oleh

Mider Budaya di Negeri Singapura

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, Hp: 0878 6440 4347)

A. Menjalin Diplomasi Budaya.

Kerabat Kesultanan Singapura. Majlis Adat dan Budaya Kerabat Kesultanan Singapura warisan Sultan Hussien Shah mengadakan diskusi komparatif budaya Melayu dan Jawa pada tanggal 14 – 17 April 2015 Rombongan Bebadan Museum Pura Pakualaman. Berangkat dari Bandara Adisucipto pukul 10.00 pagi WIB. Waktu itu hari Selasa tanggal 14 April 2015. Jarak tempuh Yogyakarta – Singapura sekitar 2 jam. Naik pesawat Silk Singapore Air.

Tiba di Singapura pukul 12.00. Makan siang di foodcourt sejenis pujasera Yogya. Tiap kios kebagian kecil-kecil. Lebih luas dibanding Kopma UGM. Pesen minuman teh anget dan degan. Cuma kelapanya sudah agak tua. Lauk pauk ikan laut dan udang. Bumbunya pedas sekali. Maka disebut bumbu racun. Beda dengan kuliner di Solo yang menyediakan rasa serba gurih. Duduk santai kira-kira 2 jam lamanya.

Bebadan Museum Pura Pakualaman diterima oleh YM Tengku Mohammed Shawal Bin YM Tengku Abdul Aziz, Pemangku Adat Majlis Adat dan Budaya Kerabat Kesultanan Singapura, Istana Kampug Gelam. Tuan rumah didampingi oleh Raden Roslan Abbas. Beliau bergelar Pangeran Sri Prabu Raksa Bumi Kesuma. Beliau pengelola PT Cuffz Niaga Internasional. Jabatannya sebagai director. Selama di perjalanan dibantu oleh Tuan Az Zahari, seorang Manajer Financial Services. Kota Singapura banyak apartemen dan kondominium. Mirip pagupon bertingkat.

Cuma harganya mengejutkan. Rata-rata 10 milyar untuk ukuran kecil. Sedang harga rumah seperti perumnas Minomartani sekitar Rp. 100 milyar. Meskipun begitu orang Indonesia banyak yang punya rumah di Singapura. Hebat benar. Biaya sebesar itu bisa untuk njago pilkada atau daftar caleg. Tiket menjadi Bupati atau anggota DPR.

Sore harinya duduk duduk di depan penginapan. Kebetulan menghadap pantai Johor. Pemandangan biasa, tapi terawat dan bersih. Pantai itu berlokasi di 104 Pasir Ris Rd, Hayes Road Singapura. Orang Jawa yang tinggal di Singapura jumlahnya banyak. Sebagian yang jelas terkenal jadi TKI dan TKW. Mereka begitu krasan bekerja di Singapura. Sambil membayangkan masa lampau, mata memandang Selat Johor. Seberangnya adalah negeri Malaysia. Tanggal 9 Agustus 1965 Malaysia dan Singapura resmi berpisah.

Sehabis Isya acara dilanjutkan makan malam. Juru masaknya keturunan Jawa dari kampung Pacitan. Namanya Mbak Rukmini. Dia sukses sebagai pengusaha catering. Setiap penginapan dilengkapi dengan fasilitas pawon bakaran. Tungkunya masih pakai areng. Membakar sate dikipasi. Ayam, udang, kentang dan otak-otak dibakar atau dipanggang. Makan malam dengan lahap. Tempatnya di halaman yang dekat dengan pantai.

Rupa-rupanya keluarga Mbak Rukmini penggemar sejarah. Adik Mbak Rukmini menjadi artis terkenal, namanya Adi Putra. Sedang nama Dewi Rukmini dalam pewayangan adalah tokoh yang menjadi permaisuri Prabu Kresna, Raja negeri Dwarawati. Mereka terdidik mendatangi tanah leluhur. Ziarah ke Tuban, Semarang, Imogiri, Surakarta dan Pacitan. Bahkan semua makam Wali Sanga didatangi. Mereka juga hafal sejarah para raja dan pujangga Jawa. Bertemu dengan pengageng Sasana Wilapa Kraton Surakarta. Meskipun hidup di Singapura ternyata mereka rindu dengan kehidupan lampau. Mereka terbiasa membaca Babad Tanah Jawi.

