Tapi Alhamdulillah, dari 3 Fakultas di Kampus Gedung Arca dan setidaknya 1000an mahasiswa dari paling tidak 6 jurusan. Hanya 3 berandal Fakultas Ushuluddin/Dakwah yang mau ku ajak diskusi. Mereka adalah Aspian Hadi, Misran dan Zul Fadli hahahaha.
Tapi jangan pesimis dulu kawan. Nantinya 3 orang berandal inilah yang bersamaku, bahu membahu, provokasi, agitasi dan ber propaganda dan ujungnya menggerakkan Kampus I UMSU Gedung Arca jadi pasien tetap demo demo di tahun 98.
Mulai dari demo di FH USU sampe bentrok bentrok dengan PHH, Bentrok di Kampus Nommensen, Bentrok di Gedung Arca ITM dan UMSU, 3 berandal ini haram absen, pantang tak hadir dan merasa berdosa jika tak datang aksi hahahaha.
Kembali ke rencanaku mengajak mahasiswa Kampus UMSU Gedung Arca untuk melek politik. Heboh. Ya, hanya heboh yang ku dapat. Kampus Gedung Arca heboh, karena ada 4 berandal yang halu dan mimpi siang bolong mau melengserkan Presiden Soeharto dan mendukung Amin Rais jadi Presiden.
Endingnya, tak seperti di filem filem cuy. Kami dipanggil Dekan III FAI UMSU gegara kehaluan tingkat dewa kami itu.
Biasalah akhirnya, kita berdebat, keluar urat leher, berbuih dan berbusa busa mulut. Perdebatan sengit dan merambah kemana mana. Rambut ku dan Aspian yang gondrong juga ikut kenak serang hahahaha.
Namanya aku mahasiswa dan udah di dikpol PRD pulak. Mana mau kalah aku ah.
Sampai terakhir dibilang sesat aku cuy. Gegaranya, saat argumen Dekan III yang menyatakan bagaimanapun kita harus tetap mendukung Presiden Soeharto sesuai konstitusi dan yang terpenting Presiden Soeharto adalah Presiden yang seiman dan muslim.
Naiklah darah preman gang suburku yang udah kenak dikpol PRD. Gak tau Pak Dekan III ini, Amin Rais For Presiden adalah isu unggulanku untuk merekrut anak UMSU, rencanaku bisa gatot (gagal total) jika diskusipun tak ada peminat, kek mana pulak mau merekrut ke PRD.
Dan yang lebih menyedihkan, apakah tak tau Pak Dekan III bahwa rakyat udah muak dengan rezim, mayoritas rakyat udah menunggu penggerak, kaum yang maju, kaum yang tercerahkan pada pelengseran Presiden Soeharto, salah baca buku jugak Pak Dekan III ini hehehehe
Tau argumenku apa? Ku bilang sama Dekan III itu, lebih baik dipimpin orang kafir tapi memimpin dengan cara Islami dari pada dipimpin oleh muslim se iman tapi dengan sistem kafir.
“Apa dalil pernyataan kau itu,” sergah Dekan III.
Gadak pakek dalil ini Pak. Logika itulah dalil saya.
“Sesat anda,” ketusnya
Hahahaha…
Masuk di tahun 98 awal, apa yang ku rintis tentunya atas support dari Aswan dan kawan kawan PRD mulai ada kemajuan. UMSU bisa familiar dengan PRD. Dari hanya 3 berandal FAI UMSU merambah ke Kampus III Muchtar Basri dan ke Kampus UMSU II Demak.
Kader PRD di UMSU memang sedikit. Tapi mereka mereka adalah pakar pakar kampus, gembong dan preman preman Fakultas di lingkungan UMSU hahaha.
Siapa yang tak kenal MH. Wahyu di UMSU, Affandi Jimbo di Fatek UMSU, Khaidir Harahap di FH, dan si Gondrong Aspian Hadi di Gedung Arca, Fauzi, Aulia Hardi, Rafdinal, Ikwaluddin Simatupang dan Panel Barus (Megawaty Harga Mati-kala itu hahahaha)
Mereka inilah lokomotif, yang ngegaspol Kampus UMSU 100 km/menit ke kancah demonstrasi 98.
Membawa kampus UMSU yang notabene pendukung status quo jadi kampus pengkoreksi Orba, menjadikan kampus UMSU salah satu kampus paling berani dan kritis di gerakan 98.
Usai 98, sekitar bulan Juli aku ditugaskan Aswan untuk pendidikan buruh di Jakarta. Dan organiser mahasiswa dilanjutkan oleh MH Wahyu, ditangan MH. Wahyu and his gank, berkembanglah PRD di UMSU sampai jadi salah satu basis PRD dan LMND di Sumut dengan beberapa tokohnya seperti Defri Noval Pasaribu, Ican Tebe, Ridho, Sugi dll.
Segini aja dulu. Haru biru Pra Gerakan 98 dan Pasca 98, sampai SI serta aksi aksi bersama buruh, tani, supir angkot sampai Pemilu 99 dimana PRD ikut jadi kontestan, masih coba ku suruh kumpul di ingatanku. Banyak yang ku lupa. Tahun, bulan apalagi tanggal dan harinya. Kalau nanti dah mau ngumpul mereka, ku coba tulis lagi. Terima kasih. (Mustarum)
(LM-01)
