Sejarah Kali Serang Untuk Tapa Ngeli Joko Tingkir

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara, LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Tapa Ngeli di Aliran Kali Serang.

Kali Serang berhulu di kaki Gunung Merbabu. Digunakan untuk tapa ngeli oleh Joko Tingkir sejak tahun 1536.

Mas Karebet atau Joko Tingkir menjalankan lelaku di kali Serang. Mulai dari Tengaran, Suruh, Susukan, Karanggede, Wonosegoro, Juwangi, Penawangan, Purwodadi. Berlanjut ke Kudus, Demak, Jepara.

Aliran Kali Serang sejauh 136 Km. Musim kemarau airnya kemricik. Musim hujan airnya gemrojok. Terakhir bermuara di pantai Kedung Malang, Kedung Jepang. Berbaur dengan perairan laut Jawa.

Sepanjang aliran Kali Serang terdapat anak sungai. Yakni Kali Lusi yang berasal dari Sulang, Rembang, Blora, Purwodadi dan Penawangan. Gabung pula air dari sungai mayong, lanang, lamping, geyer, braholo, brangkal, uter. Gabungan air tertumpah di aliran Kali Serang. Terkenal sejak Kraton Demak Bintara.

Pertapan Merbabu Sebagai Sarana Olah Rasa Joko Tingkir.

Olah rasa dilakukan Joko Tingkir di bawah kaki Gunung Merbabu. Kota Salatiga yang dinaungi gunung Merbabu menempati posisi yang strategis dalam perspektif geografis dan historis. Secara geografis kota Salatiga diapit oleh wilayah Surakarta dan Semarang. Dari perspektif historis kota Salatiga menjadi tempat diplomasi kenegaraan kraton Demak, Pajang dan Mataram.

Gagasan mendirikan Kraton Pajang dilakukan di pertapan Merbabu. Kraton Pajang yang berdiri pada tanggal 1 Juli 1546 juga bermula dari kota Salatiga. Daerah Tingkir Salatiga menjadi tempat penggemblengan bagi Joko Tingkir. Kelak menjadi raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Wilayah Salatiga dan sekitarnya dulu pernah diasuh oleh Ki Ageng Tingkir yang terkenal sebagai guru kebatinan yang peng pengan.

Menurut sejarahnya Ki Ageng Tingkir yang tinggal di kaki gunung Merbabu pernah berguru kepada Syekh Siti Jenar bersama dengan Ki Ageng Banyubiru dan Ki Ageng Butuh. Joko Tingkir ahli semedi sesuai dengan didikan guru Kejawen. Tak lupa agar melakukan tapa ngeli dan siram jamas.

Dalam lintasan sejarah Jawa ada nama Joko Tingkir, yang penuh dengan keteladanan, keutamaan, keluhuran, keagungan. Mas Karebet atau Joko Tingkir suka bersemedi di daerah Tengaran Kaki gunung Merbabu. Masyarakat Jawa yang tinggal di gunung agunung, gua agua, kutha akutha mengenal Joko Tingkir dengan penuh rasa kagum. Tembang megatruh memberi deskripsi yang agung dan anggun.

Lukisan saat Joko Tingkir menjalankan lelaku di Kali Serang. Terdapat dalam tembang megatruh yang amat terkenal.

Megatruh

Sigra milir sang gethek sinangga bajul,
kawan dasa kang njageni,
ing ngarsa miwah ing pungkur,
tanapi ing kanan kering,
sang gethek lampahnya alon.

Air Kali Serang mengalirkan kebijaksanaan hidup. Dalam tembang mijil ada wedharan untuk menjakani kebajikan.

Mijil.

Dedalane guna lawan sekti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur wekasane, tumungkula yen dipun dukani, bapang den simpangi, ana catur mungkur.

Ajaran tembang mijil itu diresapi benar oleh Joko Tingkir. Perjalanan hidup Joko Tingkir menarik dan herois. Berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Ki Ageng Sela memberi bekal ngelmu satataning panembah jati. Ki Ageng Banyubiru memberi wejangan kawruh kasampurnan. Sabar sebagai penguasa, syukur sebagai rakyat. Wulangan lahir batin demi diusahakan murih padhanging sasmita.

