah Jawa. Kabupaten Bondowoso semakin maju aman sejahtera.

Dalam bidang kuliner kabupaten Bondowoso punya makanan khas suwar suwir, tape manis, bakso galung, surma, nasi mamong, rujak gobet. Dalam bidang kesenian tampil seni Singo Ulung, Ronteg Singo Ulung di Blimbing Tapen, Topeng Nona, Ojongan, Kentrong, Wayang Kattok.

Dalam bidang tata busana dengan gaya tradisional dikenal busana Kacong Jebbing dan pakaian pengantin Ronggo Sukmo.

Masa mendatang bidang seni budaya ini akan dikembangkan terus. Kabupaten Bondowoso semakin kondang kaloka, luhur misuwur, menyebar kawentar, arum kuncara. Rakyat Bondowoso makmur lahir batin, murah sandang pangan papan.

Wisata Kutha

Kutha Bondowoso mas misuwur tapene,

Cak cak Surabaya ja lali rujak cingure,

Timbang bali nglenthung wingka Babad luwung,

Mojokerto jipang wedang angsle asli Malang,

Njajah desa milang kori nggoleki condhonging ati,

Brem kutha Mediun kripik Trenggalek tamba gumun,

Kediri tahu takwane yen Nganjuk kondhang angine.

Kutha Ponorogo mas, misuwur reoge

Cak-cak Surabaya jo lali mbarek ludruke

Empun kesusu kondur mirsanana sandur

Wayang topeng dhalang saking Madura sampun kondhang

Njajah desa milang kori nggoleki condhonge ati

E, seni gambus misri Jombang gandrung Banyuwangi

Pandaan sendra tarine yen Nganjuk kondhang kledheke

Suwar suwir jajan dari Bondowoso memang ngangeni. Tiap-tiap kota mempunyai jenis masakan yang khas dan enak. Wisata kuliner ini dapat meningkatkan pendapatan asli daerah. Wisatawan semakin krasan bila disuguhi seni budaya tradisional.

Jalan jalan di Kabupaten Bondowoso tentu bikin hati senang. Jawa Timur gudangnya kuliner dan seni budaya. Mari kita mencicipi masakan daerah ditanggung nyamleng. Bondowoso hadir dengan suasana ramah tamah.

(LM-01)

BAGIKAN KE :