Namun demikian, Kotagedhe tetap dianggap sebagai pepundhen oleh para Pangageng Mataram. Tiap bulan ruwah utusan keraton Surakarta dan Yogyakarta marak sowan ing Kotagedhe. Mengapa? Karena the founding fathers Mataram kang wus surut ing kasedan jati, sumare ing Puroloyo Kotagedhe.
Pengembangan masakan gudeg dari waktu ke waktu semakin menunjukkan hasil yang memuaskan. Kanjeng Ratu Banowati adalah mantu Kanjeng Ratu Waskitha Jawi. Ibu mertua dan mantu ini sama-sama ahli kuliner. Gudeg Mataraman dikembangkan dengan kemasan yang lebih elok.
C. Industri Kreatif Kuliner Tradisional
Yogyakarta sebagai destinasi wisata nasional telah lama menyajikan aneka ragam jajanan tradisional. Kegiatan ini memicu semaraknya industri kreatif. Pariwisata didukung dengan hadirnya ragam makanan yang bernilai komoditas.
Makanan gudeg menjadi suguhan istimewa saat upacara penandatanganan Perjanjian Giyanti. Para diplomat Surakarta dan Yogyakarta merasa cocog dengan suguhan merakyat ini. Ternyata gudegmemperlancar jalan diplomasi kenegaraan.
Perjanjian Giyanti ditanda tangani di desa Giyantiharjo Karanganyar Jawa Tengah pada tanggal 13 Pebruari 1755. Terjadi pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono lll yang memerintah tahun 1749 sampai 1788.. Beliau mendapat julukan Sinuwun Suwarga. Artinya raja yang ikhlas lahir batin. Pelopor perdamaian di tanah Jawa.
Tidak cuma itu, Sinuwun Paku Buwono lll pada tanggal 17 Maret 1757 menanda tangani perjanjian Salatiga.
Perjanjian Giyanti mengesankan Pangeran Mangkubumi menjadi raja Yogyakarta dengan gelar Sultan hamengku Buwono l.
Perjanjian Salatiga meresmikan Raden Mas Said berkuasa dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya mangkunegara l. Semua itu terjadi atas kemurahan hati Kanjeng Sinuwun Paku Buwono lll. Beliau raja besar yang ahli sejarah, teater, sosiologi, sastra budaya. Semasa mudanya bernama Gusti Raden Mas Suryadi kerap berperan sebagai sutradara teater keliling.
Karya Sinuwun Paku buwono lll yang terkenal adalah Serat Wiwaha Jarwa. Dalam seni pedalangan digubah menjadi lakon Begawan Mintaraga. Sebagian menyebut cerita Begawan Ciptowening.
Pada tahun 1966 RS Subalinata dari Fakultas Sastra UGM meneliti Reriptan Sinuwun Paku Buwono lll dalam bentuk skripsi. Dr Kuntara Wiryamartana pada tahun 1987 membahas karya Paku Buwono lll dalam disertasi yang diterbitkan menjadi buku oleh Duta Wacana University Press. Disertasi itu diajukan di hadapan wibawa Senat UGM dengan promotor utama Prof Dr A Teuuw dari Universitas Leiden.
Sebelum tanda tangan soal kenegaraan, Sinuwun Paku Buwono lll selalu sowan ke Puroloyo Kotagedhe. Minta lilah dan petunjuk pada leluhur Mataram. Beliau juga mahas ing ngasepi di gunung Lawu, tempat muksanya Prabu Brawijaya V.
Tiap bulan ruwah tak lupa siram jamas di Umbul Ngabehan Pengging. Sekali tempo melakukan tapa kungkum di kahyangan Dlepih Tirtamaya Wonogiri. Kadang kadang lek lekan, cegah dhahar lawan guling di Gunung Danaraja. Untuk kontemplasi beliau memilih tempat ing tepis wiringing gisik Bekah.
Menurut isi perjanjian Giyanti, wilayah Kotagedhe, Imogiri dan Ngawen milik sepenuhnya Karaton Surakarta Hadiningrat. Kotagedhe, Imogiri Ngawen dijadikan wilayah setingkat Kabupaten. Pimpinan yang mengelola ketiga wilayah ini mendapat status Bupati.
Mereka bertugas atas perintah dan bertanggung jawab kepada Karaton Surakarta Hadiningrat. Alangkah indahnya bila hubungan kultural itu tetap dilestarikan sampai sekarang, demi menggali kearifan lokal. Kata Bung Karno, jasmerah jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Wawasan kebangsaan bisa dianyam dengan pelestarian budaya.
Masjid agung Kotagedhe dibangun oleh Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta yang memerintahkan tahun 1893 sampai 1939. Beliau raja kaya raya. Punya saham di perusahaan pabrik gula sebanyak 176 buah.
Perkebunan teh di Ampel Boyolali, perkebunan tembakau di Tegalgondo Klaten dan perkebunan kopi di Kembang Semarang. Kejayaan dan kemakmuran digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Masjid Kotagedhe sebagai benda cagar alam dibangun megah mewah tahun 1926.
Puroloyo Kotagedhe tempat sumare Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Martani, Panembahan Senapati dan Prabu Hadi Hanyakrawati.
Puroloyo Mataram ini dibangun dengan begitu agung dan anggun.
Upacara nyadran dilaksanakan setiap bulan ruwah oleh Karaton Surakarta Hadiningrat dengan segala kesungguhan. Ini wujud mikul dhuwur mendhem jero. Segenap abdi dalem Kotagedhe dan Imogiri sowan ke Karaton Surakarta Hadiningrat tiap ada acara tingalan jumenengan dalem dan upacara Grebeg Mulud.
