Magelang menjadi daerah perdikan, menjadi istimewa saat Sinuwun Paku Buwono memimpin Kraton Mataram Kartasura. Magelang diberi nama Kebon dalem yang membentang dari Potrobangsan hingga Banyumas. Tanaman kopi, buah-buahan, teh tumbuh subur. Sayur mayur beraneka ragam jenisnya. Semua memberi kemakmuran negeri.
C. Lingkungan Budaya Candi Borobudur.
Lingkungan kebudayaan di sekitar Candi Borobudur didukung oleh para aktifis seni budaya yang trampil dan kreatif. Mereka bekerja dengan menggunakan kejernihan hati, konsep modernitas dan refleksi historis filosofis. Hasilnya cukup membanggakan dan mengagungkan bagi warga dunia.
Status Magelang menjadi daerah administrasi pemerin-tahan terjadi pada tahun 1818. Beliau diangkat oleh Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta. Pimpinan daerah adalah Mas Ngabehi Danukromo dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Danuningrat. Sebagai kota tua, hari jadi Magelang ditetapkan pada tanggal 11 April 907 Masehi. Sistem pemerintahan saat itu dipimpin oleh Raja Balitung, yang disebut dalam Prasasti Mantyasih. Kabupaten Magelang digambarkan sebagai negeri yang unggul, agung, makmur, aman damai.
Pimpinan wilayah yang turut serta mengelola candi Borobudur tampil memukau. Candi borobudur dirawat dan dijaga bahkan Candi Borobudur menjadi akses wisata yang tenar dalam destinasi wisata internasional.
1. Tumenggung Danuningrat I, 1812-1826. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.
2. Tumenggung Danuningrat II, 1826-1862. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VI, raja Surakarta Hadiningrat.
3. Tumenggung Danuningrat III, 1862-1878. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
4. Tumenggung Danukusumo, 1878-1908. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
5. Tumenggung Danusugondo, 1908-1939. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
6. RAA Sastrodiprojo, 1939-1945. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja Surakarta Hadiningrat.
7. RAA Said Prawirosastro, 1945-1946. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
8. R Yudodibroto, 1946-1954. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
9. MG Arwoko, 1954-1957. Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soekarno.
10. Sugeng Sumodilogo, 1957-1960. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
11. Drs. Adnan Widodo, 1960-1967. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
12. Drs. Ahmad, 1967-1979. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
13. drh. Supardi, 1979-1983. Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soeharto.
14. Drs. Sulistiyo, 1983-1984. Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soeharto.
15. Muhammad Solichin, 1984-1994. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
16. Kol. Kardi, 1994-1999. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
17. Drs. Hasyim Affandi, 1999-2004. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.
18. Ir. Singgih Sanyoto, 2004-2014. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati.
19. Zaenal Arifin, 2014-sekarang. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.
Alam sekitar candi Boro budur memberi kenyamanan, ketenangan dan keindahan. sesuai dengan ajaran Budha yang menawarkan kontemplasi, maka masyakarat kerap melakukan renungan mengenai kehidupan.
Kadang-kadang meerka melakukan kegiatan refleksi spiritual di gunung Merbabu, gnung Merapi, gunung Telamaya, gunung Kendalisasda, ungaran, menoreh, sindoro dan sumbing.
1. Gunung Merbabu
Di antara kaki Gunung Merbabu dan kaki Gunung Merapi yang berdiri berjajar. Ada gunung kecil yang disebut dukuh Candi.
Jalannya menanjak hingga tiba di puncak. Di situ mereka melihat kuburan tanpa cungkup, hanya diteduhi pohon cempaka. Kuning putih bunganya bertaburan semerbak harum mewangi. Kuburan itu bercahaya menyinari alam sekitar. Menurut cerita orang-orang tua, itu makam raja Majapahit, Sang Prabu Brawijaya III.
Di sebelah utara, terlihat air Rawa Pening luas, di tengah telaga terlihat pulau mengapung menurut tiupan angin, ke timur, barat, ke tengah ke utara serta ke selatan. Tidak ada tumbuh po-hon kayu yang besar. Yang terlihat hanyalah rumput katang yang berwarna hijau menarik hati.
2. Gunung Telamaya.
Jaka Tingkir pernah bertapa di Gunung Telamaya, ber-mimpi kejatuhan bulan, bersamaan dengan bergetarnya gunung, bergemuruh suaranya sehingga aku kaget.
Mimpi itu sangat baik, itulah raja mimpi. Ki Ageng Sela menyuruhnya untuk mengabdi pada Kanjeng Sultan Demak, disitulah tabir mimpi akan terkuak. Ki Ageng Sela meminta agar keturunannya besok diperbolehkan meneruskan wahyu.
Jaka Tingkir kemudian pergi ke Demak. Saat itu yang memerintah negara Demak adalah Putra Raden Trenggana, bernama Kanjeng Kanjeng Sultan Jimbun Pameksa. Jaka Tingkir telah lama mengabdi disana, dikasihi oleh raja serta diserahi tugas sebagai lurah tamtama.
Jaka Tingkir diambil sebagi anak oleh raja serta diperbolehkan masuk istana.