Basa ngelmu mupakate lan panemu. Mas Karebet atau Joko Tingkir dibimbing oleh Ki Ageng Butuh yang mengajarkan jroning urip ana urup, jroning urup ana urip kang sejati. Itulah puncak rasa jati, sari rasa jati, sarira sajati. Sari rasa tunggal, sarira satunggal, naga sari tunggal, nagara satunggal sebagaimana ungkapan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan kenegaraan yang sangat dihayati oleh pemimpin nusantara. Lila lan legawa kanggo mulyaning negara.

Sarjana winasis yang terdiri dari Ki Ageng Panjawi, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Martani, Ki Ageng Karanglo, Ki Ageng Pringapus, Ki Ageng Giring menjadi pe-nyokong utama Joko Tingkir. Berkat jiwa kebangsaan dan sifat kerakyatan pada tahun 1546 Joko Tingkir dinobatkan menjadi raja Kraton Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Di Salatiga ini Joko Tingkir dipersiapkan untuk menjadi pemimpin tanah Jawa.

Penelusuran jejak kehidupan Joko Tingkir yang menghirup hawa sejuk Merbabu perlu pula dibahas tentang sejarah Pengging. Pemimpin dari Pengging selalu melakukan ilmu laku. Misalnya tapa brata di Pesanggrahan Madusita Candi Ampel. Tapa kungkum di kali Serang Karanggedhe. Sesaji tunggak janggleng di alas Wonosego. Methik pari Gaga di Juwangi. Kegiatan upacara adat ini dilakukan oleh bangsawan Pengging. Mereka berprinsip Arab digarap Jawa digawa. Mrih katarta pakartinging ngelmu luhung. Kang tumrap neng tanah Jawa. Agama ageming aji.

Tanah Pengging tepatnya di kaki Gunung Merapi dan Merbabu. Sejak dulu kala kawasan ini termasuk gudangnya kreator peradaban. Pernah untuk menyimpan pusaka Nogososro Sabuk Inten. Pengging Banyudono salah satu kecamatan Boyolali. Daerah Pengging populer karena di sinilah Mas Karebet, Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya dilahirkan. Hawa segar gunung Merbabu membentuk pribadi yang paripurna.

Kadipaten Pengging menjadi sentral kebudayaan, yang menjadi penerus kebesaran Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak Bintara. Adipati Handayaningrat atau Ki Ageng Pengging sepuh adalah menantu Sinuwun Prabu Brawijaya, garwanya bergelar Kanjeng Ratu Pembayun yang melahirkan Ki Kebo Kanigara dan Ki Kebo Kenanga. Mereka gemar lara lapa di Gunung Merbabu.

Kelak Ki Kebo Kanigara menjadi pertapa di lereng gunung Merbabu, sedang Ki Kebo Kenanga menjadi murid Syekh Siti Jenar, seorang wali yang sakti mandra-guna. Komunitas peguron ini yang mempelopori ilmu manunggaling kawula gusti. Kalangan Kejawen menyebut dengan istilah ngelmu kasampurnan, ngelmu kasepuhan, kawruh begja, wikan sangkan paran, sangkan paraning dumadi, urip sejati dan satataning panembah.

Wulang wuruk Kejawen berkembang dari kawasan Pengging kaki gunung Merbabu kemudian menyebar ke seluruh pelosok tanah Jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan, dan pegunungan. Setelah Syekh Siti Jenar muksa, para muridnya mengembangkan paham Keja-wen. Mereka adalah Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Karanglo, Ki Ageng Pring Apus, Ki Ageng Penja-wi, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Enis dan Ki Ageng Pandhanarang. Para guru suci Tanah Jawa ini sudah putus ing reh sanis-kara, kebak ngelmu sipating kawruh.

