Sejarah Dinasti Syaelendra

Jaman Majapahit tradisi warisan Syaelendra berlangsung terus. Malah dikembangkan lebih sempurna.

C. Penemuan Syaelendra dilanjutkan Majapahit.

Masa kelahiran gamelan laras pelog pada jaman Majapahit. Warisan dinasti Syaelendra dikembangkan dengan lebih kreatif. Tapi tetap berdasarkan pakem.

Paugeran sejarah dipegang teguh. Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1292. Raja Majapahit pertama adalah Raden Wijaya. Penunjukan sebagai raja berdasarkan asal usul, kepribadian dan kemampuan. Syarat itu secara lengkap ada pada diri Raden Wijaya.

Dalam dirinya mengalir darah keturunan kerajaan Medang, Kahuripan, Daha, Jenggala, Kediri, Singasari. Raden Wijaya sungguh trahing kusuma rembesing madu.

Secara geneologis beliau paling berhak atas tahta kepemimpinan Jawa. Pancaran bangsawan yang berseri seri memunculkan aura kewibawaan. Cumlorot pindha kartika aliru pernah. Manther tejane pan yayah ri purnama sidi.

Kepribadian Raden Wijaya betul betul mengagumkan. Beliau ramah tamah kepada siapa saja. Hormat pada senior. Sayang pada yunior. Bisa kerja sama, suka tolong menolong. Mau berkorban, rela diri merugi. Kepentingan orang banyak dutamakan. Kepribadian Raden Wijaya bisa dicandra lewat tembang.

dhandhanggula.

Trah kusuma prajurit sinekti,
wus kawentar satriya utama,
mumpuni kasarjanane.
Reh saniskara putus,
wicaksana alus ing budi.
Satriya mandraguna, tur rembesing madu. Wijining amaratapa, pinarcaya tedhaking andana warih, pagere nusantara.

Kemampuan Raden Wijaya meliputi bidang tata praja, menejemen, psikologi sosial, maritim, militer, diplomasi dan marketing. Jika diharapkan menjadi pimpinan kerajaan Majapahit, tentu bukan asal tunjuk.

Arya Wiraraja selaku sesepuh yang berpengalaman telah menimbang dengan saksama ketrampilan Raden Wijaya dalam menyelesaikan beragam persoalan Kenegaraan. Raden Wijaya selalu tampil rikat trengginas. Cak cek tandang gawe.

Penobatan Raden Wijaya menggunakan iringan gamelan Laras Pelog. Kehadiran Laras pelog ini untuk melengkapi gamelan laras slendro yang lebih dulu. Laras slendro lahir pada jaman raja Syaelendra. Gendhing yang tersusun menggunakan notasi ji ro lu pat ma nem pi.

Pelaku karawitan menyebut manis, jangga, dhadha, gawe, gati, rasa, barang. Nadanya agak miring. Sementara laras slendro bernada tegak.

Gendhing pakurmatan disusun oleh ahli dari Bali dan Pengging. Ahli karawitan dari Klungkung Bali menyajikan gendhing carabalen.

Disain gamelan carabalen bisa bergerak pindah. Terdiri dari kendang jaler, kendang estri, gambyong, klenang, klenut, gambyong, penonthong, kempul nem dan gong Siyem.

Suara ramai meriah. Maka cocok untuk menyambut tamu kehormatan. Protokol kerajaan Majapahit memberi daftar tamu undangan. Tiap turun kendaraan, gendhing carabalen berkumandang.

Tamu umum juga mendapat sajian gendhing kebo giro. Digarap oleh tim pengrawit dari Pengging. Mereka ahli dalam menata gendhing pahargyan.

Pengalaman mereka dalam mengiringi tata cara penobatan raja Pengging sudah teruji. Kali ini tim pengrawit Gombang Pengging bertugas untuk membuat iringan penobatan Raden Wijaya. Harus disajikan dengan sakral.

Raden Wijaya hadir di pagelaran berkumandang gendhing Kodhok Ngorek. Segera pelantikan raja.
Penobatan dilakukan oleh Empu Tanakung, Bramana Sepuh yang pernah bertugas di kerajaan Singasari. Begitu rampung sumpah penobatan, gendhing monggang menyambut berkumandang.

Raden Wijaya lenggah di atas dhampar keprabon. Segera disusul bedaya Mojodasih. Suasana tampak regeng magis. Dhedhep tidhem permanem, tan ana sabawane. Walang alisik gegodhongan datan obah. Samirana tan lumampah.

Gendhing gleyong berkumandang. Ini menandai upacara sakral paripurna. Kembul bujana andrawina. Jamuan makan mengalir deras. Suguhan mbanyu mili.

Alunan irama gambang, gender, kethuk, kenong, kempul. Dilengkapi dengan senggrengan rebab. Pesta kerajaan Majapahit memang mengagumkan. Pesta usai ditabuh gendhing udan mas.