Raja berkehendak menambah perwira tamtama, tapi ha-rus melalui pendadaran dengan menempeleng kepala kerbau hingga remuk. Ada seorang dari Kedu Pingit, bernama Dadung-awuk. Wajahnya kaku, jelek dan dia sering menyombongkan kesaktiannya.
Dia hendak mengabdi ke Demak sebagai tamtama. Dia sudah melapor kepada lurah Tamtama. Dadungawuk ditanya, apakah dia sangup dicoba untuk ditusuk. Dia menyanggupinya.
Jaka Tingkir mendekatinya serta memasukkan sadak di dada Dadungawuk dada pecah dan mati.
Perwira tamtama yang ada di depan diperintahkan menusuknya dengan keris. Mayat Dadung-awuk luka berat disekujur tubuhnya. Hal itu didengar oleh raja. Beliau marah sekali. Jaka Tingkir diusir dari negara Demak. Jaka Tingkir sangat kecewa mengingat kelakuaNnya sendiri. Di Gunung Kendeng, Jaka Tingkir bertemu dengan Ki Ageng Butuh.
3. Gunung Sundara.
Di kaki Gunung Sundara terlihat desa yang indah angge-nang besar berderet, ada seorang namanya Ki Syekh Suksma Sidik. Beliau hanya mempunyai delapan orang murid yang menjaganya. Pendeta yang tidak kawin tersebut mempunyai seorang putra yang diketemukan di puncak gunung. Tidak jelas putra siapa, diketemukan ketika masih kecil. Hampir seperti anak tiban, karena sang pendeta ingin sekali mempunyai anak.
Sang pertapa sangat menyayanginya, ia dimanja sesuai dengan kebia-saan orang gunung. Oleh ayahnya diberi nama Rara Pamegatsih. Gadis tersebut sangat gemar beribadah. Siang malam diajari ayahnya, karena ia tidak memikirkan kawin. Ia sangat berminat menekuni ilmu. Raut mukanya angkuh menakutkan. Ia membanggakan kaya ilmu. Dahulu sudah banyak lurah desa yang jatuh cinta mendengar berita tentang gadis tersebut.
Dia tidak minta kekayaan, hanya mengajak berbantah ilmu gaib. Sekalipun yang datang para santri besar, tidak ada yang mampu mengalahkan ilmu sang jelita. Mereka mundur mencari dhuyung, sumbaga, dan dhesti cara-cara untuk kejahatan. Banyak yang berupaya muslihat, tetapi tidak berhasil. Sang jelita tidak berbalas kasih.
Di kaki timur laut Gunung Sundara ada Desa Andong Tinunu. Masjidnya tampak anggun, indah dikelilingi air, kolam besar disisinya, dikelilingi bunga tunjung merah, putih, biru, irim-irim, bunga terartai lagi mekar, ganggang laut, dan ganggang hijau. Masjidnya bertepi batu, batu sendinya berukir, pagar dari anyaman bambu kapur, pintu berukir. Mahkota masjid serasi, dan baru saja diberi atap baru, hijau warnanya.
Dua buah rumah mungil berjajar, pendapanya dekat dengan rumah dan hanya diberi anatara talang. Halamannya tampak bersih, pagar kelilingi tumbuhan wulan dan kelapa gading bertemu mengelilingi halaman, pohon pinang harum lagi besar. Diantara pohon kelapa ditanami sawo, manggis, duku, langsap, mangga, pakel, jambu dan kuweni; semua sedang berbuah. Masjid ada disebelah barat pendapa.
Bunga-bunga besar, tiada lain tanamannya hanya bunga-bungaan. Semua bertepi putih, lengkap, indah warnanya. Bunga-bunga sedang mekar semua, bercampur semerbak bau harum bunga pandhansari. Tepi kolam besar ditanami pandan dengan akarnya yang merumbai.
Di dalamnya dipelihara berbagai jenis ikan: tambra, lukas, mangut; pada waktu asar diberi makan lagi pula makanannya semua cocok. Air berkilauan dan jernih. Air turun dari gunung, dialirkan melalui talang, mengalir ke desa.
4. Gunung Tidar.
Dari kaki Gunung Tidar Magelang terlihat desa kecil indah di puncak gunung. Dikisahkan, di puncak gunung yang luar biasa ada pertapa bernama Syekh Wakidiyat.
Ada endang empat orang cantik-cantik hampir kembar rupanya. Pertama bernama Endang Kismani, kedua Endang Brahmani, ketiga Endang Aniladi dan keempat Endang Jahnawi. Wajahnya sama cantiknya, sederhana menarik hati, berdandan menurut tata krama. Andaikata bunga indah belum menyebarkan bau harumnya, madunya belum terhisap.
Tempat sang pendeta duduk di balai kembang, airnya jernih mengitarinya, ditepinya ditumbuhi bunga-bungaan yang sedang berbunga semerbak harum. Padepokan tersebut disebut Gunung Tidar, pusat tanah Jawa. Dari pucak Candi Borobudur, gunung Tidar jelas terlihat indah bersinar terang.
Deretan pegunungan disekeliling candi Borobudur tersebut kerap dijadikan sebagai tepat uttuk kegiatan spiritual. Masyarakat kejawen senang berefleksi dengan lara lapa tapa brata. Dengan tujuan mendapatkan jiwa yang tenteram aman damai.
(LM-01)
