Oleh: Dr Purwadi, M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara, LOKANTARA. Hp. 087864404347)
A. Sunan Amangkurat Banyumas Membangun Ibukota Mataram.
Warga Banyumas boleh berbangga. Ternyata desa Lesmana, kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas Propinsi Jawa Tengah punya sejarah hebat. Dulu daerah ini dibangun Istana Kedhaton Pamase.
Istana Kedhaton Pamase digunakan untuk menjalankan roda pemerintahan Kraton Mataram tahun 1651-1677. Rentang waktu yang lama ini membuat Banyumas sejak dulu kala maju makmur bahagia lahir batin.
Raja Mataram yang memerintah Kraton Mataram sejak tahun 1645 bernama Sunan Amangkurat I. Karena lama tinggal di daerah Banyumas, maka mendapat gelar Sunan Amangkurat Banyumas. Hastana makamnya terletak di daerah Tegalarum, maka juga disebut Sunan Amangkurat Tegalarum. Beliau memerintah dengan jiwa agung, maka mendapat gelar kehormatan Sri Susuhunan Amangkurat Agung.
Sunan Amangkurat I atau Amangkurat Banyumas adalah putra kandung Sultan Agung raja Mataram yang memerintah tahun 1613-1645. Ibunya bernama Kanjeng Ratu Batang. Nama kecil Amangkurat Agung yaitu Gusti Raden Mas Sayiddin.
Lama tinggal di daerah dulangmas, Kedu Magelang Banyumas. Terutama di sepanjang aliran kali Serayu. Yakni daerah Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap.
Kali Serayu dianggap sakral oleh warga Dulangmas. Yakni Magelang Kedu Banyumas. Menurut tradisi sejak dulu Raja Mataram selalu tapa ngeli di Kali Serayu untuk mendapatkan daya linuwih.
Lagu Serayu laras pelog pathet nem.
Adhuh segere banyune ing sendhang. Ilang kesele wis mari le mriyang. Banyune bening nyegerake ati. Kudu sing eling mring tindak kang suci.
Lelagon Serayu berkumandang. Hati terasa bergetar. Karena lagu ini memuat ajaran etis filosofis yang amat tinggi.
Perhatian raja Amangkurat I atau Amangkurat Banyumas pada Kali Serayu merupakan bentuk pelestarian pada ajaran leluhur. Kawasan Dulangmas tenar sejak jaman Kraton Demak dan Pajang.
Pada masa kerajaan Demak Bintara nama Banyumas masih disebut Banyukerto. Wilayah ini langsung diperintah oleh Kadipaten Semarang. Pembina wilayah Banyukerto dipegang oleh Ki Ageng Pandan Aran. Pembesar kadipaten Semarang ini masih keturunan Adipati Yunus Syah Alam Akbar, Sultan Demak Bintara.
Para penguasa Demak dan Pajang kerap tapa ngeli di kali Serayu. Apalagi saat mendirikan wilayah Dulangmas. Tapa brata jelas diutamakan.
Lama kelamaan daerah Banyukerto semakin maju. Pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan berjalan lancar. Rakyat pun hidup makmur sejahtera. Kekuasaan Demak berpindah ke Pajang. Kerajaan Pajang diperintah oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Raja Pajang ini memang sakti mandraguna. Beliau masih berdarah Majapahit, Demak dan Pengging. Pada dirinya mengalir darah biru, bangsawan besar Jawa. Benar benar trahing kusuma rembesing madu, wijining amara tapa, tedhaking andana warih.
Kedudukan Joko Tingkir di Kerajaan Pajang sangat kuat. Begitu menduduki tahta semua kekuatan politik dirangkul. Sela-ma memegang kekuasaan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya selalu bisa momong momor momot. Putra Sunan Prawoto pewaris Kasultanan Demak Bintara bernama Raden Joko Kahiman. Sewaktu berguru kepada Sunan Kalijaga, Joko Kahiman bernama santri Abdul Mukmin.
Sultan Hadiwijaya raja Pajang menetapkan Raden Joko Kahiman sebagai penguasa Banyukerto. Saat itu Banyukerto berstatus Kawedanan. Begitu Joko Kahiman dilantik status Banyukerto dinaikkan dari Kawedanan menjadi Kabupaten. Joko Kahiman resmi menjabat sebagai Bupati Banyukerto. Atas usul Pangeran Benawa, nama Banyukerto diubah menjadi Kabupaten Banyumas. Joko Kahiman menjadi bupati Banyumas tahun 1582-1583, dengan gelar Tumenggung Purwonagara.
Kabupaten Banyumas berhasil sebagai daerah pemekaran. Penggantinya bernama Raden Ngabehi Martasura I yang memerintah tahun 1583-1600. Kekuasaan Jawa bergeser dari Pajang ke Mataram. Rajanya bernama Panembahan Senopati. Raden Ngabehi Martasura I berasal dari Paremono Muntilan Magelang. Pembesar Mataram ini juga melanjutkan tradisi tapa ngeli.
Tapa ngeli raja Mataram bersama para punggawa. Beliau masih putra Patih Manca Negara, perdana menteri jaman kerajaan Pajang selama tinggal di Magelang, Raden Ngabehi Martasura I belajar tata pemerintahan, tata praja dan udanagara. Pemerintahan Mataram selanjutnya dipegang oleh Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati.
