Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA)
A. Tari Gandrung Membuat Kesuburan Tanah.
Kadang tani hidup dengan bercocok tanam. Petani menanam pala wija, pala pendhem, pala simpar, pala kitri, pala gandhul. Mereka hidup subur makmur di alam pedesaan.
Cocok tanam dimulai dengan ritual adat. Mereka nanggap tari gandrung dengan iringan kendang kempul. Seni edi peni bisa membuat kesuburan tanah. Budaya adi luhung mendatangkan kemakmuran.
Gelar seni gandrung dengan iringan kendang kempul dilakukan di Alas Purwo. Bagi kalangan masyarakat Jawa, Alas Purwo dianggap sebagai tempat nenuwun. Tiap punya hajad mesti melakukan upacara yang disertai dengan pentas tari gandrung, iringan musik kendang kempul. Tata cara sesuai dengan paugeran baku yang sudah diwariskan turun tumurun.
Hawa di sawah akan menyingkir. Penyakit tanaman akan hilang, saat terdengar musik kendang kempul dan gerakan tari gandrung. Alas Purwo berada di Kabupaten Banyuwangi. Dari segi makna memang mengandung ajaran filosofis luhur. Banyuwangi Berarti Air yang Selalu Menaburkan Bau Harum Semerbak ke Segala Penjuru
Masyarakat sekitar alas Purwo ahli dalam olah sastra bahasa. Banyu artinya air. Wangi artinya harum. Ada istilah lain banyu, yaitu tirta, toya, her, udaka, ranu, tuban, har, sindu, sunda, sangkara, tita, sangaka, hap, warih.
Kata wangi disebut juga arum, amrik, mingeng, ngambar, wida. Banyuwangi mengandung arti air kehidupan atau tirta perwitasari yang membawa suasana harum semerbak. Masyarakat Banyuwangi selalu mantab dalam hal kepribadian, kokoh dalam hal jatidiri, riang gembira dalam segala suasana.
Wanginya percikan air berkaitan dengan ritual tari gandrung dan iringan kendang kempul. Ritual seni di alas Purwo berlangsung magis wingit. Danyang yang menguasai Alas Purwo bernama Kyai Balabatu. Segala mahluk halus di wilayah Blambangan Banyuwangi tunduk pada perintah Kyai Balabatu.
Ternyata Kyai Balabatu tiap tahun minta persembahan tari gandrung. Pemuka makhluk halus Blambangan juga suka dengan iringan musik kendang kempul. Bersama dengan anak buahnya, para makhluk halus ikut menonton pagelaran seni.
Nama harum Banyuwangi sudah terkenal sejak jaman kerajaan Bali dari Wangsa Marwadewa. Prabu Udayana pada tahun 1004 melakukan ritual kenegaraan di Alas Purwo. Pada tahun 1053 Raja Airlangga juga mahas ing ngasepi tapa brata di Alas Purwa. Beliau dianggap sebagai titisan Wisnu yang bertugas memelihara perdamaian dunia atau memayu hayuning bawana.
Alas Purwo Blambangan ini menjadi tempat Prabu Airlangga mendapat wahyu keprabon. Orang Banyuwangi menyebut sebagai wahyu Cakraningrat. Barang siapa mendapat wahyu Cakraningrat nak tumanak run tumurun anak cucunya berbakat anugerah drajat pangkat semat. Cahaya biru cumlorot masuk ke dalam tubuh Prabu Airlangga. Berarti dirinya kepanjingan wahyu.
Pada kenyataannya Prabu Airlangga mampu memimpin negeri Kahuripan dengan gemilang. Aparat negara berwibawa, hukum berjalan tegak adil, rakyat makmur, murah sandang pangan papan. Keturunan Prabu Airlangga lestari menjawa kuasa wibawa. Kerajaan Jenggala, Daha, Panjalu, Kediri adalah keturunan langsung Prabu Airlangga yang selalu melakukan tata semedi di Alas Purwa Banyuwangi. Prabu Kertanegara juga bertapa brata di Alas Purwa pada tahun 1264. Beliau nanggap tari gandrung, dengan iringan kendang kempul. Raja Singosari ini memang cinta seni budaya.
Atas restu Prabu Kertanegara ini para seniman Blambangan menciptakan tari Gandrung. Perpaduan umum budaya Bali, Madura dan Jawa. Gerakan lincah, tabuhan kendang kempul yang meriah, disajikan dengan busana indah. Penampilan tari Gandrung sungguh megah. Pada tahun 1265 tari Gandrung ditampilkan di pendopo kerajaan Singosari.
Perhatian Prabu Jayanegara raja Majapahit pun begitu besar pada wilayah Blambangan. Secara rutin pada bulan Suro Prabu Jayanegara mengadakan upacara ritual di Alas Purwo. Tari gandrung pun digelar.
Dengan dibantu abdi dalem Purwo Kinanthi Prabu Jayanegara pada tahun 1317 melakukan sesaji Raja Wedha. Upacara sesaji ini diikuti tokoh spiritual dari Gunung Agung Bali, Gunung Ijen, Gunung Raung, Gunung Argopuro, Gunung Bromo, Gunung Semeru dan Gunung Penanggungan. Tari gandrung digelar sebagai bentuk persembahan.
