JAKARTA, Liputan68.com-Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, mengatakan bahwa saat ini hubungan kedua pemimpin negara tersebut juga semakin harmonis. Tak hanya itu, para menteri Kabinet Kerja juga sering kali berkomunikasi dengan menteri di China.
“Hubungan sedang bagus-bagusnya, Presiden Jokowi dan Presiden Xi Jinping hubungannya sangat baik, Menlu Retno dengan Menlu Wang Yi, Pak Luhut, Pak Erick, sangat baik. Indonesia kemudian menjadi salah satu negara yang bekerja sama untuk vaksin dari Tiongkok, Sinovac,” ujar Djauhari dalam webinar Korea Indonesia Management Association (CIMA), Sabtu (13/3).
Dia melanjutkan, hubungan yang makin erat tersebut juga dilihat dari realisasi investasi China di Tanah Air. Sepanjang 2020, realisasi investasi China di Indonesia sebesar USD 4,8 miliar, terbesar kedua setelah Singapura.
ADVERTISEMENT
“Itu refleksi dari hubungan kedua negara, jadi salah satu yang terbesar di seluruh negara. Ada tiga pilar hubungan diplomasi, yaitu politik dan keamanan, ekonomi, dan sosial budaya,” jelasnya.
“Kesepakatan yang ada, terakhir saya kira dalam statement Menlu China, Wang Yi, adalah akan menjadikan atau bekerja sama dengan Indonesia agar menjadi manufacture house untuk vaksin, untuk produksi vaksin di Asia Tenggara,” imbuhnya.
Realisasi investasi di Indonesia sepanjang tahun 2020 mencapai Rp 826 triliun. Angka tersebut melebihi target yang dicanangkan yaitu Rp 817 triliun.
Adapun peringkat pertama negara yang berinvestasi di Indonesia adalah Singapura sebesar USD 9,8 miliar. Disusul selanjutnya China sebesar USD 4,8 miliar, Hong Kong USD 3,5 miliar, Jepang USD 2,6 miliar, dan Korea Selatan USD 1,8 miliar.
Sementara untuk vaksin, Indonesia membeli vaksin corona dari berbagai negara, seperti China, Inggris, Jerman, hingga AS. Vaksin impor tersebut paling banyak berasal dari Sinovac, sebanyak 125,5 juta dosis.
Pemerintah juga mengkonfirmasi pemesanan 329,5 juta dosis vaksin COVID-19 dari berbagai produsen. Seluruhnya berasal dari luar negeri atau impor.