Pemimpin besar lahir besar dan dididik di Pengging kaki gunung Merbabu. Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang, lahir di bumi Pengging. Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati raja Mata-ram juga lahir di Pengging. Raja dan Pujangga Jawa lahir di kawasan Pengging.

Tentang Kasultanan Pajang, Pengging menjadi sentral sejarah. Setelah Ki Ageng Pengging wafat, putranya yang bernama Mas Karebet kemudian diasuh Nyi Ageng Tingkir. Maka nantinya Mas Karebet disebut juga Joko Tingkir.

Para alumni padepokan Syekh Siti Jenar mengetahui bahwa wahyu keprabon menitis pada diri Joko Tingkir. Maka semua guru tersebut sama mengasuh dan mendidik Joko Tingkir sebagai layaknya putra seorang raja. Dimaklumi bersama bahwa Joko Tingkir sungguh trahing kusuma rembesing madu, ketu-runan langsung Prabu Brawijaya raja Majapahit.

Guru ya digugu ya ditiru. Hasil didikan para dwija sejati ini cukup mengagumkan. Joko Tingkir tumbuh menjadi pribadi yang mumpuni kualitas intelektual, sosial, mental, moral dan spiritual. Kanjeng Sultan Trenggono yang bertahta di Kasultanan Demak Bintara menjodohkan Joko Tingkir dengan Kanjeng Ratu Hemas Kambang atau Ratu Mas Cepaka. Pada periode selanjutnya Joko Tingkir diwisuda menjadi raja di Kasultanan Pajang Hadiningrat dengan gelar Sultan Hadiwijaya Hamid Amirul Mukminin Syah Alam Akbar. Joko Tingkir berkuasa tahun 1546-1582.

Kitab babad tanah Jawi yang disimpan Karaton Sura-karta Hadiningrat adalah data historis yang penting. Kita petik tembang Pangkur yang berasal dari cerita Babad Tanah Jawi, sebagai gambaran masa silam. Ini kisah Ratu Kalinyamat yang berkaitan dengan berdirinya Karaton Pajang. Atas restu Ratu Kalinyamat dan keluarga Kasultanan Demak Bintara, karir Joko Tingkir lancar.

Pangkur

Nimas Ratu Kalinyamat.
Tilar wisma amartapa neng wukir.
Tapa wuda sinjang rambut.
Ing Gunung Danaraja.
Apratignya tan arsa tapihan ingsun.
Yen tan antuk adiling Hyang.
Patine sedulur mami.

Joko Tingkir menduduki tahta Pajang atas dukungan Kanjeng Ratu Kalinyamat putri Sultan Demak. Pada jaman kerajaan Demak Bintara tampil seorang putri yang berbakat hebat namanya Kanjeng Ratu Kalinyamat. Beliau putri Sultan Trenggana Raja Demak Bintara. Kecakapannya teruji selama menjadi bupati Jepara tahun 1536 – 1559. Bupati pertama Kadipaten Jepara adalah Retna Kencana atau Nimas Ratu Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat menikah dengan Datuk Thoyib atau Datuk Pangeran Tengku Thoyib. Sultan Trenggana memberi gelar Tengku Thoyib dengan sebutan Pangeran Hadlirin. Pernikahan putri Jepara dengan bangsawan Samudra Pasai ini secara hakiki sebagai praktek wawasan Nusantara.

Pasangan luhur ini menjadi penentu kerier Joko Tingkir. Dari Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram. Rintisan untuk membangun tata praja yang teratur di kaki Gunung Merbabu.

Tiap mslam selasa kliwon, Joko Tingkir tetap melakukan tapa kungkum di Kali Serang. Tiap bulan Suro pasti menjalani tapa ngeli di sepanjang aliran Kali Serang. Joko Tingkir memang gentur tapane, mateng semedine.

B. Percikan Air Kehidupan dari Kali Serang.

Tirta perwita sari adalah air kehidupan yang mengandung kemuliaan. Dalam lakon Dewaruci, Arya Werkudara mendapat ngelmu kasampurnan.