Semua gendhing pahargyan untuk penobatan Raden Wijaya sebagai raja Majapahit menggunakan laras pelog. Tradisi berlangsung pula untuk penobatan raja Majapahit berikutnya.

Prabu Jayanegara tahun 1314, Tri Buana Tungga Dewi tahun 1328, Prabu Hayamwuruk tahun 1350 meneruskan budaya adi luhung, seni edi peni. Menata negara diharapkan nut wiramaning gendhing.

Prabu Brawijaya membuat irama gendhing yang selaras dengan konsep kama arta darma muksa. Berakhir dengan proses kasampurnan.

Inti ajaran dinasti Syaelendra yaitu tahapan kamadhatu rupadhatu nirwana. Pengaruh ajaran Budha tampak jelas dalam stupa candi Borobudur.

D. Karya Dinasti Syaelendra Jaman Wali Sanga.

Pembagian pathet gamelan dilakukan oleh para Wali. Karya warisan dinasti Syaelendra layak untuk dihormati.

Kanjeng Sunan Bonang pada tahun 1479 mendapat tugas dari Kasultanan Demak Bintara. Sebagai ahli gendhing yang mumpuni, beliau bertugas untuk menyusun urutan penyajian gendhing. Mulai awal sampai akhir pertunjukan.

Manguwuh peksi manyura, wancine andungkap gagat rahina, saniskara wosing pagelaran, kang becik ketitik kang ala ketara. Awit iku pancen nyata. Becik ingkang widu mawayang, om awighnam hastumana.

Wali sanga mengusulkan kepada Raden Patah atau Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Patah Jimbun Sirullah I. Raja Demak Bintara mengundang para wali untuk membahas keutamaan gamelan. Mereka bersemangat sekali melakukan akulturasi budaya. Gendhing pagelaran wayang purwa dibagi menjadi tiga bagian. Pathet nem, pathet sanga dan pathet manyura. Itu melambangkan konsep ajaran Islam Iman Ikhsan, iman ilmu amal, cipta rasa karsa.

Garwa prameswari Raden Patah bernama Kanjeng Ratu Mas Panggung. Putri Sunan Ampel ini pada tahun 1486 menciptakan Bonang penerus. Guna melengkapi irama bonang barung.

Pathet nem merupakan sad rasa. Enam rasa terdiri dari rasa manis, pahit, sepet, kecut, asin, pedhes. Keenam rasa itu harus seimbang. Adanya enam rasa dalam tubuh akan membuat diri sehat. Rukun iman jumlahnya ada enam. Seseorang menjadi kokoh bila meyakini enam rukun iman yang menjadi soko guru kehidupan. Agama ageming aji.

Pathet sanga merujuk pada babahan hawa sanga. Tubuh manusia terdiri dari sembilan lubang. Kesembilan lubang itu harus ditata, perlu dikelola dan mesti diatur.

Itulah jalan keselamatan. Menurut meditasi yang betul. Seseorang harus berefleksi dan kontemplasi. Lenggah suluku tunggal, ngeningken cipta, megeng napas mendung swara,sajuga kang sinidhikara. Ana swara tan dirungu, ana ganda tan ingambu, ana rupa tan dinulu.

Pathet manyura merujuk pada kebaruan. Berhubung telah mampu membaca mobah mosiking kahanan. Manyura, manyar, keindahan dan kebaruan merupakan aspek kreativitas dan produktivitas. Sebegitu jauh pemikiran Wali Sanga dalam membaca tanda tanda jaman. Sampai pagelaran ngebyar, maka mata seolah olah mendapat pencerahan yang terang terus, terus terang.

Kehadiran agama tampil sebagai rahmatan lil alamin, dengan memperhatikan Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa. Para Wali yang memperoleh derajat makrifat, tentu menghendaki Tanah Jawa aman damai.

Warisan luhur ajaran Sunan Bonang diterapkan oleh para pemimpin Jawa selanjutnya. Mulai dari Kasultanan Demak Bintara, Pajang, Mataram, Surakarta Hadiningrat, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Pengalaman spirituan bunyi gamelan diperhatikan pula oleh segenap Bupati di Tanah Jawa.

Daerah Bekonang Sukoharjo merupakan kawasan produksi gamelan. Ketrampilan membuat gamelan berlangsung secara turun tumurun.

Pengrajin gamelan lain dalam bentuk kecil kecilan terdapat di Loceret Nganjuk, Magetan dan Boyolali. Dengan demikian gamelan tetap bisa basuki lestari. Jasa wangsa Syaelendra ini tetap dikenang lestari.

Pengaruh dinasti Syaelendra amat kuat. Terutama berkembang di kota Palembang. Jadilah pendiri Kerajaan Sriwijaya. Pusat pendidikan Agama Budha terbesar abad 9 masehi. Juga Sriwijaya terkenal sebagai negara Maritim.

(LM-01)

BAGIKAN KE :