Lingkungan Sosial Budaya RSUD Kertosono Nganjuk

Sebagai kawedanan, Kertosono membawahi empat kecamatan yaitu Kecamatan Kertosono, Kecamatan Patianrawa, Kecamatan Baron, Kecamatan Ngronggot. Kertosono itu selain kawedanan juga kecamatan. Kecamatan Kertosono membawahi desa desa Banaran, Kudu, Kutorejo, Pelem, Bangsri, Drenges, Juwono, Kalianyar, Kepuh, Lambang Kuning, Nglawak, Pandantoyo, Tanjung dan Tembarak.

Untuk meningkatkan pembangunan nasional diperlukan sistem pemerintahan yang demokratis dan efektif. Ada baiknya belajar dari pengalaman sejarah, bagaimana menata birokrasi pemerintahan yang efektif.

Pengalaman menarik adalah dari pemerintah masa silam mengatur birokrasinya. Bertumpu pada sistem politik yang sentralistik. Untuk birokrasi pemerintahannya diatur dengan jenjang kekuasaan dan rentang kendali yang ketat. Pimpinan tertinggi pemerintahan, membawahi gubernur pada tiap propinsi.

Gubernur membawahi residen pada tiap karesidenan. Residen membawahi bupati/ walikota di setiap kabupaten/kota. Khusus di kabupaten, selain ada bupati, diangkat pula asisten residen. Bupati membawahi wedana untuk kawedanan atau distrik.

Wedana membawahi asisten wedana atau camat, akhirnya camat membawahi kepala desa/lurah. Jajaran birokrasi pangreh praja seperti itu sangat efektif mengendalikan pemerintahan di seluruh wilayah yang luas. Kaum priyayi umumnya selalu berada di kota kota, bahkan salah satu ciri Jawa modern yang secara sosiologis paling menarik adalah besarnya jumlah priyayi di kota kota.

Kehidupan sosial budaya berkembang. Masyarakat rukun hampir tidak ada konflik sosial. Seni budaya berkembang utamanya seni tradisional seperti wayang, karawitan, ludruk dan sebagainya. Kegiatan olahraga juga berkembang. Kertosono pernah memiliki perkumpulan sepak bola yang kuat. Juga pemain bulu tangkis tingkat nasional.

Penduduk Kertosono orang Jawa dengan sedikit China, Arab dan pendatang dari daerah lain seperti orang Banjar, Sunda dan Madura. Mereka menganut budaya Jawa dengan gaya mataraman yang halus dan santun. Kehidupan agama beragam, dengan mayoritas memeluk agama Islam.

Pada tahun 1970 wilayah kertosono telah terjadi banjir yang mengakibatkan banyak masyarakat harus mengungsi di daerah yang lebih tinggi. Banjir hampir 2 minggu menggenangi pemukiman dan area persawahan masyarakat dan jalur lalu lintas Lengkong Kertosono. Banjir bermula dari jebolnya tanggul sungai Brantas dan anak sungai Brantas yang berada di sebelah barat Kertosono.

Dari pihak pemerintah kabupaten Nganjuk sendiri survey ke lokasi banjir, sekaligus bupati maupun wakil bupati ikut turun ke lapangan. Rombongan bupati menaiki perahu sampan melihat banjir lebih dekat. Selain itu rombongan dan bupati Nganjuk memberi pengarahan kepada petugas lapangan agar secepatnya ditangani, salah satunya tentang bantuan bahan makanan dan kesehatan.

Tiap kegiatan sosial sebaiknya menyertakan tenaga medis. Demi keamanan dan kenyamanan. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.

C. Kegiatan Seni Budaya RSUD Kertosono.

Dr Tien Farida Yani selaku pimpinan RSUD Kertosono pernah nanggap wayang semalam suntuk. Dengan dalang kondang dari Solo. Yakni Ki Muhammad Bayu Pamungkas. Putra Dalam terkenal Ki H Anom Suroto. Sambutan masyarakat sangat hangat dan bersemangat.

Pentas kali ini mengambil lakon Sekar Wijaya Kusuma. Aji milik Prabu Kresna yang bisa memberi daya penyembuhan. Pentas kali ini menjadi sarana bersatunya rakyat dengan aparat, manunggaling kawula gusti.

Lebih jauh perlu ditulis aktivitas budaya masa silam. Budaya adalah sebuah sistem yang mempunyai koherensi. Bentuk bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep konsep epistemologis dari sistem pengetahuan masyarakatnya. Sistem simbol dan epistemologis juga tidak terpisahkan dari sistem sosial yang berupa stratifikasi, gaya hidup, sosialisasi, agama, mobilitas sosial, organisasi kenegaraan, dan seluruh perilaku sosial.

