Oleh Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
1. Gemi Nastiti Ngati Ati.
Orang desa punya landasan hidup yang kuat. Prinsip hidup wejangan nenek moyang. Yakni Gemi nastiti ngati ati.
Inilah bekal utama untuk memutar roda bebrayan. Begitu masuk kelas 1 SD pada tahun 1978, Embok Yatinem menganggap bahwa saya harus bisa mandiri. Maka perlu diberi tanggung jawab. Saya dibelikan seekor kambing jantan, dibeli dari Pakde Giyar.
Kambing itu saya panggil Berok Gembel. Pagi, sore saya punya tugas untuk angon, menggembala Berok Gembel. Kadang kadang harus ngarit, yaitu mencari rerumputan untuk pakan ternak.
Bagi saya menggembala dan ngarit merupakan tugas yang harus dijalani hingga kuliah semester 3 tahun 1991. Setelah dewasa keadaan itu lantas mengingatkan saya pada tembang ilir-ilir karangan Kanjeng Sunan Kalijaga :
Ilir-ilir tandure wis sumilir,
tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar,
bocah angon penekna blimbing kuwi,
lunyu-lunyu ya penekna kanggo masuh dodotira,
dodotira kumitir bedhah ing pinggir,
dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore,
mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane,
Ya suraka surak iyun.
Tafsir tembang itu kurang lebih demikian.
Ilir-ilir tanaman sudah bersemi, tampak menghijau ibarat penganten baru.
Wahai penggembala panjatlah blimbing itu, meski licin panjatlah untuk mencuci kain,
kain yang sedang robek pinggirnya, Jahitlah dan tamballah,
untuk menghadap nanti sore,
mumpung bulan terang dan lebar tempatnya.
Mari bersorak bergembira
Embok Yatinem sendiri adalah orang yang punya ketrampilan dalam ngarit rumput. Tangannya gesit dan gerakannya cepat. Dalam waktu singkat pakan ternak sudah terkumpul dalam kampli, karung dari plastik. Saya sendiri cuma mengikuti Embok dari belakang. Ya namanya anak kecil.
Kadang kala saya juga mencari klethong garing, yaitu kotoran sapi yang mengering.
“Klethong garing bisa dijadikan pengganti kayu bakar. Apinya sangat bagus dan sedap.”
kata Embok menjelaskan.
Ini perlu diteliti mengapa kotoran sapi berubah aromanya setelah mengering. Keuntungan lain dari beternak yaitu bisa ikut kerja matun atau mencabut rumput di sela-sela tanaman padi.
Upah kerja matun sekitar Rp 200-an. Berangkat pukul 07.00-11.00. Saya sering diajak, sehingga dua orang dapat gaji Rp 400.
Uang itu sebagian saya gunakan untuk merehap rumah Damar Kanginan.
Masa-masa sulit yang saya rasakan sebagai peternak kambing adalah saat hujan turun seharian, sejak pagi sampai malam.
“Mbek-mbek-mbek!!!”
Kambing berteriak keras berulang-ulang yang membikin kuping cumpleng.
Suasana jadi gaduh.
Rupanya kambing kambing itu sama protes karena lapar. Tapi apa boleh buat, rumput sulit dicari karena hujan. Hati saya benar-benar kesel, sebel dan gregeten. Mau marah pada kambing? Ya pasti saja kambing tak mengerti perasaan saya.
2. Aliran Kali Pencol.
Lama sekali keluarga saya beternak kambing dan sapi. Pertama punya kambing seekor. Dibeli dengan modal Rp. 3.000. Setelah besar laku Rp. 10.000 jadi untung Rp. 7.000. Dari keuntungan itu dibelikan babon, induk kambing yang akhirnya berkembang menjadi 5 ekor.
Sungguh ternak itu bagi saya adalah harta yang cukup membanggakan. Ternak jadi status sosial yang bisa mengangkat gengsi keluarga. Percaya diri keluarga saya semakin tinggi. Kalau dihitung secara ekonomis, beternak itu sebetulnya rugi. Tapi secara sosial tinggi harganya.
Klop dengan filsafat eksistensialis Rene Descartes.
“Cogito ergo sum, saya berpikir, maka saya ada.”
Sedangkan saya sendiri berkeyakinan yang lebih variatif.
“Saya menggembala, maka saya ada.”
Di mata tetangga dan orang lain lima ekor kambing itu jelas cukup kelihatan. Di jalan kelima ekor itu berduyun-duyun. Saya menggiring kambing dengan cukup bangga. Saya merasa lebih bermakna. Hidup saya merasa punya peran yang penting. Posisi sebagai pemilik 5 ekor kambing seperti halnya memilih sebuah lembaga.
Saya pernah angon kambing di Alas Jalin yang jauhnya 6 km dari desa saya bersama Mbah Saimin, Mbah Toiman dan Mbah Katam. Mereka sekarang sudah cinandhi ing ngawiyat, almarhum semua. Pada saatnya saya juga akan mendapat giliran mati. Inna lillahi wa inna illaihi raji’un. Kita semua milik Allah SWT dan akan kembali berpulang kepada-Nya.
Gairah hidup yang penuh semangat itu tercermin dengan sikap saya yang terus-menerus ngarit, mencari rumput untuk pakan ternak. Dalam menjalankan aktivitas ngarit ini, Embok Yatinem kerap menelusuri Kali Pencol.
“Disebut Kali Pencol, karena bentuknya memang mencal mencol. Dari hulu sampai hilir bentuknya berlika-liku, meliuk-liuk seperti luk keris nagasasra, pusaka handalan Maesa Jenar.”
