Prabu Hayam Wuruk Pelopor Kebangsaan Majapahit

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum.

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. HP 087864404347)

A. Acara Pekan Budaya Tengger.

Pada tanggal 15 Desember 1355 diadakan pekan budaya Tengger. Bertempat di kaki gunung Tengger Lumajang. Acara ini merupakan program kerja Kerajaan Majapahit.

Selaku ketua panitia pekan budaya Tengger yaitu Raden Rangga Lumaksa. Pelindung adalah Prabu Hayamwuruk. Sedangkan Patih Gajah Mada bertindak sebagai konsultan lapangan. Dewan pertimbangan tercantum nama Empu Prapanca dan Empu Tantular.

Bupati bang wetan tampak sibuk. Seksi konsumsi dipegang oleh ibu ibu darma wanita. Bidang keamanan, protokol, dokumentasi, humas, sekretariatan, among tamu, seminar dan pentas seni. Semua berkoordinasi dengan rapi. Demi suksesnya pekan budaya Tengger.

Kegiatan kenegaraan Majapahit ini dipantau langsung oleh Prabu Hayamwuruk. Setelah upacara pembukaan selesai dilanjutkan dengan ramah tamah. Suguhan mbanyu mili. Makanan minuman tersedia berlimpah ruah.

Dapur umum disediakan oleh panitia. Rakyat yang berkenan hadir tinggal memilih menu. Ada sate, gule, pecel lele, lonthong balap, tahu thek, tempe bacem, rujak cingur, rawon, kare. Jenang, jadah, wajik diletakkan tiap pojok.

Dawet, cendol, wedang angsle, teh, kopi, jahe, kunir asem. Berjajar jajar di sepanjang jalan. Muda mudi terlibat sebagai relawan. Suasana selalu guyub rukun.

Bangga dan gembira sekali hati Prabu Hayamwuruk raja Majapahit. Tanah kelahirannya memberi teladan yang utama bagi sekalian warga negara. Demikian pula rakyat Lumajang begitu beruntung punya putra daerah yang menjabat sebagai raja Majapahit.

Dalam acara seminar yang dihadiri seluruh menteri dan bupati. Ternyata nama Lumajang sempat menjadi wacana yang menarik. Empu Tantular dan Empu Prapanca memberi penjelasan.

Menurut Empu Prapanca kata Lumajang berarti melu majune jangkah kang panjang. Nilai keluhuran Lumajang cukup membesarkan hati para hadirin. Sedangkan Empu Tantular memberi ceramah tentang nilai kebangsaan.

Masyarakat Lumajang selalu memiliki cita cita yang luhur, gagasan yang agung dan gerak langkah yang anggun. Lumajang bermakna melu majune jangkah kang panjang.

Paparan lebih lanjut diterangkan oleh Empu Prapanca. Melu mengandung arti ikut, berpartisipasi, menyertai, menyumbang, memberi kontribusi. Majune jangkah berarti mengikuti laju jaman yang serba berubah. Kang panjang mengandung rentang waktu yang sangat lama. Memang Empu Prapanca ahli sejarah yang mumpuni.

Dari data historis ternyata Lumajang sudah berperan pada jaman Kerajaan Singasari. Keteladanan masyarakat Lumajang berlaku sejak tanggal 14 Dulkangidah 1665 Saka atau 15 Desember 1255. Saat itu Lumajang dalam pembinaan kerajaan Singosari yang diperintah oleh Prabu Kertanegara.

Keterangan Empu Prapanca amat meyakinkan. Raja Singosari Prabu Kertanegara adalah tokoh yang populer di kalangan rakyat Lumajang. Beliau seorang pemimpin yang wibawa, bijaksana, suka menolong, dermawan, peduli nasib orang kecil, jujur, rendah hati, rela berkorban, ramah tamah, pemurah. Setiap bulan Suro Prabu Kertanegara mahas ing ngasepi, manjing wana wasa, tumurune jurang terbis. Beliau lara lapa tapa brata. Raja Singosari ini memang sakti mandraguna. Prabu Kertanegara memberi nama Lumajang yang bermakna melu majuning jangkah kang panjang.

