Sejarah Alas Purwo Tempat Semedi Raja Airlangga

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA)

A. Alas Purwo sebagai Papan Nenuwun.

Bagi kalangan masyarakat Jawa, Alas Purwo dianggap sebagai tempat nenuwun. Tiap punya hajad mesti melakukan tata cara sesuai dengan paugeran yang sudah diwariskan turun tumurun.

Alas Purwo berada di Kabupaten Banyuwangi. Dari segi makna memang mengandung ajaran filosofis luhur. Banyuwangi Berarti Air yang Selalu Menaburkan Bau Harum Semerbak ke Segala Penjuru

Masyarakat sekitar alas Purwo ahli dalam olah sastra bahasa. Banyu artinya air. Wangi artinya harum. Ada istilah lain banyu, yaitu tirta, toya, her, udaka, ranu, tuban, har, sindu, sunda, sangkara, tita, sangaka, hap, warih.

Kata wangi disebut juga arum, amrik, mingeng, ngambar, wida. Banyuwangi mengandung arti air kehidupan atau tirta perwitasari yang membawa suasana harum semerbak. Masyarakat Banyuwangi selalu mantab dalam hal kepribadian, kokoh dalam hal jatidiri, riang gembira dalam segala suasana.

Wanginya percikan air berkaitan dengan ritual di alas Purwo. Danyang yang menguasai Alas Purwo bernama Kyai Balabatu. Segala mahluk halus di wilayah Blambangan Banyuwangi tunduk pada perintah Kyai Balabatu.

Nama harum Banyuwangi sudah terkenal sejak jaman kerajaan Bali dari Wangsa Marwadewa. Prabu Udayana pada tahun 1004 melakukan ritual kenegaraan di Alas Purwo. Pada tahun 1053 Raja Airlangga juga mahas ing ngasepi tapa brata di Alas Purwa. Beliau dianggap sebagai titisan Wisnu yang bertugas memelihara perdamaian dunia atau memayu hayuning bawana.

Alas Purwo Blambangan ini menjadi tempat Prabu Airlangga mendapat wahyu keprabon. Orang Banyuwangi menyebut sebagai wahyu Cakraningrat. Barang siapa mendapat wahyu Cakraningrat nak tumanak run tumurun anak cucunya berbakat anugerah drajat pangkat semat. Cahaya biru cumlorot masuk ke dalam tubuh Prabu Airlangga. Berarti dirinya kepanjingan wahyu.

Pada kenyataannya Prabu Airlangga mampu memimpin negeri Kahuripan dengan gemilang. Aparat negara berwibawa, hukum berjalan tegak adil, rakyat makmur, murah sandang pangan papan. Keturunan Prabu Airlangga lestari menjawa kuasa wibawa. Kerajaan Jenggala, Daha, Panjalu, Kediri adalah keturunan langsung Prabu Airlangga yang selalu melakukan tata semedi di Alas Purwa Banyuwangi. Prabu Kertanegara juga bertapa brata di Alas Purwa pada tahun 1264. Raja Singosari ini memang cinta seni budaya.

Atas restu Prabu Kertanegara ini para seniman Blambangan menciptakan tari Gandrung. Perpaduan umum budaya Bali, Madura dan Jawa. Gerakan lincah, tabuhan kendang kempul yang meriah, disajikan dengan busana indah. Penampilan tari Gandrung sungguh megah. Pada tahun 1265 tari Gandrung ditampilkan di pendopo kerajaan Singosari.

Perhatian Prabu Jayanegara raja Majapahit pun begitu besar pada wilayah Blambangan. Secara rutin pada bulan Suro Prabu Jayanegara mengadakan upacara ritual di Alas Purwo. Dengan dibantu abdi dalem Purwo Kinanthi Prabu Jayanegara pada tahun 1317 melakukan sesaji Raja Wedha. Upacara sesaji ini diikuti tokoh spiritual dari Gunung Agung Bali, Gunung Ijen, Gunung Raung, Gunung Argopuro, Gunung Bromo, Gunung Semeru dan Gunung Penanggungan.