Kali Serang dipercaya oleh segenap Trah Demak, Pajang, Mataram dan Surakarta mengalir kejernihan hidup. Maka dari hulu kali Serang digunakan sebagai tempat rapat kenegaraan.

Usulan penting terjadi dalam peristiwa historis. Pangeran Sambernyawa diajak Sinuwun Paku Buwana III rembugan di hulu Kali Serang. Tepat di kaki Gunung Merbabu. Raja Surakarta Hadiningrat yang memerintah sejak tahun 1749 membuat sejarah besar.

Kedua tokoh besar itu melakukan meditasi. Tapa brata di puncak gunung Merbabu. Lalu dilanjutkan tapa kungkum di Kali Serang. Beliau meniru tata cara Joko Tingkir. Lenggah saluku tunggal, amepet babahan hawa sanga, sajuga kang sinidhikara.

Peristiwa historis terjadi di daerah lereng gunung Merbabu. Yakni
Perjanjian Salatiga sebagai Awal Berdirinya Pura Mangkunegaran. Anak cucu Joko Tingkir melakukan langkah pemekaran wilayah secara damai.

Perjanjian Salatiga dilakukan pada tanggal 17 Maret 1757 di wilayah Kalicacing Sidomukti Salatiga. Peristiwa historis ini merupakan tanda resmi berdirinya Pura Mangkunegaran. Berdirinya istana Mangkunegaran diresmikan langsung oleh Sinuwun Paku Buwono III. Sedangkan sebagai penguasanya adalah Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Kelak bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.

Masa pemerintahan Sri Mangkunegara I berlangsung tanggal 17 Maret 1757 – 28 Maret 1795. Pura Mangkunegaran berdiri atas dukungan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana III, raja karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1749 – 1788. Hubungan keduanya sangat harmonis. Bahkan terjalin dengan ikatan pernikahan.

Sri Mangkunegara I besanan dengan Sinuwun Paku Buwana III. Gusti Raden Mas Subadyo, kelak bergelar Sinu-wun Paku Buwana IV sempat diasuh oleh Sri Mangkunegara I. Berdirinya Pura Mangkunegaran menjadi tonggak penting dalam peradaban Jawa. Seni budaya tampil megah. Rakyat hidup makmur lahir batin.

Perlu kiranya ditelusuri bibit kawit asal usul Sri Mang-kunegara I. Keterangan atas Pangeran Sambernyawa penuh dengan keteladanan, keutamaan, keagungan. Tata krama Pangeran Sambernyawa pantas diteladani oleh sekalian generasi muda. Pada tanggal 17 Juli 1772 Sri Susuhunan Paku Buwana III memberi mandat penuh kepada Sri Mangkunegara I untuk membimbing putra putrinya. Amanat ini dijalankan dengan penuh ketulusan.

Pura Mangkunegaran didirikan oleh Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa pada tanggal 17 April 1757. Berdirinya Pura Mangkunegaran berdasarkan perjanjian Salatiga. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara I kasebut Kanjeng Gusti Samber Nyawa.

Punika Putranipun Kanjeng Pangeran Hario Mangkunegara ing Kartasura. Putradalem pambajeng Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Su-suhunan Prabu Hamangkurat Jawa ing nagari Kartasura. Wiosandalem: hing dinten malem Akat Legi wonten Karta-sura, 6 Ruwah tahun jimakir Windu Kuntara 1650, utawi 1725 Masei.

Hanyarengi mentas suruddalem Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Prabu Hamangkurat Jawa. Kraton Kartasura lowong. Kanjeng Gusti miyas lelana, sampun dados man-tri, asma RMNg. Suryokusumo. Kanthi rayidalem kekalih. Nalika semanten saweg yuswa 16 tahun. Nuju dinten malem Rebo Kliwon surya kaping 3 Rabingulawal tahun Jimakir Windu Sangara tahun 1666 utawi 1741 Masei.