Lantas kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung tahun 1613-1645. Puncak kejayaan Mataram yang berhubungan dengan masyarakat Banyumas terjadi sejak tahun 1645. Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Karena lama tinggal di istana kedhaton Pamase desa Lesmana Ajibarang Banyumas, maka mendapat julukan Sunan Amangkurat Banyumas.
B. Pengalaman Banyumas Sebagai Ibukota Kraton Mataram.
Kotagedhe, Kerto, Plered, Banyumas, Kartasura, Ponorogo dan Surakarta telah menjadi ibukota Kraton Mataram. Pusat pemerintahan berjalan normal, lincah dan kreatif.
Begitulah pengalaman turun tumurun. Raja Demak, Pajang dan Mataram mewariskan keutamaan, keagungan, keteladanan. Masyarakat dan pimpinan Banyumas merasa bangga mendapat petunjuk kehidupan.
Bupati Banyumas dipegang pejabat baru. Beliau adalah Raden Ngabehi Martapura II. Istrinya berasal dari Pati, anak Ki Ageng Penjawi. Istri sang bupati populer disebut Ratu Adipati Wicaksono Arum. Beliau seorang putri linuwih, cerdas, ramah, cekatan, pintar, lincah, pemurah dan welas asih. Tentu saja kehadiran Ratu Adipati Wicaksono Arum menjadi idola buat sekalian warga Kadipaten Banyumas.
Ratu Wiratsari seorang putri linuwih. Gemar tapa ngeli di kali Serayu. Wanudya ayu ngambar, aruming kusuma, wadana asawang sari, o, ri sedhenging purnama sidi, netya njahit esmu lindri, grana rungih milangeni, tuhu mustikane putri tetunggule widodari.
Demikianlah penduduk Kabupaten memberi pujian kepada Nyonya Bupati Raden Ngabehi Martapura II. Rakyat betul betul ayem tentrem, aman damai dan guyub rukun.
Leluhur Banyumas kerap tapa brata di wana gung liwang liwung. Termasuk tapa ngeli di aliran kali Serayu. Agar mendapatkan daya linuwih, ilmu kasekten, olah kanuragan. Para Bupati Banyumas menghormati tata cara adat.
Pengalaman Banyumas sebagai ibukota Mataram betul betul membanggakan. Sinuwun Amangkurat Banyumas mewariskan semangat pengabdian.
1. R Djoko Kahiman, 1582-1583. Dilantik pada masa keraja-an Pajang. Rajanya bernama Sultan Hadiwijaya.
2. R Ngabehi Martasura I, 1583-1600. Dilantik pada masa ke-rajaan Mataram. Rajanya bernama Panembahan Senopati.
3. R Ngabehi Martasura II, 1601-1620. Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Prabu Hadi Hanyo-krowati.
4. R Adipati Martayuda I, 1620-1650. Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sultan Agung Hanyokro kusuma.
5. R Tumenggung Martayuda II, 1650-1678. Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Agung.
6. R Tumenggung Suradipura, 1678-1707. Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Amral.
7. R Tumenggung Yudanegara II, 1707-1745. Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana I.
8. R Tumenggung Reksapraja, 1745-1749. Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana II.
9. R Tumenggung Yudanegara III, 1749-1755. Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana III.
10. R Tumenggung Yudanegara IV, 1755-1780.Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Raja-nya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana III.
11. R Tumenggung Tejakusuma, 1780-1788. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana III.
12. R Tumenggung Yudanegara V, 1788-1816. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana IV.
13. R Adipati Cakranegara I, 1816-1830. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana IV.
14. RT Mardireja II, 1830-1832. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana VII.
15. R Adipati Cakranagara II, 1832-1864. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana VII.
16. R Adipati Cakranagara III, 1864-1879. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana IX.
17. KPA Martadireja III, 1879-1913. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana IX.
18. KPAA Ganda Subrata, 1913-1933. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana X.
19. RAA Sujiman Ganda Subrata, 1933-1950. Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana X.
20. R Moh Kabul Purwodireja, 1950-1953. Dilantik pada masa Presiden Soekarno.
21. RE Budiman, 1953-1957. Dilantik pada masa Presiden Soekarno.
22. M Mirun Prawiradireja, 1957. Dilantik pada masa Presiden Soekarno.
23. R Bayu Nuntoro, 1957-1960. Dilantik pada masa Presiden Soekarno.
24. R Subagyo, 1960-1966. Dilantik pada masa Presiden Soekarno.
25. Letkol Sukarno Agung, 1966-1971. Dilantik pada masa Presiden Soeharto.
26. Kol Poedjadi Bandayuda, 1971-1978. Dilantik pada masa Presiden Soeharto.
27. Kol RG Rudjito, 1978-1988. Dilantik pada masa Presiden Soeharto.
28. Kol Djoko Sudantoko, 1988-1998. Dilantik pada masa Presiden Soeharto.
29. Kel Aris Setiono, 1998-2008. Dilantik pada masa Presiden BJ Habibie.