Berturut-turut raja Majapahit berikutnya juga mengikuti jejak leluhur. Alas Purwo tetap dihormati sebagai kawasan sakral. Raden Wijaya pun tahun 1293 kepanjingan wahyu keprabon di Alas Purwa. Sudah sepantasnya para penerusnya tetap melestarikan budaya luhur itu. Prabu Tri Bhuana Tungga Dewi dan Prabu Hayamwuruk malah menata iringan tari Gandrung. Raja Majapahit pun pintar membawakan tari Gandrung. Setiap hari Respati Manis, diselenggarakan gladhen tari gagrag Blambangan.

Prabu Hayamwuruk memberi hadiah kain sutra buat penari Gandrung pada tahun 1358. Juga Prabu Brawijaya yang sakti mandraguna itu menjadikan tari Gandrung sebagai pusaka kerajaan Majapahit. Setiap selesai tingalan jumenengan kraton Majapahit, tari Gandrung dipentaskan di Sasana Handrawina.

Penguasa Blambangan Prabu Tawang Alun yang berkuasa tahun 1536 – 1580 juga menjadikan tari Gandrung sebagai pusaka istana. Para penguasa menganggap tari Gandrung dapat mendatangkan kemakmuran. Para petani suka nanggap tari Gandrung. Hama, penyakit, wabah akan sirna oleh alunan gerak tari Gandrung.

Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, raja kraton Pajang pada tahun 1562 berkunjung ke wilayah Blambangan. Beliau disertai Patih Mancanegara membawa seperangkat alat musik. Gong suwuk, kempul nem, kethuk dan kendhang diberikan kepada Prabu Tawang Alun. Persahabatan Joko Tingkir dengan Prabu Tawang Alun sangat akrab. Beliau berdua terkenal sebagai pemimpin yang sakti mandraguna.

Sesaji di Alas Purwo dilakukan tiap tahun. Bertujuan untuk mendapatkan rasa ayem tentrem, sejahtera aman makmur.

B. Pelestarian Adat Istiadat Nenek Moyang.

Para Bupati Banyuwangi selalu menaburkan ganda semerbak wangi. Gandaning kang sekar gadhung. Lan kembang kembang menur. Kang esmu arum. Winor lan oyod oyodan. Kadi kusuma memba bathara.

Pimpinan Banyuwangi menghormati adat Istiadat yang telah turun tumurun. Inilah bentuk kearifan lokal di era global.

1. Adipati Wiroguno I 1773 – 1782
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

2. Adipati Wiroguno II 1782 – 1818
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

3. Adipati Surenggono 1818 – 1832
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

4. Adipati Wiryo Hadi Danuningrat 1832 – 1867
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

5. Adipati Pringgokusumo 1867 – 1881
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

6. Adipati Aryo Sugondo 1881 – 1888
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

7. Adipati Astro Kusumo 1888 – 1889
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

8. Adipati Joyo Surenggono 1889 – 1908
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

9. Adipati Kusumonagoro 1905 – 1910
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

10. Adipati Notodiningrat 1910 – 1920
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

11. Adipati Noto Hadisuryo 1920 – 1930
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

12. Adipati Murtajab 1930 – 1935
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

13. Adipati Ahmad Prastika 1935 – 1942
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

14. Adipati Usman Sumodinoto 1942 – 1947
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

15. R Ahmad Kusumonagoro 1947 – 1949
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

16. Moh Abiwinoto 1949 – 1949
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

17. Sukarbi 1949 – 1950
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

18. Usman Sumodinoto 1950 – 1955
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

19. Noto Sugito 1955 – 1965
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

20. Suwarno Kanapi 1965 – 1966
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

21. Joko Supaat Slamet 1966 – 1978
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

22. Susilo Suharto 1978 – 1983
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

23. Joko Wasito 1983 – 1988
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

24. Harwin Wasisto 1988 – 1991
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

25. Purnowo Sidik 1991 – 2000
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

26. Ir. Samsul Hadi 2000 – 2005
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

27. Ratna Ani Lestari 2005 – 2010
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

28. Abdullah Azwar Anas 2010 -2020.
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Daya upaya para pemimpin terasah, berkat ketajaman mata batin. Mereka biasa menjalankan ilmu laku.

C. Pembesar Banyuwangi Lelaku di Alas Purwo.

Resmi sudah status Kabupaten Banyuwangi. Pemimpin dan rakyat wilujengan di alas Purwo.

BAGIKAN KE :