Untuk kepengurusan Masjid Kotagedhe diserahkan pada takmir secara otonom. Tapi semua biaya disediakan oleh Karaton Surakarta Hadiningrat. Umumnya takmir masjid Agung Kotagedhe pernah mengenyam pendidikan agama Islam di Mambaul Ulum. Letak kantornya di kompleks Masjid agung Karaton Surakarta Hadiningrat. Kegiatan belajar mengajar di Mambaul Ulum menempati beberapa lokasi yang menyebar sampai kawasan Sri Wedari.
Takmir Masjid di Pajimatan Imogiri dan Puroloyo Kotagedhe sejak masa pemerintahan Patih Sosrodiningrat selalu dibekali pendidikan yang cukup. Mambaul Ulum adalah lembaga pendidikan tinggi Islam yang dikelola dengan kurikulum modern.
Alumni pendidikan Mambaul Ulum misalnya Prof Dr HM Rasyidi Atmosudigdo, Prof Dr Mukti Ali dan Munawir Zadzali MA, pernah menjabat Menteri Agama RI. Tokoh Kotagedhe alumni Mambaul Ulum yaitu Zubair Muhsin yang aktif dalam bidang sosial keagamaan. Pahlawan nasional Prof Dr Abdul Kahar Muzakkir adalah alumni Mambaul ulum Surakarta yang melanjutkan belajar di Perancis, Mesir dan Nederland. Mambaul Ulum telah memberi pencerahan pada putra bangsa.
Patih Sasradiningrat sebagai Perdana Menteri Karaton Surakarta Hadiningrat amat peduli pada pergerakan islam. Bahkan beliau juga menjabat ketua PDM Muhamadyah Surakarta. Bersama dengan KGPH Hangabehi turut membantu organisasi Budi Utomo dan Sarikat Islam.
Pada tahun 1945 Drs Sasradiningrat juga, alumni Universitas Leiden menjadi anggota BPUPKI. Utusan Karaton Surakarta Hadiningrat dalam BPUPKI lainnya yaitu Dr Radjiman Wedyadiningrat, KGPH Surya Hamijaya, RMAA Drs Wuryaningrat, RP Singgih. Presiden Soekarno diberi kursus oleh Drs RMAA Sasradiningrat tentang sistem protokol kenegaraan.
Karaton Mataram memberi warisan kultural. Sejarah sebagai piranti kaca benggala untuk membaca owah gingsire jaman.
Hubungan historis Karaton Surakarta Hadiningrat dengan Kotagedhe sampai sekarang tetap semangat dan hangat. Daerah Laweyan Solo, Kotagedhe dan Pekajangan Pekalongan adalah contoh koneksi historis dan bisnis. Jaringan ini bisa digunakan untuk merajut nilai kebangsaan. Generasi muda perlu belajar sejarah peradaban masa lampau.
Kedudukan Kotagedhe mendapat perhatian khusus dari kalangan akademis. Prof Dr Notonagoro adalah guru besar dan ahli filsafat Pancasila UGM. Beliau merup menantu Sinuwun Paku Buwono X. Saat sembahyang di Masjid Kotagedhe, beliau selalu berdoa untuk para pendiri Mataram.
Dalam kehidupan sehari hari Prof Dr Notonagoro menghayati kebudayaan leluhur dengan sepenuh hati. Tahun 1983 wafat dan dimakamkan di pajimatan Imogiri. Satu kompleks dengan makam raja Surakarta. Kesadaran kultural ini dilanjutkan oleh murid muridnya yang mendapat nama sesebutan dari Karaton Surakarta dengan pangkat Bupati Riya Inggil.
Kotagedhe memang telah menjadi monumen sejarah kebesaran Karaton Mataram. Sungguh besar jasa Panembahan Senapati yang dibantu oleh Kanjeng Ratu Waskitha Jawi.
Putri Penjawi dari bumi Pati adalah wanita sembada wiratama. Prameswari Mataram yang tampil sebagai mustikane putri, tetunggule widodari. Mereka wanita wani mranata.
Gudeg Yogya
Kutha Yogyakarta mas wis kondhang gudhege
Kanca geplak Bantul gathot thiwul Gunungkidul
Pancen enak tenan salak pondoh Sleman
Dolan menyang Wates mundhut gebleg sarwa pantes
Njajah desa milang kori nggoleki condhonging ati
Pasar Godean kripik welut pinggir ndalan
Kaliurang jadah tempene yen mathuk bakpia Pathuk
Lagu Gudeg Yogya itu menyemarakkan promosi wisata nasional. Dijelaskan pula ragam makanan tradisional yang melipuati daerah Bantul, Gunungkidul, Sleman dan Wates. Geplak Bantul cocok buat oleh-oleh bagi para wisatawan. Jajanan ini terbuat dari bahan baku kelapa yang diolah dengan ketrampilan lokal.
Makanan ini rasanya enak, gurih dan manis. Kalau digunakan untuk oleh-oleh, ditanggung dapat tahan lama. Dengan membeli jajan geplak berarti turut serta dalam meningkatkan derajat ekonomi rakyat.
Gudeg Yogya memberi kontribusi pada kesejahteraan warga. Program wisata nasional berjalan lancar dengan hadirnya makanan khas tradisional.
Pengembangan ekonomi kreatif bisa dilakukan lewat jajanan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kesejahteraan rakyat perlu ditingkatkan dengan hadirnya kuliner tradisional pedesaan.
(LM-01)
