Pujangga Ranggawarsito Cendekiawan Keraton Surakarta

Oleh: Dr Purwadi M Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, Hp. 087864404347)

Raden Ngabehi Ranggawarsita lahir pada hari Senin Legi, 10 Dulkaidah, tahun Be, 1728 Jawa atau 15 Maret 1802 Masehi. Beliau adalah putra sulung Mas Pajangswara yang berpangkat jajar, kemudian naik pangkatnya menjadi carik atau juru tulis di Kadipaten Anom.

Nama mudanya yaitu Bagus Burham. Bagus Burham menjelang usia 12 tahun dikirim ke suatu pesantren untuk memperdalam pendidikannya. Tempat pesantrennya adalah pondok pesantren Gebang Tinatar, Ponorogo yang diasuh oleh kyai ternama, yaitu Imam Kasan Besari. Imam Besari masih menantu Sri Sunan Paku Buwana IV di Surakarta.

Sesudah belajar agama di Ponorogo itu, Bagus Burham memperluas ilmunya dengan mengembara. Dalam laku pengembaraannya itu Bagus Burham juga berusaha untuk berdialog di berbagai tempat dengan guru-guru tersohor. Kegiatannya ini dilakukan sampai menyeberang ke Pulau Bali. Pada tahun 1845 beliau diangkat menjadi pegawai di istana sebagai pujangga kraton Surakarta. Selama hidupnya beliau mengabdi kepada 5 raja, Sinuwun Paku Buwana V-IX. Loyalitas beliau terhadap profesinya ditunjukkan dengan sejumlah karya-karyanya yang bermutu tinggi.

Karya tulis Raden Ngabehi Ranggawarsita di antaranya: Serat Wirid, Hidayat Jati, Suluk Saloka Jiwa, Suluk Supanalaya, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Suksma Lelana, Serat Paramayoga, Serat Jayengbaya, Serat Jayengtilam, Pustaka Raja Purwa, Kalatidha, Sabdatama, Sabdajati, Cemporet, Joko Lodhang, Wedharaga, Wedhapurwaka, Sabdapranawa, Sadu Budi, Jitapsara, Candrarini, dan Witaradya.

Silsilah R. Ng. Ranggawarsita dari pihak ayah menurut Komite Ranggawarsitan yaitu:

(1) Pujangga kraton Kartasura-Surakarta, Raden Ngabehi Yasadipura berputra Raden Tumenggung Sastranagara atau Yasadipura II.

(2) Yasadipura II menurunkan Mas Ngabehi Ranggawarsita atau Mas Pajangswara.

(3) Mas Pajangswara menurunkan Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Silsilah R. Ng. Ranggawarsita dari garis keturunan ibu menurut Komite Ranggawarsitan III yaitu:

(1) Pujangga Pajang, Pangeran Tumenggung Sujanapura atau Pangeran Karanggayam menurunkan Raden Wangsabaya.

(2) Raden Tumenggung Wangsabaya menurunkan Kyai Ageng Wanabaya.

(3) Kyai Ageng Wanabaya menurunkan Kyai Ageng Nayamenggala.

(4) Kyai Ageng Nayamenggala menurunkan Kyai Ageng Nayatruna atau Ngabehi Sudiradirja I. Ngabehi Sudiradirja I menurunkan Ngabehi Sudiradirja II atau Sudiradirja Gantang.

(5) Sudiradirja Gantang menurunkan Nyai Ageng Pajangswara.

(6) Nyai Ageng Pajangswara menurunkan R. Ng. Ranggawarsita.

Pujangga sejak zaman pemerintahan Pajang sampai Surakarta di antaranya: Pangeran Tumenggung Sujanapura atau Pangeran Karanggayam, Ngabehi Dhadhaptulis, Tumenggung Jayaprana, Tumenggung Sujanapura, Tumenggung Surawadi, Ngabehi Saralathi, Ngabehi Wirasastra, Kyai Ageng Buyut, Tumenggung Janur, Tumenggung Tirtawiguna, Pangeran Wijil, Pangeran Sastrawijaya, Kyai Yasadipura I, Kyai Yasadipura II, R. Ng. Ranggawarsita.

Mereka yang bergelar pangeran dan tumenggung berpangkat bupati. Mereka yang bergelar ngabehi berpangkat kliwon atau bupati anom. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873, dimakamkan di Palas, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah berdekatan dengan makam orang tuanya. Sampai kini makamnya banyak dijadikan tempat ziarah yang amat keramat oleh masyarakat.

Ranggawarsita termasuk seorang pujangga yang peka terhadap permasalahan sosial. Zaman Kali atau Kaliyuga yang oleh Ranggawarsita lebih populer disebut dengan istilah jaman edan merupakan sindiran pada kekacauan waktu itu. Kutipan tembang sinom dalam Serat Kalatidha menunjukkan kekacauan yang sedang melanda masyarakat.

Sinom

ewuh aya ing pambudi,

milu edan nora tahan,

yen tan milu anglakoni,

boya keduman melik,

kaliren wekasanipun,

BAGIKAN KE :