Hari Air Sedunia, Dinas PUPR Pacitan Mengajak Masyarakat Bijak menggunakan air

Perlu diketahui, dengan langsung mengalirkan air hujan ke saluran drainase permukinan, rumah kita mungkin aman, tapi kita akan memberikan andil dalam menyumbang banjir di lingkungan sekitar kita,” sambungnya.

Lebih lanjut Yudo mengatakan, proses infiltrasi dan perkolasi air ke dalam tanah perlu waktu yang lama. Sementara apabila eksploitasi air dilakukan terus menerus sedangkan tidak ada langkah meresapkan air ke dalam tanah, mèlainkan selalu membuang air langsung ke selokan, ke sungai selanjutnya ke laut, maka kesempatan air meresap ke dalam bumi makin berkurang.

“Dampaknya air tanah akan semakin turun. Dalam jangka panjang, jika kemarau, air akan makin sulit didapatkan, sedangkan pada saat musim hujan banjir akan makin besar,” jlentreh pejabat yang memiliki basic skill keilmuan dibidang pengairan ini.

Terkait rain water harvestng (pemanenan air hujan), yang saat ini sedang booming dikampanyekan oleh Kementerian PUPR, Yudo menegaskan bahwa prinsipnya adalah bagaimama menciptakan zero run off di tempat-tempat hunian, perkantoran, dengan membangun penampungan air hujan dalam skala rumahan, ataupun bendungan, embung dalam skala lebih besar.

Air hujan juga mempunyai potensi yang besar untuk mewujudkan ketahanan air, terutama untuk memenuhi kebutuhan air pada saat musim kemarau pada daerah-daerah rawan kekeringan. Apalagi di Pacitan ini ada 45 titik kawasan rawan bencana kekeringan.

“Kita harus bisa mengolah air hujan menjadi air minum sehat dengan metode elektrolisa air.

Jadikan air sahabat kita. Cintai, manfaatkan, resapkan, kelola, dan jaga dengan bijak dan cerdas. Kita hidup di jaman modern, maka berpikirlah modern juga dalam mengelola air dengan berpikir jauh ke depan, tidak hanya memikirkan kebutuhan sekarang tapi juga masa depan generasi penerus kita,” pesan Yudo. (yun).

BAGIKAN KE :