Sejarah Gunung Penanggungan Tempat Semedi Tribuana Tunggadewi

Anak-anak juru belah yang tinggal di daerah aliran sungai Brantas dikirim ke Lasem Rembang pada tahun 1816. Mereka belajar cara membuat trasi. Sedang para petani yang menanam kedele, diberi kesempatan untuk kursus membuat kecap di daerah Purwodadi Grobogan. Kanjeng Ratu Kencono atau Raden Ajeng Sukaptinah menanggung semua biaya transportasi, konsumsi, akomodasi. Program beasiswa pendidikan untuk pemuda pemudi Mojokerto demi menyiapkan generasi yang mandiri dan berdikari.

Kesempatan emas bagi kabupaten Mojokerto berlangsung pada jaman Bupati Tjondronagoro. Tahun 1834 Sinuwun Paku Buwana VII membangun pabrik gula Sentanen Lor. Tahun 1845 membangun pabrik gula Gempolkrep. Rakyat bertambah bahagia. Lapangan kerja terbuka luas. Ada yang kerja di kebun tebu, angkutan dan produksi. Pendek kata usaha ekonomi berjalan lancar. Tidak ada orang menganggur. Tenaga dan pikiran dapat disalurkan. Warung makan laris, cikar dapat order, dokar dapat penumpang, seniman ditanggap. Warga kabupaten Mojokerto senang hatinya, guyub rukun, ayem tentrem.

Sinuwun Paku Buwana VIII memerintah tahun 1858 – 1861. Beliau sempat membangun pabrik gula Perning. Lalu Sinuwun Paku Buwana IX memerintah tahun 1861 – 1893. Beliau membangun pabrik gula Bangsal, pabrik gula Balongbendo, pabrik gula Brangkal. Rakyat semakin sejahtera, murah sandang pangan papan. Ada industri gula berjumlah 12 buah di kabupaten Mojokerto. Transportasi kereta api maju sekali. Sehari-hari melintas 15 kali. Orang Mojokerto mendapat kejayaan sepanjang sejarah peradaban.

Pemerintahan kabupaten Mojokerto antara tahun 1893 – 1939 dibina oleh Kraton Surakarta. Patihnya bernama Sosrodiningrat IV. Mojokerto semakin maju, makmur dan sejahtera. Tahun 1903 didirikan industri kerajinan cor kuningan. Tahun 1906 didirikan industri kulit sepatu di wilayah Sooko. Petani lombok di Dawarblandong didukung untuk maju, dengan dibantu pemasaran. Industri rumahan seperti krupuk rambak disalurkan lewat restoran di Surabaya, Surakarta dan Semarang.

Asma kinarya japa. Bahwa nama itu beserta dengan doa dan harapan. Mojokerto nyata-nyata tampil sebagai kawasan maju sejahtera. Karena warganya memiliki tekat baja untuk mendapat kejayaan, kemakmuran, kewibawaan, kebahagiaan. Pemimpin dan rakyat bersatu padu, sesuai dengan ungkapan manunggaling kawula Gusti.

Para Bupati Mojokerto yang berdarma bakti bagi Ibu Pertiwi adalah keutamaan. Gunung Pananggungan menjadi sumber inspirasi dan energi.

1. Adipati Prawirodirjo 1811 – 1827
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana IV, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

2. Adipati Tjondronagoro I 1827 – 1850
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana VI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

3. Adipati Tjondronagoro II 1850 – 1863
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

4. Adipati Kertokusumo 1863 – 1866
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

5. Adipati Kromojoyo Adinagoro I 1866 – 1894
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

6. Adipati Kromojoyo Adinagoro II 1894 – 1916
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

7. Adipati Kromojoyo Adinagoro III 1916 – 1933
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

8. Tumenggung Rekso Anitprojo I 1933 – 1935
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

9. Tumenggung Rekso Anitprojo II 1935 – 1945
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

10. Dr. Sukandar 1945 – 1947
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

11. Pamuji 1947 – 1948
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

12. Kusumo Adiprojo 1948 – 1949
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

13. R. Aminoto Wijoyo 1949 – 1950
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

14. Suharto 1950 – 1958
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

15. Ardi Sriwijoyo 1958 – 1965
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

16. R. Basuri 1965 – 1974
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

17. Supeno Suryoatmojo 1974 – 1975
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

18. Tatchoerachman 1975 – 1985
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

19. Drs. Kunto Sutejo 1985 – 1990
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

20. Machmoed Zein, SH 1990 – 2000
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

21. Drs. Achmady, M.Si 2000 – 2008
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

22. Drs. Suwandi 2008 –2010
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

23. Mustofa Kamal Pasha 2010 – 2018
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

24. Pungkasiadi, SH 2018 – 2023
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Jago Kluruk

Ing wayah esuk, jagone kluruk
Rame swarane pating kemruyuk
Wadhuh senenge sedulur tani
Bebarengan padha nandur pari

Srengenge nyunar kulon prenahe
Manuke ngoceh ana wit witan
Pating cemruwit seneng atine
Tambah asri donya saisine

Kabupaten Mojokerto selalu berusaha untuk mewujudkan suasana yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Tembang jago kluruk di atas mendukung untuk terwujudnya masyarakat yang peduli pada kegiatan peternakan. Alam pedesaan dengan suara jago kluruk bersahut-sahutan. Para petani berangkat ke sawah dengan paculnya. Mereka menanam padi demi ketahanan pangan. Murah sandang, murah pangan. Suara burung yang menyambut membuat dunia ini semakin tampak asri. Keindahan alam ini perlu dijaga kelestariannya.

Kembang Blimbing

Kembang blimbing bing maya maya ya
Kembang pelem wujude ingklik ketela
Kembang kacang lan kara padha kupune lha kae
Kembang pring blas-blasan kaya carange
Kembang jambu lan randhu metu karuke lha kae
Dhasar blanggreng si kopi pamacakira

Dhendheng kenthing thing sambel lonthang thang
Kakang mendhak yen mendhak ulung-ulungan
Jenang tela kagendhis mawi kelapa aoa
Leganana gathuke krenteg kawula
Benguk wana kecipir ungu kembange aoe
Rowa-rawe temanten ketemu sore

Lingkungan gunung Pananggungan kabupaten Mojokerto cocok sekali untuk kegiatan pertanian, perkebunan, dan peternakan. Negara kita terkenal dengan aneka ragam hayati dan nabati. Tiap-tiap tanaman mempunyai bunga. Tiap bunga tersebut mempunyai nama sendiri. Cocok sebagai bahan pengajaran di bangku sekolah.

Siswa diharapkan mengenal ragam hayati tersebut dalam bentuk kesenian yang penuh dengan nilai estetis. Pemerintah harus mendukung usaha pengenalan budaya. Sosialisasi nilai kearifan lokal dilakukan oleh masyarakat mojokerto dengan ungkapan seni.

Tata cara di Gunung Pananggungan menjadi sarana mesu budi. Pemimpin dan rakyat manunggal, demi mewujudkan kesejahteraan lahir batin.

(LM-01)

BAGIKAN KE :