Sejarah Alas Ketonggo Tempat Semedi Panembahan Senapati

Oleh: Dr. Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, Hp: 0878 6440 4347)

A. Daya Magis Alas Ketonggo

Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram pada tahun 1582. Berdirinya kerajaan Mataram atas anugrah Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Ki Ageng Pemanahan diberi hadiah alas Mentaok sebagai cikal bakal kraton Mataram. Panembahan Senapati atau Danang Sutawijaya terlebih dulu melakukna lara lapa tapa brata.

Alas Ketonggo dijadikan Panembahan Senapati untuk melakukan meditasi spiritual. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Saat melakukan tatacara lelaku ini, Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati mendapat wahyu keprabon. Cahaya ndaru cumlorot manjing dalam diri pribadi. Pada kesempatan ini Panembahan Senapati mendapat tiga wahyu sekaligus yaitu pendita, raja dan tentara.

Tatacara semedi yang dilakukan oleh Panembahan Senapati mendapat anugerah berlimpah ruah. Dari tenaga gaib dirinya menjadi jalma limpat seprapat tamat. Alas Ketonggo ini berada di daerah Ngawi. Tepatnya di sebelah barat Kota Ngawi yang berupa dengan jajaran hutan jati. Di sini juga mengalir Kali Ketonggo yang merupakan anak sungai Bengawan Madiun.

Kawasan Alas Ketonggo terdapat tugu manik kencono. Sebagian orang menyebut dengan istilah Tugu Manik Kumolo. Pada malam hari, ndaru-ndaru beraneka warna pating cumlorot dari segala jurusan. Tugu manik kencono menjadi tempat untuk manekung bagi Panembahan Senapati. Wujud tugu manik kencono ini berupa sebuah watu linggang yang berwarna putih.

Dengan demikian Alas Ketonggo memiliki nilai sejarah yang penting bagi proses berdirinya kerajaan Mataram. Perkembangan selanjutnya banyak warga Ngawi yang menjadi orang penting pada masa Panembahan Senapati memerintah antara tahun 1582-1601. Bahkan pertemuan Panembahan Senapati dengan Retno Dumilah bertempat di Walikukun, Widodaren, Ngawi.

Kanjeng Ratu Retno Dumilah kelak menjadi garwa prameswari Panembahan Senapati raja Mataram. Wajar sekali apabila warga Ngawi menduduki posisi strategis di struktur birokrasi Mataram. Retno Dumilah adalah putri Pangeran Timur, Bupati Madiun. Beliau juga disebut dengan nama Pangeran Ranggajumena.

Nama kabupaten Ngawi mengandung makna filosofi yang tinggi. Kata Kawi berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Kawi. Arti kata Kawi yakni penyair, sastrawan, pengaran, pujangga, sarjana, winasis, cendekiawan, sesepuh, orang pintar, waskitha, wicaksana. Ngawi berarti usaha seseorang untuk menjadi kaum bijaksana atau waskitha ngerti sadurunge winarah.

Ngawi berasal dari kata Kawi. Penamaan Ngawi sesungguhnya anugerah dari Empu Tantular. Pada tanggal 7 Juli 1338 Empu Tantular berkunjung ke daerah Karangjati. Beliau mengantar raja Hayamwuruk yang sedang melakukan kunjungan kerja. Di Padepokan Karangjati Empu Tantular memberi sesorah tentang ngelmu kasampurnan. Beliau menerangkan kitab Sutasoma.

Dengan demikian kabupaten Ngawi memiliki sejarah yang besar. Kerajaan Majapahit dikenal sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Prabu Hayamwuruk memerintah kerajaan Majapahit tahun 1350 sampai 1386. Daerah Ngawi merasa mendapat pengayoman agung. Saat itu Majapahit memang gedhe obore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adoh kuncarane.

Kunjungan pembesar Majapahit dalam rangka reboisasi di kawasan gunung sewu. Pejabat Majapahit di sepanjang gunung Kendheng, gunung Sewu, gunung Pandan dan gunung Kenteng. Pegunungan ini penting dijaga karena berkaitan langsung dengan daerah aliran Bengawan Solo. Wilayah Ngawi termasuk daerah yang dibina oleh kerajaan Majapahit. penanaman kayu jati di sekitar Ngawi guna melestarikan sumber daya alam. Kedudukan Ngawi nantinya di bawah pembinaan Kasultanan Demak Bintara.

Pada tahun 1493 warga Widodaren banyak yang berguru kepada Ki Ageng Tarub di Grobogan. Mereka belajar adat pasang blek ketepe, tuwuhan dan tebu wulung. Untuk menghormati ajaran Ki Ageng Tarub mengajari tata cara malam midodareni. Kisah Dewi Nawangwulan amat populer di daerah Widodaren Ngawi.