Demikian penjelasan Mbah Dardjo yang suka ndongeng cerita sejarah kuno. Kali Pencol hulu dan hilirnya cuma melingkar di desa saya. Pangkalnya di sebelah barat desa, ujungnya di sebelah timur desa.
Di kali Pencol inilah saya mencari kayu krangkong untuk bahan bakar. Kayu krangkong terkenal alot, ulet dan kenyal. Sulit dikeringkan, sepanjang masih ada kulitnya. Bahkan jika diletakkan dalam tanah kayu krangkong itu akan tumbuh dengan sendirinya.
“Untuk bisa digunakan sebagai kayu bakar, kayu krangkong terlebih dahulu harus dibersihkan kulitnya.” begitu Embok mengajar kepada saya.
Hidup saya banyak dihabiskan di sekitar kali Pencol. Kali Pencol memberi kenangan sewaktu kecil bersama Embok.
Kali itu tidak dalam dan jarang sekali meluap airnya, tapi bisa untuk bluron, berenang dengan berbagai gaya Boleh dikatakan kali Pencol adalah selokan panjang yang terjadi secara alamiah.
Embok dan saya tak pernah menjadikan kali Pencol sebagai sarana untuk mencari ikan. Paling paling ngarit dan ebor. Kali Pencol memang cocok untuk menyimpan air di musim kemarau.
Bapak sering ngodrok yaitu mengebor dengan odrok, agar keluar mata airnya. Mata air yang memancar itulah yang digunakan untuk mengairi sawah. Memang Bapak dan Embok sudah dapat merekayasa alam untuk digunakan manfaatnya.
3. Ingon-ingon Raja Kaya.
Punya seekor sapi, sungguh membahagiakan keluarga. Sapi itu menjadi harta yang amat tinggi nilainya, setelah tanah dan rumah.
Orang Jawa menyebut sapi sebagai raja kaya. Betapa khawatirnya saat sapi harapan itu tiba-tiba sakit keras. Badannya lemah dan tak kuat berdiri. Semua anggota keluarga cemas hatinya. Untuk mengobati rasa ragu, Embok lantas haul atau bernadzar.
“Bila sapi saya sembuh, nanti saya sekeluarga akan mengarak ke pasar Wage untuk dikalungi kembang.” kata Embok.
Rupa-rupanya haul Embok itu dikabulkan oleh Tuhan. Sapi sembuh langsung diarak beramai-ramai ke pasar. Bapak, Embok dan saya pagi hari jam 4 menggiring sapi. Di pasar Kerep sapi dikalungi untaian kembang telon, yaitu bunga-bungaan wangi yang diuntai.
Kontan saja, kejadian itu menjadi sebuah pembicaraan di jalan.
Tak ada rasa minder sedikit pun. Mereka yang iseng tidak serius omongannya.
Paling cuma bilang, kok banget-banget anggone ngingu sapi. Saya sepakat membiarkan olokan itu. Toh saya bangga juga.
Selama ini saya menjumpai kaulan ke pasar itu sebanyak 2 kali. Saya bertiga riang gembira ketika lihat sapi sembuh.
Di situ ada nilai semangat spiritual yang tinggi terhadap raja kaya atau sapi. Karier beternak saya pun meningkat. Saya beli seekor sapi. Masyarakat memandang kehidupan saya menjadi lebih meningkat. Bahkan saya sempat punya 3 ekor sapi. Sungguh peningkatan hidup yang patut saya syukuri.
Ketika saya naik kelas 3 SMP, keluarga saya mengalami krisis ekonomi.
Biar tidak jatuh karena utang, Bapak dan Embok sepakat menjual sapi satu-satunya. Sebagian hasil uang menjual sapi itu digunakan untuk membeli buku saya guna persiapan Ebtanas, Evaluasi Belajar Tahab Akhir Nasional. Pupus sudah karier saya sebagai peternak sapi.
4. Bakul Janganan Bayem Terong.
Kutha cilik sangisore Gunung Wilis
iku pantes dadi pecangkramaning pra turis
yo kanca ning Seduda ing perenging arga
lelumban lan byur-byuran
weh bagasing raga
rampung njajan nginep neng pesanggrahan
wis mesthi kepranan nyawang kaendahan
Jo lali jo keri kutha Nganjuk mranani
Orang Nganjuk menyebut Gunung Wilis dengan nama Gunung Kidul. Para penduduknya disebut dengan brang kidul. Seolah-olah buat orang tidak pernah bepergian, Gunung Wilis dan sekitarnya itu sudah tampak sangat jauh.
Meskipun dengan kampung halaman saya letaknya agak jauh, namun Gunung Wilis tampak jelas punggungnya. Besar, gagah, biru dan sangat menawan hati. Bagi mereka yang mendaki Gunung Wilis pasti bakal ketemu dengan Grojogan Sewu yang terkenal dengan nama Air Terjun Sedhudha.
“Ada kepercayaan bahwa siapa saja yang mandi di Grojogan Sedhudha akan selalu awet muda.”
Kata Pak Arif staff protokol Pemda Ngajuk, yang sampai saat ini tetap setia mendampingi Pak Tris, mantan Bupati Nganjuk.
Sampai sekarang sungguh sayang Embok belum pernah mengunjungi Sedudo. Mungkin ini semua disebabkan oleh kepentingan dan alasan untuk rekreasi. Maklum sekali, lama Embok Yatinem hidup dalam kesulitan lahir batin. Padahal Embok sudah sering pergi ke Malang, Surabaya, Surakarta, Yogyakarta dan Semarang.