Cerita tentang Kerajaan Majapahit, Singasari, Demak, Kediri, Mataram, Kartasura dan Surakarta menjadi menu mereka sehari-hari. Bayangan mereka terhadap kehidupan kerajaan itu adalah masa kejayaan yang menyenangkan. Satu per satu petilasan di Tanah Jawa di datangi. Jarak Singapura – Jawa yang hanya 2 jam tentu amat dekat. Bila dibandingkan dengan naik bus umum Nganjuk – Yogya yang memakan waktu 7 jam. Warga Singapura Jawa terlalu gampang untuk berinteraksi.

Sempat cerita pula tentang kepartaian di Singapura. Sepuluh partai yang ikut pemilu di Singapura. Sambil berkelakar mereka ingin hidup di negeri Indonesia. Bebas, liberal dan bisa semau-maunya. Demokrasi tidak terlarang. Memaki-maki pejabat boleh. Ngobak-ngobak regol DPR biasa. Banyak warga Singapura melancong ke Tanjungpinang dan Batam. Kerja di Singapura, belanja di Indonesia. Pasti menguntungkan. Penghasilan banyak, pengeluaran hemat. Barangkali adalah prinsip ekonomi yang benar.

Liputan JUGA  Prediksi Singapura Bahwa Pandemi Covid-19 Akan Berakhir dalam Waktu 4-5 Tahun

B. Kota Tamasek

Sebutan buat negeri Singapura dulu yaitu kota Tamasek. Perlu dikenal lebih lanjut. Hari Selasa, 15 April 2015 pukul 4 mandi, sholat Subuh dan wedangan yang disediakan Mbak Yani. Dalam rombongan berperan sebagai kepala logistik dan perlengkapan. Dia orang Bantul yang rajin. Kaki melangkah 50 m menuju pantai Johor. Matahari terpantul oleh air. Seolah-olah ada matahari kembar. Marbabak bang sumirat. Orang berlari pagi. Suasana sunyi sepi. Melihat tukang sapu membersihkan halaman pantai. Mereka naik sepeda onthel. Burung-burung beraneka rupa sama riuh. Tidak ada plinthengan. Apalagi mbedil burung. Sebetulnya semua orang bisa. Jangan sampai burung habis.

Pantai Johor dangkal. Tidak ada perahu berlabuh. Cuma bagian tengah saja terdapat perahu berlayar yang membawa barang. Maklum pantai ini sebagian besar sudah dibuat reklamasi. Pinggiran pantai diurug pasir. Wilayah Singapura perlu tanah perluasan. Ada tulisan no camping. Tidak boleh mendirikan tenda untuk kemah. Apalagi tidur di sembarang tempat. Pohon kelapa berjajar-jajar. Tapi tak berbuah. Pasti itu pohon kelapa pindahan. Kanan kiri wit trembesi agrom ngrembuyung, teduh, segar.

Bagaimanapun juga kesannnya semua itu tetap barang buatan. Tidak asli. Berbeda dengan sekitar gunung Merapi Merbabu. Pemandangan indah memang alami. Cuma tidak dirawat, tidak dipelihara, tidak dihargai. Mungkin karena sudah biasa, lantas tidak ada sikap melu handarbeni. Semua berlangsung begitu saja. Hutan, gunung, sungai, sawah, tanduran, burung, hewan, sapi, kerbau, ayam, belut, lele, adalah keindahan asli.