Pahargyan manten bagi masyarakat Ngawi kerap dengan menampilkan tari Orek-orek. Sesungguhnya gerak tari ini merupakan hasil unsur warga Widodaren saat berguru kepada Ki Ageng Tarub. Gerakan tari Orek-orek sangat atraktif dinamis. Mirip dengan seni langen tayub. Tujuannya untuk mendatangkan kesuburan dan kemakmuran.

Wilayah Ngawi sejak tahun 1546 berada dalam pengaruh Kasultanan Pajang, Rajanya bernama Joko Tingkir atau Mas Karebet. Kelak bergelar Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Gurunya bernama Ki Ageng Butuh, Sragen. Orang Ngawi banyak yang berguru kepada Ki Ageng Butuh tentang kawruh sangkan paraning dumadi. Berbekal ilmu pengetahuan ini warga Ngawi sebagian ditarik untuk menjadi laskar prajurit kerajaan Pajang. Sebelum bertugas pada umumnya prajurit Pajang dari Ngawi ini terlebih dulu tapa kungkum di Kali Ketonggo.

Raja Mataram yang kerap di gunung Liliran yaitu Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral. Beliau memerintah kraton Mataram tahun 1677 – 1703. Prajurit Mataram yang mengawal raja juga melakukan ritual di makam Joko Budug. Para peziarah yakin bahwa panuwunan akan terkabul. Kukuse dupa kumelun, ngeningken tyas sang apekik. Hubungan batin dengan kerajaan Mataram sangat dekat.

Maklum sebagian warga Gendingan dan Mantingan dulu banyak yang menjadi murid Syekh Siti Jenar. Mereka belajar ilmu ngrogo sukmo, sehingga mereka menjadi jalma limpat sepraprat tamat. Syekh Siti Jenar mbabar kawruh manunggaling kawula Gusti, ilmu makrifat tingkat tinggi.

Perpindahan ibukota Mataram dari Kartasura ke Surakarta melibatkan orang Ngrambe. Pada tahun 1745 waga Ngrambe banyak yang tinggal di daerah Mojosongo Surakarta. Mereka ahli bangunan yang terbuat dari kayu jati. Tukang-tukang dari Ngrambe cukup hebat dan disegani di kalangan utama Kraton Surakarta Hadiningrat. Nanti banyak anak cucunya yang menjadi abdi dalem.

Ngawi resmi menjadi kabupaten otonom terjadi pada tanggal 31 Agustus 1830. Tumenggung Sumowidigdo dilantik menjadi Bupati Ngawi oleh Kanjeng Sinuwun Paku Buwono VII, raja karaton Surakarta Hadiningrat. Masyarakat Ngawi gembira ria. Kehidupan rakyat subur makmur, murah sandang pangan papan.

Kanjeng Sinuwun Paku Buwono IX membuka kebun Teh Jamus pada tahun 1866. Tempatnya di desa Girikerto Sine Ngawi. Hasil usaha ini untung berlimpah ruah. Penghasilan lebih dari cukup. Bidang ekonomi rakyat meningkat pesat. Kesenian berkembang maju. Gamelan, kerawitan, tembang, wayang tampil megah mewah. Rakyat Ngawi merasa beruntung dibina oleh Kraton Surakarta Hadiningrat.

Perhatian Kraton Surakarta lebih dari cukup. Tanggal 24 Mei 1884 stasiun Walikukun berdiri kokoh. Kereta api membuat warga menjadi mudah murah. Kabupaten Ngawi semakin sejahtera. Kemajuan ilmu pengetahuan juga diperhatikan. Kanjeng Adipati Purwodiprojo pada tahun 1881 mengundang ilmuwan dunia yang bernama E Dubois. Beliau ahli purbakala yang membuat musium Trinil. Nama Trinil Ngawi melambung di kancah ilmuwan internasional. Kabupaten Ngawi semakin arum kuncara ngejayeng jagad raya.

Keberadaan Alas Ketonggo sepanjang masa menjadi sarana untuk mahas ing asepi bagi kalangan Kejawen. Kawasan ini masih berurutan dengan tempat semedi yang berada di lereng Gunung Lawu. Masyarakat Jawa meyakini sebagai tempat Prabu Brawijaya V raja Majapahit memasuki alam kamuksan.

Terdapat beberapa sanggar pamulangan yang berada di kawasan Alas Ketonggo, yakni Punden Ageng Srigati, Watu Dhakon, Tugu Mas, Umbul Jambe, Siti Inggil, Tempur Sedalem, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji dan Kori Gapit. Alas Ketonggo ini beralamat di desa Babadan Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi Jawa Timur.

B. Tatacara Lelaku di Alas Ketonggo

Para pembesar kerajaan Mataram memang kerap melakukan lelana brata. Kegiatan laku batin ini bermula dari lereng Gunung Lawu kemudian dilanjutkan tapa brata di Alas Ketonggo. Tapa brata ini juga dilengkapi dengan laku tapa kungkum di Kali Ketonggo.

BAGIKAN KE :