oleh

Kisah Pandemi Influenza 1918 di Kampung Medan: 495 Wafat, Obatnya Aspirin, Kina, Brandy, dan Pepermints Woods

Oleh: Dr Ichwan Azhari

(Sejarahwan Tinggal di Kota Medan)

Baru berjalan tujuh bulan ada 495 orang tewas karena pendemi influenza bulan November 1918 di Medan. Pendemi nya masih terus berlangsung sampai 1920. Saat itu penduduk Medan hanya 43.826 jiwa, setara penduduk salah satu kelurahan di Medan saat ini. Medan saat itu layaknya sebuah kampung, kampung Medan. Jadi lebih satu persen warga Medan tewas saat itu, sulit dibayangkan jika dikonversikan ke jumlah penduduk sekarang, itu mencapai 30 ribu warga yang wafat karena virus Influenza atau padanannya di Covid-19 saat ini.

Pendemi Influenza menular dengan cepat, satu kawasan Sei Rengas selesai diatasi, pendemi pindah menyerang kawasan Petisah. Tiap hari 2-3 orang tewas di kampung Medan saat itu, korban terbanyak orang tua dan anak anak.

Liputan JUGA  Mencari Solusi Pembelajaran di Era Pandemi

Dengan geram pendemi yang menggelisahkan warga Medan ini diangkat oleh Mohammad Noeh, anggota Dewan Kota, dalam sidang Dewan Kota (Gemeenteraad Vergadering Dienstag 12 November 1918). Sidang dewan Kota ini dipimpin Walikota Medan, J. Macky. Kata Mohammad Noeh, pemko Medan harus lebih giat lagi mengadakan obat obatan, tenaga medis dan sanitasi di kampung kampung di Medan. Noeh dengan tenaga medis sudah meninjau ke kampung dan melihat sanitasi yang buruk, rumah rumah yang kurang ventilasi. Saat sakit malah jendela warga ditutupi.

Diakui dalam sidang di gedung bersejarah Balai Kota Medan yang sekarang dikuasai hotel Aston itu, warga Medan sulit diatur. Satu yang sakit berduyun duyun orang kampung menjenguk. Beda dengan warga Eropa yang sakit, langsung menyendiri. Nampak tidak ada pembatasan, tidak ada PPKM level 4 (yang kini diplesetkan warga Medan jadi Putar Putar Keliling Medan).

Liputan JUGA  Ditengah Pandemi, Holtikultura Dinilai Berpeluang Tingkatkan Pendapatan

Sidang menyimpulkan sia sia menasihati warga agar patuh. Yang perlu dilakukan segera adalah penyediaan obat obatan dan tenaga medis. Warga Medan tidak cukup dana untuk membeli obat dan membayar dokter. Sekalipun begitu diakui bahwa solidaritas sesama warga untuk saling membantu diakui cukup kuat.

Obat yang disebut dalam sidang itu adalah Aspirin dan Kina. Di luaran, di koran de Sumatera Post, Deli Courant maupun Sumatera Bode beredar iklan obat virus Influenza seperti Pepermints Wood’s dan minuman Brandy.

Iklan obat Influenza yang paling terkenal dan menyebar luas di media adalah Pepermints Wood’s. Cara beriklan nya pun meyakinkan, intelek dan untuk kelas terdidik.
Dalam iklan obat virus Pepermints Wood’s yang dimuat di de Sumatera Post tanggal itu menyebut kan prediksi yang menjadi kenyataan : Flu Spanyol, nama terkenal dari pendemi influenza 1918 waktu itu, telah melanda dunia. Kata iklan itu, para ahli telah menetapkan dengan pasti bahwa penyakit itu akan kembali dalam interval 2 atau 3 tahun dan menyebar lagi di berbagai titik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.