Di seberang selat Johor adalah negeri Malaysia. Jaraknya dekat sekali. Kira-kira jaraknya seperti sungai Musi di Palembang. Lebih dekat dibanding dengan jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan pulau Madura. Letak pantai Pasir Ris ini sebelah ujung timur Singapura yang menjorok ke utara. Bagian wilayah yang kurang dikenal oleh publik Indonesia. Umumnya orang Indonesia mengenal Singapura di kawasan Orchad Road atau Masjid Sultan. Orchad Road sama dengan jalan di Yogyakarta, Malioboro. Orang sibuk belanja, terutama kalangan ibu-ibu.

Keganjilan yang muncul adalah barang-barang yang dijual di Orchad Raod berasal dari Bandung, Pekalongan, Surakarta dan Surabaya. Diberi merk Singapura harga berlipat seratus kali. Ditipu melek-melekan. Mbujuki, kata arek Surabaya. Yang kebangetan orang Indonesia. Jelas-jelas tahu Singapura tak punya produk, malah dijadikan pusat belanja. Merasa bergengsi pula. Kalau cuma jadi tukang belanja sampai kapan pun orang Indonesia akan remuk, bonyok dan repot. Seharusnya memikirkan anak cucu.

Tamu kehormatan bernama Pak Chan. Beliau pernah mengelola Chan Institut di jalan Diponegoro 10 Yogyakarta. Sebelah barat Tugu. Dulu terkenal memberi kursus ketik manual 10 jari. Sayang sekarang berubah menjadi toko Mebel. Dulu salah satu syarat menjadi PNS, Polri, ABRI dan Swasta harus lulus dan trampil mengetik sepuluh jari. Lulusan Chan Institut tersebar di seluruh pelosok nusantara. Mereka menduduki jabatan birokrasi sipil dan militer. Murid-muridnya berhasil meniti karier. Pak Chan sebagai pengelola orangnya ramah, hangat dan amat sopan.

Usia Pak Chan kini sudah mencapai 82 tahun. Tinggal di Singapura sejak tahun 2006 pasca gempa bumi di Yogyakarta. Bersama istrinya kini tinggal bersama anak cucu di Singapura. Tahun 2011 istrinya meninggal dunia karena serangan jantung. Sewaktu-waktu beliau pergi ke Yogyakarta untuk bernostalgia sambil rekaman lagu-lagu klasik. Direkam dalam CD lantas dibagi-bagikan kepada handai taulan.

Liputan JUGA  Pelantikan anggota DPR RI.DPD RI.MPR RI

Tinggal di Singapura aman dan mudah bagi lansia. Transportasi umum berjalan sangat teratur. Sewaktu-waktu tersedia. Cuma biaya hidup tinggi sekali. Dua kali tinggal di Malaysia. Satu hal yang beliau katakan bahwa meninggal dunia di Singapura cuma boleh dikubur selama 16 tahun. Setelah itu kuburan dibongkar. Tulang belulang dibakar dan dilarung di laut. Bekas kuburan itu dijadikan hutan kota. Alih fungsi ini mengingat lahan sudah habis. Dari hutan bekas kuburan ini berubah menjadi mall belanja. Contohnya Orchad Road. Orang sudah lupa jika itu bekas makam. Semua itu terjadi di Singapura. Aturan resmi pemerintah. Enak mati di pulau Jawa. Biar sudah mati tetapi tetap abadi.

Pemandu kali ini Bu Sapiah Idris keturunan Bugis Jawa. Ibunya berasal dari Jawa Banyumas. Orangnya grapyak sumanak, ramah tamah, bersuka ria, bersinar terang, penyayang, penolong, luwes, mentes dan pantes. Sulistya ing warna karengga busana. Cantik celita tiada tara. Kurang candra luwih rupa. Artinya kelebihan dalam segala hal yang meliputi ber banda ber bandu ber budi bawa leksana. Maka diajaklah ke Pasar Bugis Jansen. Ingat kampung Yogyakarta Bugisan. Dari kios ke kios yang ditawarkan kain, tas benda kerajinan. Dalam hati bertanya, jangan-jangan kaos ini dari Solo, kerajinan dari Kotagede, tas dan sepatu dari Bandung. Demi kompromi lantas beli tiga biji kaos. Kualitas mirip produk Dagadu. Sebenarya sedikit terpaksa. Untuk beli kaos di Singapura. Di Yogya saja berlimpah ruah.

