Rontek Sebagai Salah Satu Budaya Pacitan, Dan Tak Lekang Oleh Waktu

PACITAN – Maraknya Operasi pembubaran Kegiatan Rontek gugah sahur oleh aparat kepolisian , menuai banyak respon dari berbagai kalangan , seperti tokoh masyarakat , pemuda ,dan beberapa pelaku seni.

Pasalnya , kegiatan rontek adalah salah satu budaya pacitan yang setiap tahun selalu dilakukan terutama pada bulan Suci romadhon, sebagai sarana gugah sahur . Menurut mereka , Rontek itu sudah menyatu dalam darah daging masyarakat, dan mengalir keluar saat memasuki bulan suci romadhon.
Tidak tanggung – tanggung, kelompok pemuda, masyarakat desa , mulai anak – anak, remaja, dewasa , orang tua , rela merogoh saku pribadi untuk membuat peralatan rontek yang terbuat dari bambu pilihan.
Bagi mereka, bulan suci romadhon, tidak hanya sebagai bulan penuh berkah melakukan ibadah puasa dan kebaikan, tapi juga bulan untuk pesta rontek yang digelar keliling kampung dan dusun.

Seiring berkembangnya waktu . Rontek gugah sahur, mulai bergeser dari fungsinya. Awalnya sebagai sarana gugah sahur, namun kemudian menjadi ajang unjuk eksistensi antar wilayah yang kemudian memicu munculnya rasa primordialisme dan mengarah pada aksi tawuran.

Pergeseran fungsi inilah yang memunculkan reaksi keras dari pihak kepolisian. Ditambah dengan adanya ulah oknum beberapa pemuda peserta rontek yang berkeliling sambil menenggak minuman keras. Pengaruh inilah yang kemudian memunculkan konflik yang berujung pada tawuran.

BAGIKAN KE :