B. Wedharan Luhur.
Kanjeng Sunan Kalijaga mewariskan Sendang Joholanang sebagai sarana menyimpan tirta perwita sari. Yakni air kehidupan yang berguna untuk mengokohkan kekuatan lahir batin. Begitulah ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga guru suci ing Tanah Jawi. Dari sisi kultural selalu berprinsip momong momor momot.
Momor berarti mampu untuk bergaul, sosialisasi dan komunikasi. Dari sisi filosofis wejangan itu berhubungan dengan wulang wuruk kautaman. Wedharan ini dihayati pula oleh pembesar Kraton Pajang sejak tanggal 24 Juli 1546.
Adapun momot berarti mampu untuk menampung beragam aspirasi rakyat. Bhinneka Tunggal Ika. Sendang Joholanang secara simbolis mengajarkan ilmu sangkan paraning dumadi.
Momong mengandung makna mengasuh. Asah asih asuh. Manusia dan alam saling memerlukan. Buku tentang Sendang Joholanang ditulis oleh Mr Zail. Karya yang bagus ini telah memberi sumbangan berharga buat mengasah beningnya peradaban. Mari kita baca dengan saksama.
Kesadaran ekologis dan teologis menempati komposisi harmonis. Masjid Al Munawarroh menumbuhkan kesadaran teologis ketuhanan. Agar terjaga kualitas iman ilmu amal. Kesadaran teologis ini dihayati oleh murid Sunan Kalijaga yang mendirikan kerajaan Mataram tahun 1582.
Aspek cipta rasa karsa diimbangi adanya pohon padmonobo, pandan sirap, ringin putih. Pepohonan mengayomi watu gilang tempat sholat Sunan Kalijaga.
Wedharan dalam lingkungan sendang Joholanang ini mengandung nilai simbolis. Ajaran pasemon ini tentu mencerahkan. Murih padhanging sasmita.
Sri Susuhunan Amangkurat Agung pernah melakukan siram jamas di sendang Joholanang pada tanggal 14 Juni 1647. Ritual ini buat ketentraman seluruh rakyat negeri.
Sendang Joholanang peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga layak untuk dikaji, digunakan secara tepat dan dijaga. Biar selalu pinanggih rahayu lestari.
(LM-01)