Sinengkalan Wayang Wayangan rasaning Janma (Rasa retu Ngoyak jagad) Dhateng siti lenggahipun ing Ngawen. Atalak broto, kathah mitra ingkang manggihi, Ambebujuk balela. Hing warsa Alip 1667 utawi 1741 Masei. Hanunggil Sunan Kuning hambedhah Kraton Kartosuro. Hangsal pusaka wangkingan tuwin mendet Kyai Bedhudhak.

Anem wulan Sunan Kuning kajudhak linggar dhateng Randhulawang Mataram. Jejuluk Sunan Ginaib. Hing tahun 1668 Ehe, nusul Sunan Kuning wonten Randhulawang, angirit wadya sentana saking Nglaroh cacah 300. Katampen dados Senapati. Paparab Kanjeng Pangeran Prang Wadana. Sareng Sunan Kuning Kengser mangetan medhal nunggil Martopuro, hingkang paparab Pangeran Puger. Kanthi Kanjeng Pangeran Singasari. Kanjeng Pangeran kahaturan dados Tungguling jurid Makuwon ing Majarata. Lajeng peparap Pangeran Adi-pati Mangkunegara ing tahun Jumadilawal 1669 dipun lurugi saking Kartasura. Pamugarinipun KPH Mangkubumi. Wadya majarata kasoran.

Kanjeng Pangeran Adipati (RM Sahit) mingser dhateng Matesih. Damel barisan malih. Hanyarengi pindhahipun saking Kartasura dhateng Surakarta tahun 1670 utawi 1745 Masei. KGPAA Mangkunegara pindhah dhateng Panambangan tanah Nglaroh. Arsa jumeneng Nata jejuluk Kanjeng Sultan Hadiprakosa Lelana Jayamisesa. Sasampuning kundhang dha-teng wadya, sanalika dhamparipun kasamber gelap (bledhek). Kanjeng Gusti Persapa, sareng enget rumaos mboten kalilan jumeneng Nata. Tedhak turunku aja nganti linggih dhampar kaya ratu.

Dados wangsul asma Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara. Hing warsa Dal 1671 utawi 1744 Masei. KGPH Mangkubumi lolos saking praja, makuwon ing Sukowati. KGPAA Mangkunegara mentas kasoran jurit, kersa hangayom dhateng ingkang Paman ing Sukowati.

Lampahipun kampir dhateng ardi Sumakaton, kapanggih Ajar Adirasa Adisoro. Kahaturan tarakbrata wonten ardi Ngadeg. Kaleksanan tigang wulan. Kaparingan pusaka waos Kyai Dhudha, tuwin tambur Kyai Slamet. Tumunten mandhap sowan dhateng Sokawati. Katampen kadadosaken Senapati. Asma lestantun, tansah unggul yudanipun. Hing warsa Be 1678, Kanjeng Gusti pethal kaliyan KGPH Mangku-bumi.

Wiwit sami bedhamen kaliyan Perusahaan dunia, tuwin Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Paku Buwono kaping III. Kanjeng Gusti Mangkubumi lajeng jumeneng Sultan wonten Ngayogyakarta. Hing Warsa Jimakir 1682. Kanjeng Gusti Mangkunegara kundur njujug dalem Mangkuyudan. 4 Juma-dilakir tahun Jimakir Windu Sancaya tahun 1757 Masei. Sinengkalan: Mulat Sarira Hangrasa Wani. Saweneh babat nyangkalani: Panembahing Dipangga Angoyak Bumi.

Kajumenengaken Senapati dening hingkang rayi nak sedherek Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono III. Kaparingan 4000 karya. Sarta sesebutan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara I. Hanyarengi ing dinten Sabtu Legi 5 Jumadilawal Alip 1683 Mase 28 – 12 – 1757. Suruddalem ing dinten Senen Pon 11 Jumadilakir tahun Jimakir 1722 Windu Kuntara 1793 Masei. Jumenengdalem 40 tahun, dumugi yuswa 72 warsa.