Kartu ini hadiah dari Bu Sapiah Idris

Hawa di Singapura semeles panas. Pukul 13.00 perlu energi baru. Makan siang di warung Vietnam. Menunya serba mie. Dengan mangkok raksasa sulit menghabiskan. Siang itu keliling kota Singapura dengan naik bis umum dan kereta api. Bayarnya dengan kartu elektronik. Ternyata struktur kota Singapura mirip dengan kota London.

Berkunjung ke Malay Heritage Centre, Kampung Gelam istana kesultanan Singapura. Pemerintah melakukan renovasi istana yang sudah lama berdiri ini. Letaknya dekat dengan masjid. Bercat kuning mirip kasultanan Serdang Bedagai. Tamu masuk terdengar suara musik Melayu. Mengingat pada bunyi musik di Istana Maemun Medan, Sumatera Utara. Makam Sultan Singapura yaitu Sultan Iskandar Syah. Tempatnya di perbukitan. Mirip astana Giri Bangun Karanganyar. Tempat makam keluarga Pura Mangkunegaran dan Presiden Soeharto. Raja membuat makam biasa di perbukitan atau gunung. Lambang keluhuran dan kemuliaan.

Perjalanan dilanjutkan ke Little India. Pasar yang dijajakan oleh orang-orang India. Di sana dijual ragam bunga, melati, mawar, kenanga. Kembang untuk ritual. Kraton Surakarta Hadiningrat juga memiliki desa yang khusus menanam bunga, yaitu desa Paras Cepogo Boyolali. Di sana terdapat Pesanggrahan Pracimoharjo. Dupa kemenyan, ratus, garu, rasamala yang dijual dalam rangka untuk perlengkapan upacara tradisional. Bau harum dupa memberi suasana Hinduisme. Mengingatkan pada sinetron India Jodha Akbar. Cerita kerajaan India yang sedang menjadi favorit orang Indonesia.

Rupa-rupanya banyak warga negara India yang sukses membangun bisnis di Singapura. Mereka bergerak dalam bidang mall, supermarket, rumah makan, dan peralatan muslim. Orang Melayu dan Jawa pelan-pelan dapat membaca peluang bisnis di Singapura. Hanya saja orang Indonesia yang sukses di Singapura kebanyakan WNI Keturunan. Asalnya dari Surabaya. Ini sudah lumayan. Mudah mudahan orang Jawa sendiri ke Singapura tidak hanya sibuk belanja. Hedonistik perlu diimbangi sikap produktif dan kreatif.

Berputar-putar di negeri Singapura, sejauh mata memandang terdapat apartemen, mall, kondominium. Tidak ada rumah kampung dan perkampungan. Orang tinggal di apartemen. Lebih baik lagi kondominium. Kalau kaya betul baru mempunyai rumah atau villa. Tanah sempit dan penuh sesak. Tidak mungkin lagi dibuat perkampungan. Tak ada sawah, tak ada kebun. Yang ada hutan buatan. Sekali tempo lapangan olahraga. Maka orang Singapura harus gemi nastiti ngati-ati. Hemat cermat bersahaja supaya kopen dan kajen.

Liputan JUGA  POLEMIK UCAPAN AWK: TEJA INGATKAN ELIT HARGAI BUDAYA BALI, DAN DIMINTA DUDUK BERSAMA

Semiskin-miskin orang Jawa tentu punya rumah. Lengkap dengan isinya. Tempat tidur, dapur, meja, kursi. Pada kenyataannya jelas punya sandang, pangan, papan. Sebenarnya jika dipikir-pikir semua orang Jawa itu kaya. Punya sawah, kebun, ternak dan buah-buahan. Hebat benar. Pikiran yang meyakini bahwa sawah, kebun, pekarangan, ternak, perikanan dan kerajinan itu barang mewah. Pikiran bahwa rumah gedhek itu simbol kemiskinan pasti tidak benar. Kerja di sawah itu kemuliaan dan membuahkan kesejahteraan.