Berturut-turut raja Majapahit berikutnya juga mengikuti jejak leluhur. Alas Purwo tetap dihormati sebagai kawasan sakral. Raden Wijaya pun tahun 1293 kepanjingan wahyu keprabon di Alas Purwa. Sudah sepantasnya para penerusnya tetap melestarikan budaya luhur itu. Prabu Tri Bhuana Tungga Dewi dan Prabu Hayamwuruk malah menata iringan tari Gandrung. Raja Majapahit pun pintar membawakan tari Gandrung. Setiap hari Respati Manis, diselenggarakan gladhen tari gagrag Blambangan.
Prabu Hayamwuruk memberi hadiah kain sutra buat penari Gandrung pada tahun 1358. Juga Prabu Brawijaya yang sakti mandraguna itu menjadikan tari Gandrung sebagai pusaka kerajaan Majapahit. Setiap selesai tingalan jumenengan kraton Majapahit, tari Gandrung dipentaskan di Sasana Handrawina.
Penguasa Blambangan Prabu Tawang Alun yang berkuasa tahun 1536 – 1580 juga menjadikan tari Gandrung sebagai pusaka istana. Para penguasa menganggap tari Gandrung dapat mendatangkan kemakmuran. Para petani suka nanggap tari Gandrung. Hama, penyakit, wabah akan sirna oleh alunan gerak tari Gandrung.
Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, raja kraton Pajang pada tahun 1562 berkunjung ke wilayah Blambangan. Beliau disertai Patih Mancanegara membawa seperangkat alat musik. Gong suwuk, kempul nem, kethuk dan kendhang diberikan kepada Prabu Tawang Alun.
Untuk mahargya kunjungan kenegaraan, pentas pula tari gandrung yang diiringi kendang kempul. Persahabatan Joko Tingkir dengan Prabu Tawang Alun sangat akrab. Beliau berdua terkenal sebagai pemimpin yang sakti mandraguna.
Sesaji di Alas Purwo dilakukan tiap tahun. Bertujuan untuk mendapatkan rasa ayem tentrem, sejahtera aman makmur.
Oleh karena itu kendang kempul Mengiringi tari gandrung. Saat ada upacara kadipaten yang dilakukan tiap tahun.
B. Tari Gandrung Mengiringi Upacara Kadipaten.
Upacara kadipaten sesuai dengan garis paugera. Para Bupati Banyuwangi selalu menaburkan ganda semerbak wangi. Gandaning kang sekar gadhung. Lan kembang kembang menur. Kang esmu arum. Winor lan oyod oyodan. Kadi kusuma memba bathara.
Seremoni kadipaten menurut paugeran baku. Pimpinan Banyuwangi menghormati adat Istiadat yang telah turun tumurun. Inilah bentuk kearifan lokal di era global.
Kendang kempul mengiringi seremoni kadipaten. Tari gandrung menjadi piranti pemujaan. Tiap ada upacara kadipaten keduanya harus pentas.
1. Adipati Wiroguno I 1773 – 1782
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
2. Adipati Wiroguno II 1782 – 1818
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
3. Adipati Surenggono 1818 – 1832
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
4. Adipati Wiryo Hadi Danuningrat 1832 – 1867
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
5. Adipati Pringgokusumo 1867 – 1881
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
6. Adipati Aryo Sugondo 1881 – 1888
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
7. Adipati Astro Kusumo 1888 – 1889
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
8. Adipati Joyo Surenggono 1889 – 1908
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
9. Adipati Kusumonagoro 1905 – 1910
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
10. Adipati Notodiningrat 1910 – 1920
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
11. Adipati Noto Hadisuryo 1920 – 1930
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
12. Adipati Murtajab 1930 – 1935
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
13. Adipati Ahmad Prastika 1935 – 1942
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
14. Adipati Usman Sumodinoto 1942 – 1947
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
15. R Ahmad Kusumonagoro 1947 – 1949
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
16. Moh Abiwinoto 1949 – 1949
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
17. Sukarbi 1949 – 1950
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
18. Usman Sumodinoto 1950 – 1955
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
19. Noto Sugito 1955 – 1965
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
20. Suwarno Kanapi 1965 – 1966
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
21. Joko Supaat Slamet 1966 – 1978
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
22. Susilo Suharto 1978 – 1983
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
23. Joko Wasito 1983 – 1988
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
24. Harwin Wasisto 1988 – 1991
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
25. Purnowo Sidik 1991 – 2000
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
26. Ir. Samsul Hadi 2000 – 2005
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.
27. Ratna Ani Lestari 2005 – 2010
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
28. Abdullah Azwar Anas 2010 -2020.
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Daya upaya para pemimpin terasah, berkat ketajaman mata batin. Mereka biasa menjalankan ilmu laku. Termasuk dengan mementaskan tari gandrung, iringan musik kendang kempul.