Dalam masyarakat Jawa khususnya warga Kertosono, semacam pendidikan humaniora yang mengajarkan nilai nilai kemanusiaan dan pernyataan pernyataan simbolisnya merupakan bagian integral dari sistem budaya. Kandungan pendidikan humaniora ditentukan oleh sistem pengetahuan yang dimiliki masing-masing subkultur, sehingga dapat ditemukan varian varian pendidikan humaniora sesuai dengan pengelompokan masyarakat.

Demi keselarasan lingkungan budaya ini, RSUD Kertosono sejak tahun 1973 dilakukan renovasi. Tahun 1920 rumah sakit ini didirikan. Setelah proklamasi kemerdekaan, RSUD Kertosono dimiliki oleh pemerintah RI. Tahun 1997 atas prestasi dan kerja kerasnya mendapat peningkatan status dari pemerintah pusat. Tahun 2012 RSUD Kertosono terakreditasi 5 pelayanan oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit). Waktu mendatang RSUD hendak menjadi pelopor peradaban yang anggun dan agung.

Sebagai salah satu kegiatan budaya, tiap bulan Agustus seluruh rakyat Indonesia memperingati kemerdekaan Negara Indonesia.
Begitu juga karyawan karyawati rumah sakit Kertosono tidak tinggal diam untuk mengisi kemerdekaan Bagsa Indonesia.

Di wilayah kecamatan Kertosono tiap 17 Agustus memperingati kemerdekaan dengan mengadakan upacara bendera yang diikuti semua jajaran pemerintahan, pelajar dan masyarakat umum. Selain itu juga untuk memeriahkannya, di kecamatan Kertosono diadakan perlombaan untuk masyarakat umum. Juga diadakan kegiatan karnaval mengelilingi kota Kertosono yang diikuti seluruh jajaran pemerintahan, pelajar dan masyarakat umum.

Rumah sakit Kertosono juga tidak mau kalah untuk meme-riahkan hari kemerdekaan Indonesia, dengan mengadakan acara pertunjukan kesenian rakyat. Dengan pimpinan rumah sakit, pada waktu itu dijabat dokter Koeswanto.

Beliau senang dengan seni budaya Jawa. Maka dari itu beliau mendatangkan pelatih kesenian wayang orang untuk melatih seluruh karyawan-karyawati rumah sakit Kertosono, untuk tampil pada saat 17 Agustusan. Sedangkan peralatan musik sampai perlengkapan make up maupun kostum semua dibelanjakan oleh Dokter Koeswanto.

Pada tanggal 18 Agustus 1976, rumah sakit Kertosono memperingati hari kemerdekaan dengan cara mengadakan kegiatan pementasan wayang orang di depan gedung rumah sakit.

Hampir semua karyawan rumah sakit ikut dalam kegiatan tersebut. Selain pementasan kesenian wayang orang, pihak rumah sakit juga mengadakan perlombaan catur di gedung rumah sakit Kertosono. Selain catur juga perlombaan kartu birlt, semua perlombaan diikuti masyarakat umum.

Ibu ibu darma wanita turut serta dalam menunjang aktivitas budaya RSUD Kertosono. Selain kegiatan pelayanan kesehatan, hampir semua karyawati rumah sakit Kertosono mengikuti kegiatan darma wanita di kecamatan Kertosono, tepatnya di gedung kawedanan Kertosono.

Kegiatan darmawanita tesebut diperkirakan kurang lebih pada tahun 1976 an. Darmawanita melakukan kegiatan dala mengisi acara hari besar nasional maupun hari rutinan kumpul karyawan maupun istri dari karyawan pegawai negeri pemerintahan di sekitar kecamatan Kertosono. Darma wanita dilakukan di kawedanan Kertosono dilakukan rutinan setiap satu bulan sekali dan ketika kegiatan hari besar tertentu.

Dalam suasana gembira ria itu, Dr Tien Farida Yani pernah mendapat tugas untuk memimpin RSUD Kertosono Nganjuk. Dengan selamat sentosa amanah kepemimpinan itu dilaksanakan dengan maksimal dan profesional. Bersama dengan rekan kerja, RSUD Kertosono Nganjuk mewujudkan keadaan yang ayu hayu rahayu.

(LM-01)

BAGIKAN KE :