Pasir Ris Park, tempat kuliner dan pemancingan tutup hingga pukul 24.00. Diskusi mengenai politik dengan Rosli Rahmad. Dia menjadi Ketua Kebajikan PKMS (Pertubuhan Kebangsaan Melayu Singapura) 218F Changi Road PKMS Building Singapore 419737. Orangnya ramah, supel dan penuh canda ria. Kadang-kadang tertawanya meledak. Ngguyu ngakak. Dia membayangkan ikut menari Gambyong dan Tayuban sambil nenggak ciu. Terdengar sayup-sayup bayangan lagu kledhek : ciu gambar manuk aku melu apa enthuk, ciu sak gelase aku melu selawase. Kini dia juga menggagas berdirinya organisasi PMS atau Pertubuhan Masuk Surga. Sehari-hari kerja dalam industri plastik. Bila ada waktu dan kesempatan di rajin sekali berkunjung ke Tanah Jawa. Tertarik sekali untuk membuat rekaman budaya Melayu dan Jawa dengan diiringi gamelan.

Rupa rupanya dia tertarik dengan rekaman yang dilakukan oleh PARIWARA (Paguyuban Pelestari Budaya Jawa Murih Arum dan Kuncara) yang telah membuat dokumentasi lagu-lagu Jawa. Diunggah lewat Youtube dan internet rekaman Sanggar Seni Bandung Bandawasa Prambanan ini menjadi terasa mewah, megah, bergengsi dan mendunia.

Jadwal hari Kamis tanggal 16 April 2015. Jalan pagi menghirup udara segar. Memperhatikan anak anak playgroup. Kebetulan sebelah villa penginapan terdapat lembaga pendidikan. Diselenggarakan dengan penuh hari, fullday. Di depannya ada halte bus yang bisa tersambung ke segala penjuru Singapura. Anak balita itu tiap hari tahu halte, bus umum, pantai, burung, pohon, pegawai, kuli, cleaning service, perahu, orang mancing, senam, permainan, air, dan matahari. Semua serba terjangkau, mudah dan murah. Keteraturan, ketertiban dan perawatam jadi kata kunci.

Anak di Indonesia bagaimana ? Hebat juga. Malah lebih mengagumkan. Tiap hari bisa melihat gunung, sungai, sawah, tanaman padi, jagung, tebu, sapi, kambing, garu, luku, krakal, pisang, pasar, jajan. Itu pendidikan pokok. Bahan ajar yang sudah tersedia berlimpah ruah. Sedikit yang mengganggu. Adanya plastik, pestisida, bahan pengawet, zat kimia terlalu dominan. Itu gangguan nyata. Sebaiknya dikurangi. Nanti mengganggu kecerdasan, kecerdikan, kecakapan dan kecekatan murid.

Diskusi tentang budaya Jawa dan Melayu dilakukan di Gedung Kuning (Yellow Mansion) Mamanda Sultan Gale, Kampung Gelam Heritage Trail. Malay Heritage Centre Istana Kampung Gelam dibangun tahun 1840. Gedung dengan warna kuning mirip replika Kesultanan Serdang Bedagai. Kanan kirinya taman yang bisa digunakan untuk arena bermain. Ciri ciri utama Melayu memang dominan warna kuning cerah. Para pelaut dengan ombak yang berdebur selalu tampak dinamis. Gerak dan riak mewarnai gelombang laut.

Sebagai narasumber adalah Dr. Purwadi, M.Hum dari Universitas Negeri Yogyakarta. Pembicara lain adalah Ir. H. Soekirman, Bupati Serdang Bedagai Sumatera Utara. Datang bersama sang istri, Bu Hj. Marliah. Didampingi Kabag Humas Bu Endeh dan Kabag Umum Kabupaten Sergai. Kedua pembicara membahas arti penting diplomasi kebudayaan Melayu, Batak dan Jawa di era globalisasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.