Sumare wonten ardi Ngadeg. Sangkala Paksa lara pandhiteng rat. Nalika lelana kaliyan KGPH Mangkubumi kapundhut mantu. Dhaup kaliyan R.Aj. Inten, mios saking Prameswari. Peputra satunggal putri, lajeng seda. Saterusipun lajeng pegatan. Wonten ing Laroh Kanjeng Gusti mundhut ampil anakipun Kyai Nuriman. Kaparingan nama R.Ay. Kusumo Patahati. Tembenipun dado R.Ay. Mangkunegara. Ampil sedaya wonten 6. Putra-putri wonten 25. Ingkang seda I ingkang mboten peputra 3.

Putra-putridalem: BRAj Supiyah seda timur, KPH Prabuwijoyo, krama angsal GKR Alit. Putridalem Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Paku Buwono III, RAj Sombro krama angsal R.T. Yudonegoro Bupati Banyumas, RAj Temu krama angsal R.T. Suryonegoro, RAj Sri, dewasa ngarang ulu, RAj Semi krama angsal R.Ng. Wongsodirjo, RAj Semu krama angsal RMH. Suryodiprono, RM Slamet KPAA Purbonegoro ing Kediri krama angsal putridalem Sampeyandalem Hingkang Sinuhun PB III, mios saking KR Beruk.

RAj Condro angsal Bupati Tegal Reksonegoro, RMA Suryoditruno, RAj Srendhel, angsal Bupati Pathi R. Adip Mangkusumo, RAj Suliah, angsal R.T. Puspokusumo, KPH Sugondo, krama angsal putridalem PB III, KPA Suryomarjoyo, Bupati Wirosobo, KPA Suryokusumo, Bupati Pace, RAj Satiyah, angsal R.T. Surohadimenggolo, Bupati Ter-boyo Semarang.

RAj Sayekti, angsal R.T. Wiryonegoro Bupati Lasem, RAj Satiyani, krama angsal R.T. Purwonegoro. RAj Sagotri, krama angsal R. Adip Citrosomo Bupati Japara. RAj Sari, krama angsal K.P. Wijoyosatoto. BRM Saroso dewasa KPA Amijoyosaroso. BRM Sangkoyo dewasa KPA Suryokaskoyo, BRM Santoso dewasa KPA Hamijoyosantoso, BRM Sayogyo dewasa KPA Amijoyodimulyo, BRM Salogo dewasa KPA Suryodilogo.

Setelah Perjanjian Salatiga ditandatangani pada tang-gal 17 Maret 1757, maka secara resmi berdirilah Pura Mangkunegaran. Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa sebagi pendirinya menjadi adipati pertama kali dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I yang hebat.

Para adipati yang pernah memerintah di Pura Mangkunegaran yaitu: Mangkunegara I (1757 – 1795), Mangkunegara II (1795 – 1835), Mangkunegara III (1835 – 1852), Mangkunegara IV (1852 – 1880), Mangkunegara V (1880 – 1896), Mangkunegara VI (1896 – 1916), Mangkunegara VII (1916 – 1944), Mangkunegara VIII (1944 – 1981), Mangkunegara IX (1987 – Sekarang).

Kanjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I lahir tahun 1738 di Kartasura. Nama lainnya yaitu Raden Mas Said dan Pangeran Sambernyawa. Beliau putra ketiga Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura. Raden Mas Said sejak muda sudah tampak sifat kritis dan kecerdasannya. Pada usia 16 tahun beliau keluar dari istana karena tidak setuju dengan sistem yang ada. Ketika terjadi pemberontakan Sunan Kuning dan laskar Cina, RM Said bergabung melibatkan diri.

Pada usia 18 tahun Raden Mas Said diangkat menjadi panglima perang. Gelarnya Pangeran Prangwadana Pamot Besur. Pada tahun 1746 RM Said bergabung dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi. Beliau malah dijodohkan putri Pangeran Mangkubumi yang bernama Raden Ajeng Bruwok, Raden Ajeng Inten atau Kanjeng Ratu Bandara.