Dengan begitu seminar dalam acara pekan budaya Tengger tersebut merupakan peringatan 100 tahun Lumajang. Kesadaran sejarah penting bagi warga Majapahit. Prabu Hayamwuruk terus saja mendukung acara seni budaya.

Acara pekan budaya Tengger ini juga membahas peran Lumajang saat awal berdirinya kerajaan Majapahit. Labuh labet kerajaan Singosari terus berlanjut pada generasi berikutnya.
Menantu Raja Kertanegara bernama Raden Wijaya. Beliau pendiri kerajaan Majapahit tahun 1293.

Ayahnya Pangeran Mahesa Cempaka, sepupu Prabu Kertanegara. Ibunya berasal dari Lumajang. Namanya Dyah Iswari, putri Dahyang Padmamurti. Wajar sekali bila kerajaan Singosari dan Majapahit memiliki hubungan emosional dengan warga Lumajang. Hati mereka sudah menyatu. Keterangan ini atas presensi Empu Tantular.

Raja Majapahit tiap bulan Ruwah mengadakan upacara Sarada di Lumajang. Upacara Sarada bertujuan untuk memuliakan arwah leluhur. Kegiatan ini berlanjut menjadi tradisi nyadran. Presentasi Empu Tantular tentang kebudayaan cukup memikat.

Pada tahun 1312 Prabu Jayanegara datang ke wilayah Lumajang. Beliau mengikuti upacara Yadnya Kasada. Panitia sudah menentukan jadwal upacara Yadnya Kasada, yaitu tanggal 15 bulan Kasodo atau kesepuluh. Tempatnya di gunung Bromo. Prabu Jayanegara diminta oleh masyarakat Tengger untuk memimpin jalannya upacara Kasada.

Raja Airlangga sebagai titisan dewa yang bertugas untuk memelihara keselamatan dunia. Raja Jawa Majapahit ini memang selalu memangku hayuning bawana. Sejarah raja Kahuripan ini juga menjadi referensi.

Selama memimpin upacara Yadnya Kasada panitia bekerja dengan sistem organisasi yang rapi. Bidang keamanan diserahkan pada warga dari daerah Candipuro, Gucialit, Jatiroto. Bidang konsumsi akomodasi dan transportasi ditangani warga dari daerah Kedungpajang, Klakah, Kunir, Padang, Pasirian, Pasujambe.

Bidang acara ritual dipegang oleh warga dari daerah Pronojiwo, Randuagung, Senduro, Ranuyoso, Rowokangkung, Sukodono. Bidang among tamu diserahkan kepada warga dari daerah Tekung, Sumbersuko, Tempursari, Tempeh. Mereka bekerja gotong royong. Melayani raja Majapahit akan mendatangkan anugerah besar.

Kerajaan Majapahit selanjutnya dipimpin oleh raja putri, Tri Bhuana Tunggadewi. Beliau memerintah tahun 1328 – 1350. Kesetaraan gender sudah dikenal orang Jawa sejak lama. Pria wanita punya kedudukan yang sama.

Kepemimpinan Maharaja Tri Bhuana Tunggadewi sangat mengagumkan. Beliau seorang raja yang ber budi bawa laksana, hambeg adil paramarta. Tidak pernah pilih kasih. Sekalian warga negara sama kedudukan dalam hukum. Tumindak becik diganjar, tumindak luput nampa pidana. Negara Majapahit benar benar ayem tentrem, agung ngrembuyung.

Tri Bhuana Tunggadewi pada tahun 1334 melakukan bakti sosial di kawasan bukit timur laut Lumajang. Raja Majapahit datang lengkap dengan aparat dan prajurit. Bakti sosial kali ini sekaligus untuk memberi nama deretan pegunungan. Atas usul Pangeran Mangkubumi, deretan perbukitan itu diberi nama Pegunungan Lyang, pemberian nama pegunungan Lyang diambil dari kakeknya Dahyang Padmamurti. Bagi pembesar Majapahit pegunungan Lyang dianggap angker, wingit dan sakral.

