Oleh Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
A. Sejarah Pajimatan Imogiri
Kraton Surakarta Hadiningrat dipimpin oleh Pengageng Sasana Wilapa, GKR Wandansari melakukan tata cara nyadran. Upacara ini bertempat di Pajimatan Imogiri, yang digunakan sebagai makam raja-raja Jawa. Kegiatan nyadran ini diselenggarakan pada hari Kamis Wage, tanggal 19 Mei 2016.
Astana Pesareyan Imogiri dibangun oleh Kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Beliau adalah raja ketiga Mataram yang memerintah tahun 1613-1645. Para Raja Mataram pendahulunya yaitu Panembahan Senopati (1575-1601) dan Prabu Hadi Hanyokrowati (1601-1613) dimakamkan di Hastana Kota Gedhe.
Sultan Agung Hanyokro Kusumo selalu menjalankan sholat Jumat di Mekkah. Pulang ke Kraton Mataram membawa batu dari Tanah Suci. Batu sakti tersebut dilempar dari Tanah Arab. Jatuhlah batu ajaib tersebut di atas Gunung Merak Imogiri pada tanggal 30 Juni 1640. Sultan Agung mulai membangun makam untuk keluarga dan keturunan Kraton Mataram.
Pada tanggal 1 Januari 1641 Sultan Agung mendapat gelar Khalifatullah dari Kasultanan Turki. Selama pembangunan Hastana Pajimatan Imogiri, Sultan Agung mendapat bantuan dari Raja Mesir, Persia, Yaman, Gujarat, Samudra Pasai, Delli Serdang dan Kasultanan Melayu. Sejak itu tanah di Pajimatan Imogiri selalu meniupkan bau harum wangi semerbak.
Sesungguhnya kraton Surakarta selalu sowan di pesareyan para leluhur yang tersebar di seluruh tanah Jawa dan Madura. Misalnya : makam Ki Ageng Tarub, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Enis, Ki Ageng Ngerang, Panembahan Senopati, Sri Susuhunan Amangkurat Tegal Arum dan Bathara Katong Ponorogo.
B. Tata Cara Nyadran di Pajimatan Imogiri
Tata cara nyadran yang dilakukan Kraton Surakarta Hadiningrat melibatkan abdi dalem, sentana dan pengageng kraton. Setiap tahun diselenggarakan secara rutin. Adapun makam para raja yang disowani yaitu para raja Mataram dan raja Surakarta Hadiningrat. Para abdidalem yang tergabung dalam Paguyuban Kawula Kraton Surakarta (Pakasa) dengan setia mengikuti jalannya upacara. Mereka berasal dari Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Klaten, Ngawi, Ponorogo, Kediri, Nganjuk, Blitar, Malang, Surabaya, Tuban, Grobogan, Semarang, Cilacap, Jakarta dan Banyumas.
Para abdidalem Pakasa dibagi menurut kelompok dan tugasnya. Hal ini mengingat jumlah peserta yang banyak, maka demi efektifitas dan efisiensi, pembagian itu dilakukan pada masing-masing kompleks makam. Untuk pertama kalinya doa bersama ditujukan kepada makam raja Sultan Agung. Kemudian upacara nyadran dilakukan di masing-masing raja sesuai dengan urutan waktu saat memerintah.
1. Sultan Agung
Kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo mangkat pada hari Jum’at Legi tahun 1645 M. Beliau merupakan raja yang pertama kali dimakamkan di Hastana Pajimatan Imogiri.
Di sebelahnya juga dimakamkan GKR Batang, permaisuri Sultan Agung. Turut serta para abdi dalem setia, seperti Dalang Panjangmas. Orang-orang terdekat ini mendapat kesempatan untuk beristirahat di Hastana Imogiri.
2. Susuhunan Amangkurat Amral
Kemudian putranya menggantikan menjadi raja dengan nama Kanjeng Susuhunan Amangkurat Amral yang bertahta di Kartosuro. Tak lama ia memerintah akhirnya mangkat pada hari Sabtu Kliwon jam 8 malam pada tanggal 23 Jumadilakir tahun Alip 1627 atau 1703 Masehi.
3. Susuhunan Amangkurat Mas
Ia digantikan puteranya yang bergelar Kanjeng Susuhunan Amangkurat Mas. Beliau wafat pada tahun 1708.
4. Susuhunan Paku Buwono I
Kekuasaan dipegang oleh pamannya yang bergelar Gusti Pangeran Puger dan bergelar Kanjeng Susuhunan Paku Buwono ke 1 (PB I) di Semarang hari Rabu Kliwon tanggal 2 Dukaidah tahun Ehe 1628 (masehi 1708). Beliau mangkat pada hari Senin Legi tanggal 7 Besar tahun Jimakir 1642 atau 1719 Masehi.
5. Susuhunan Amangkurat Jawi
Sesudah kekuasaan Kartasura dipegang oleh Kanjeng Susuhunan Amangkurat Jawi yang jatuh pada hari Ahad Paing tanggal 17 Besar tahun Jimakir 1642 atau 1719 Masehi. Beliau wafat pada tahun 1726 Masehi.
6. Susuhunan Paku Buwono II
Susuhunan Paku Buwono Se¬napati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panata Gama Khalifatul¬lah Ingkang Kaping II Ing Negari Surakarta Hadiningrat, putra dalem Susuhunan Prabu Amang¬kurat Jawa di Negari Kartasura. Lahir Se-lasa Pahing, 23 Sawal 1634 atau 8 Desember 1711 di Kartasura. Setelah dewasa dinobatkan menjadi Pan¬geran Adipati Anom. Menjadi raja pada hari Kamis Legi, 16 Besar 1650 atau 15 Agustus 1726, masih di Kartasura. Permaisurinya yaitu Kanjeng Ratu Mas, putri Kanjeng Panembahan Purbaya di Lamongan. Paku Buwono II wafat pada hari Minggu Kliwon, 11 Sura 1675 Saka atau 20 Desember 1749 Masehi.