Pada tanggal 15 Jumadil Awal 1682 H atau 4 Desem-ber 1757 M diadakan perundingan di Kalicacing Salatiga sejak waktu itu Raden Mas Said diwisuda menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I yang bertahta di Pura Mangkunegaran. Hasil karya seni Mangkunegara I yaitu: Tari Bedhaya Anglirmendhung Senapaten, Bedhaya Dradamenta Senapaten, Bedhaya Sukapratama, Gendhing Udan Riris, Gendhing Udan Arum, Gendhing Kamput, Gendhing Mesem, Gendhing Carabalan Baswara, Seguran Tulisan Pegon.

Kesatuan prajurit yang telah dibangun oleh Mangkunegara I yaitu: Ladrang Mangungkung (prajurit putri), Jayengsastra, Bijigan Prajurit, Kepilih Prajurit, Tatramudita Prajurit, Margarudita, Taruastra, Mijen, Nurayu, Gulang gulang, Sarageni, Trunakrodha, Trunapedaka, Menakan, Tambakbaya, Tambakrata, Dasawani, Dasarambata, Prang-tandang, Gunasemita, Gunatalikrama, Dasamuka, Dasarati, Marangge, Nirbitan, Handaka Lawung, Handaka Watang, Kauman, Danuwirutama, Danuwirupaksa, Ciptaguna, Madyantama, Madyaprabata, Madyaprajangka, Kuthawiangun, Kurawinangun, Singakurda, Brajawenang, Maradada, Prawirasana, Prawirasekti, Samaputra.

Dari data kesatuan prajurit itu dapat dikatakan Mangkunegaran mempunyai sistem militer yang tangguh. KGPAA Mangkunegara I wafat tahun 1795. Makamnya di Gunung Adeg, Mangadeg, Karanganyar, Surakarta. Ajaran Mangkunegara I terkenal dengan sebutan Tri Dharma yaitu rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib angrungkebi, mulat sarira angrasa wani itu menghendaki adanya partisipasi aktif rakyat secara langsung dalam penyelenggaraan negara. Sikap elitisme dalam sebuah organisasi seharusnya dihindari oleh pemimpin.

Pergi memenuhi undangan Priyagung manca ke Salatiga, Sinuhun tidak berpakaian kebesaran dan hanya diiringi oleh Adipati Mangkupraja dengan beberapa orang bupati dan penewu serta mantri berjumlah 60 orang. Pembawa upacara 20 orang. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara diiringi oleh Tumenggung Kudanawarsa dan Kanjeng Panambangan sepunggawanya, semua berjumlah 42 orang. Pembawa upacara 16 orang.

Kanjeng Sultan diiringi oleh Oprup di Yogyakarta dan Patih Adipati Suryanagara, dengan pembawa upacara 28 orang yang bersenjata 100 orang dan yang bertombak 120 orang. Dari pihak Tentara investor di Semarang datang tuan Hareking anggota Dewan Penasehat Investor, membawa serdadu 600 orang, serdadu Makasar dan Bugis 400 orang dipimpin oleh 2 orang Mayor.

Sesudah bersalam salaman dan semua duduk di tempat tempat yang telah ditetapkan, berkata wakil Investor: ‘Kanjeng Sunan dan Kanjeng Sultan serta Kanjeng Pangeran Mangkunagara, saya minta datang di Salatiga untuk kerukunannya dalam hubungan persaudaraan dan agar semuanya dapat menerima keputusan yang akan kita tetapkan. Mulai sekarang, janganlah sampai ada perselisihan. Mulai saat sekarang tanah di kerajaan Jawa saya paroh. Kanjeng Sultan memiliki separohnya.’

Kanjeng Susuhunan menjelaskan: ‘Hendaknya bagian kamas Pangeran Adipati Mangkunagara diambil lebih dahulu, barulah tuan bagi.’ Kanjeng Sultan menyahut: ‘Tuan, bilamana sebelum diparoh, lebih dahulu diambil untuk anakmas Mangkunagara, itu berarti tidak ‘sigar semangka’ masing masing bagian sama. Bilamana anak¬mas Pangeran Adipati Mangku-nagara ikut ke Surakarta, anak Prabulah yang menyediakan jatahnya, dan demikian pula kalau ikut ke Yogyakarta, sayalah yang menjamin bagiannya.