Rangga Lumaksa selaku ketua panitia pekan budaya Tengger patut mendapat pujian. Berkat prestasi gemilang ini pada tahun 1356 Rangga Lukmasa diangkat menjadi kepala istana yang mengurusi logistik.
Pemimpin Majapahit dekat sekali dengan masyarakat Lumajang.

Tahun 1350 – 1386 Prabu Hayamwuruk memimpin kerajaan Majapahit. Patih Gajahmada mendampingi dengan setia. Empu Tantular mengarang kitab Sutasoma, sebagai panduan hidup. Empu Prapanca menyusun kitab Negara Kertagama. Kerajaan Majapahit tampil sebagai negeri kang gedhe obore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adoh kuncarane, ampuh kawibawane.

Wibawa kerajaan Majapahit terasa benar. Bebasan kang cerak manglung, kang tebih mentiyung. Sedaya sami pasok glondhong pengareng areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana.

Kemakmuran yang berlimpah ruah, menyebabkan Prabu Hayamwuruk dengan mudah melaksanakan program kerja. Wilayah Lumajang mendapat perhatian utama. Bagi Prabu Hayamwuruk wilayah Lumajang merupakan pepundhen kang pinundhi pundhi pindha pusaka. Pejabat spiritual Majapahit disuruh membina juru kunci yang menjaga Gunung Lyang, Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Prabu Hayamwuruk pernah tapa kungkum di kali Mujur. Benar sekali dengan ritual di Kali Mujur nasib raja Majapahit juga selalu mujur. Widada kalis ing sambikala.

Kunjungan Prabu Hayamwuruk berikutnya senantiasa disertai dengan siraman rohani. Empu Prapanca memberi wulangan wejangan wedharan tentang sangkan paraning dumadi.

Sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Itulah puncak spiritual tertinggi atau manunggaling kawula Gusti. Kitab Negara Kertagama menjadi acuan untuk memahami jagad gedhe lan jagad cilik.

Jasa perjuangan Prabu Hayamwuruk cukup memberi daya juang. Pembangunan dalam segala bidang telah diberi contoh.

Ing ngarsa sung tuladha.
Ing madya mangun karsa.
Tut wuri handayani.

B. Semangat Juang Prabu Hayamwuruk.

Semangat Majapahit lestari. Terutama gagasan agung Prabu Hayamwuruk. Demi mewujudkan ketentraman yang selalu menyertai warga Lumajang. Maka ide cemerlang itu berlanjut terus.

Generasi penerus sangat peduli pada kejayaan Majapahit. Raja Majapahit dianggap pepundhen bagi pemimpin selanjutnya. Misalnya Adipati Menak Sembuyu dari Kabupaten Blambangan datang ke Lumajang pada tahun 1467.

Adipati Menak Sembuyu berkunjung bersama putrinya, Dewi Sekardadu. Pada perjalanan pulang Adipati Menak Sembuyu bertemu dengan Maulana Ishaq.

Dewi Sekardadu menikah dengan Maulana Ishaq, lantas lahirlah seorang anak yang cerdas, ilmuwan, cendekiawan, rupawan, dan agamawan. Namanya Raden Paku.

Betapa bahagianya Adipati Menak Sembuyu. Cucu kesayangan di antar ke Surabaya untuk berguru kepada Kanjeng Sunan Ampel. Raden Paku akhirnya bergelar Sunan Giri. Beliau ditetapkan untuk mendirikan peguron di Gresik.

Kelak Raden Paku atau Sunan Giri menjadi anggota Dewan Wali Sanga. Bahkan Sunan Giri menjadi penasihat utama raja Demak dan raja Pajang. Lewat Sunan Giri ini raja Demak dan Pajang melaksanakan tata cara adat kejawen di Gunung Bromo.

BAGIKAN KE :