7. Susuhunan Paku Buwono III
Sinuwun Kanjeng Susuhu¬nan Prabu Amangkurat Jawa Senapati Ing Ngalaga Abdur¬rahman Sayidin Panata Gama Khalifatullah Ingkang Kaping III Ing Negari Surakarta Hadiningrat, putra dalem Susuhunan Paku Buwono II. Lahir dari permaisuri GKR Mas, pu¬trinya Panembahan Purbaya, Bupati Lamongan. Panembah¬an Purbaya adalah putra dalem Susuhunan Paku Buwono I. Nama BRM Gusti Suryadi.
Lahir pada hari Sabtu Wage, 26 Ruwah 1656, atau 24 Februari 1732. Menjadi raja pada hari Senin Wage, 5 Sura 1675, atau 15 De¬sember 1749. Permaisurinya yaitu Kanjeng Ratu Kencana, putri Ki Tumenggung Wirareja, Bupati Nayaka Gedhong Kiwa. Paku Buwono III wafat pada hari Jum’at Wage, 25 Besar 1714, atau 26 September 1788 Masehi.
8. Susuhunan Paku Buwono IV
Sinuwun Kanjeng Susuhu¬nan Prabu Amangkurat Jawa Senapati Ing Ngalaga Abdur¬rahman Sayidin Panata Gama Khalifatullah Ingkang Kaping IV Ing Negari Surakarta Hadiningrat, disebut Sunan Bagus, putra dalem Susuhunan Paku Buwono III, nomor 17 lahir dari permaisuri Ratu Kencana. Nama BRM Gusti Sub¬adya. Lahir pada hari Kamis Wage, 18 Rabi’ul Akhir 1694 atau 2 September 1768. Menjadi raja pada hari Senin Paing, 28 Besar 1714, atau 29 Septem¬ber 1788. Permaisurinya Kanjeng Ratu Adipati Anom atau Kanjeng Ratu Kencana, putri dari Raden Adipati Cakraningrat, Bupati Pamekasan, Madura. Paku Buwono IV wafat Senin Paing, 23 Besar 1747, atau 1 Oktober 1820 Masehi.
9. Susuhunan Paku Buwono V
Susuhunan Ingkang Kaping V putra dalem Susuhunan Paku Buwono IV, lahir dari permaisuri GKR Kencana, putrinya Adipati Cakradiningrat, dari Pa-mekasan Madura. Nama Ben¬dara Raden Mas Gusti Sugandi. Pada usia satu setengah tahun ibunya meninggal dunia, sehingga diasuh oleh ayahandanya sendiri. Lahir pada hari Se¬lasa, 5 Rabi’ul Akhir 1711, atau 15 Februari 1785. Dinobatkan menjadi Pangeran Adipati Anom pada hari Senin Legi, 24 Besar 1718. Menjadi raja pada hari Selasa, 3 Muharam 1748, atau 10 Oktober 1820. Wafat pada hari Jum’at, 29 Besar 1750, atau 5 September 1823 Masehi.
10. Susuhunan Paku Buwono VI
Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Jawa Senapati Ing Ngalaga Abdurrahman Say¬idin Panata Gama Khalifatullah Ingkang Kaping VI ing Negari Surakarta Hadiningrat atau Sunan Bangun Tapa, putra dalem Susuhunan Paku Buwono V nomor 11, lahir dari garwa ampeyan Raden Ayu Sasrakusu¬ma. Nama GRM Sapardan. Lahir pada hari Ahad Wage, 18 Sapar 1734, atau 26 April 1807. Dinobatkan menjadi raja pada hari Senin, 10 Sura 1751, atau 15 September 1824. Permaisurinya ada dua, GKR Kencana Raden Ajeng Handaya, putri Adipati Cakradiningrat dari Pa¬mekasan, Madura. Wafat pada hari Ahad Pon, 12 Rejeb 1777 atau 2 Juni 1849 di Ambon.
7. Susuhunan Paku Buwono VII
Susuhunan Paku Buwono Kaping VII Ing Negari Surakarta Hadiningrat, putra dalem Susuhunan Paku Buwono IV, lahir dari permaisuri Raden Ajeng Sukaptinah, putri Adipati Cakradiningrat dari Pamekasan, Madura. Nama BRM Gusti Ma¬likus Shalihin atau Sunan Purbaya. Lahir pada hari Kamis Wage, 16 Muharam 1723 atau 28 Juli 1796. Ketika menjadi pangeran bernama KGPAA Purbaya, menjadi raja pada hari Senin Wage, 22 Besar 1753 atau 14 Juni 1830. Wafat pada hari Senin Legi, 27 Siam 1786 atau 28 Juli 1858 Masehi.
8. Susuhunan Paku Buwono VIII
Susuhunan Paku Buwono Senapati Ing Ngalaga Abdur¬rahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Kaping VIII Ing Negari Surakarta Hadin-ingrat, disebut juga Sunan Bei, putra dalem Susuhunan Paku Buwono IV. Lahir dari garwa ampeyan Raden Ayu Rantansari, putri Raden Ngabehi Jayakartika, abdi dalem mantri Kadipaten Anom. Nama GRM Kusen. Lahir pada hari Senin, 20 April 1789. Menjadi pangeran pada hari Kamis 15 Besar 1731 atau 1805, dengan nama KGPH Hangabehi. Wafat pada hari Sabtu Wage, 25 Jumadilakir 1790 Saka atau 28 Desember 1861 Masehi.