Kanjeng Sunan dengan cepat menetapkan, bahwa untuk Pangeran Mangkunagara disediakan olehnya tanah seluas 1.000 karya. Atas pertanyaan wakil Investor, Pangeran Mangkunagara menjawab: ‘Kalau hanya diberi 1.000 karya, saya tidak mau. Boleh atau tidak, saya minta 10.000 karya, dan tanah yang sudah di tangara saya, hendaklah tetap milik saya.’

Kanjeng Sultan menyatakan: ‘Bila anakmas Mangkunagara ikut saya, saya setuju memberi 4.000 karya kepada-nya.’ Kanjeng Susuhunan tidak melepaskan Kanjeng Pangeran Mangkunagara ikut Kanjeng Sultan, sedang Kanjeng Pangeran Mangkunagara sendiri tetap minta agar tanah yang sudah di tangannya tetap menjadi miliknya. Karena satu sama lain ber-sitegang, maka wakil Investor mengambil keputusan: Kanjeng Pangeran Mangkunagara diberi jatah tanah 4.000 karya, dan tanah yang sudah ditangannya tetap menjadi haknya.

Kediaman Pangeran Mangkunagara ikut Kanjeng Sunan di Surakarta. Baik Kanjeng Sunan maupun Kanjeng Pa-ngeran Mangkunagara menerima baik ketetapan tuan Hareking, kemudian Kanjeng Pangeran Mangkunagara minta wewenang berpakaian seperti Kanjeng Susuhunan dan duduk berjajar dengan Ingkang Sinuwun.

Wakil tentara Investor Hareking dengan bijaksana memutuskan, menyetujui permintaan Kanjeng Pangeran Mangkunagara, tetapi dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Kanjeng Pangeran Mangkunagara tidak boleh duduk di atas dampar kursi kerajaan, (2) Tidak diperbolehkan membuat alun-alun, (3) Tidak boleh membuat Bale Witana atau Balai Penghadapan, dan (4) Tidak boleh me-mutuskan hukuman mati. Sesudah semuanya sarujuk, maka Nawala Perjanjian Salatiga ditanda-tangani oleh Kanjeng Su-suhunan, Kanjeng Sultan dan Kanjeng Pangeran Mangkunagara.

Selesai penandatanganan Perjanjian, 200 orang serdadu Investor memberi penghormatan dengan melepaskan tembakan bersama 3 kali, kemudian disusul tembakan meriam 21 kali. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 5 Jumadilawal, Alip 1683 Jawa atau 1757 Masehi. Keakraban Kanjeng Sinuhun dengan Kanjeng Pangeran Mangkunagara bersinambungan dengan putera Mangkunagara, Raden Mas Sura diambil menantu oleh Kanjeng Susuhunan, dinikahkan dengan puterinya, Kanjeng Ratu Alit.

Dari pernikahan itu lahir seo-rang putera yang diberi pangkat Pangeran dengan nama Prabuwijaya. Kemudian disebut Raden Mas Slamet dan diangkat sebagai putera Kanjeng Pangeran Mangkunagara dan kemudian diberi nama Pangeran Arya Prabu Prangwadana.

Kanjeng Sultan Yogyakarta kecewa terhadap Pangeran Adipati Mangkunagara yang berlindung kepada Susuhu-nan Surakarta. Dari airmukanya tampak bahwa Pangeran Adipati Mangkunagara tidak takut sowani kekecewaan Kanjeng Sultan, tetapi hal itu ditutupi dengan sikap yang berpura pura. Kanjeng Sultan utusan minta agar Pangeran Adipati Mangkunagara membawa garwanya, Kanjeng Ratu Bendara sowan ke Yogyakarta karena Kanjeng Sultan rindu kepadanya, tetapi panggilan itu sampai 3 kali tidak dihiraukan oleh sang Pangeran.

BAGIKAN KE :