Makam Raja-Raja Mataram di Pajimatan Imogiri

C. Suri Teladan Para Leluhur.

Keluarga Kraton Surakarta sebelum melakukan nyadran pada setiap bulan Ruwah, terlebih dulu sowan di Pajimatan Imogiri menjelang upacara tingalan jumenengan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 14 April 2016. Pengageng Sasana Wilapa Kraton Surakarta memimpin upacara unjuk uninga di makam Sultan Agung.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut tatacara jumenengan nata dan pusaka Bedhaya Ketawang. Pengetan jumenengan nata tiba pada tanggal 25 Rajab atau 3 Mei 2016.

Penghormatan pada leluhur memang perlu. Kraton Surakarta yang dikoordinir oleh GKR Wandasari sowan ke makam Kotagedhe. Di sana bersemayam Ki Ageng Pemanahan, Juru Martani dan Panembahan Senopati.

Untuk menghemat energi dan waktu, pajimatan Kotagedhe dipimpin oleh GKR Galuh Kencono. Acara ini tiap tahun dilakukan menjelang penobatan raja, boleh dibilang acara unjuk uninga bersifat sederhana. Hanya diikuti oleh sebagian abdi dalem.

Sedangkan acara Nyadran berlangsung lebih semarak, dengan menyertakan abdi dalem dari berbagai daerah setiap kompleks makam dikunjungi oleh para pengageng Kraton Surakarta.

Kompleks makam Imogiri khusus buat raja, istri, anak dan menantu. Untuk tingkat cucu sudah tidak berhak. Cucu cicit raja mendapat jatah pemakaman di Astana Laweyan. Begitulah tradisi yang sudah berlangsung selama berabad-abad.

Kraton Surakarta dengan konsekwen dan kontinyu menyelenggarakan upacara adat. Eksistensi kekuasaan tradisional harus dibangun melalui aktivitas kultural dan ritual.

Kira-kira pukul 12.30 WIB, upacara unjuk uninga dimulai. Abdi dalem yang bertugas di makam Imogiri segera bersiap-siap. Bunga melati, mawar, kenanga diiris halus. Abdi dalem Purwa Kinanti membawa kembang yang diwadhahi baki. Abdi dalem berbusana Jawa berjalan menuju makam Sultan Agung. Berjalan di depan GKR Wandansari yang diikuti barisan abdi dalem.

Para abdi dalem putri mengenakan kemben. Putri raja boleh memakai kebaya. Abdi dalem kakung mengenakan baju beskap, blangkon, samir, jarik, bebedan, stagen, sabuk wala. Di makam tanpa memakai keris.

Jarak kompleks Sultan Agung dengan transit Paku Buwono sekitar 200 m. Makam Sultan Agung menduduki tempat yang paling tinggi. Dari tangga makam yang jumlahnya 450 langsung naik ke makam Sultan Agung.

Saat itu hujan baru saja reda. Hawa sejuk, angin semilir langit berawan. Selama upacara berlangsung tidak ada halangan serius. Cuaca boleh dikatakan amat cerah dan ucara segar. GKR Wandansari memberi dhawuh kepada abdi dalem ulama.

Mereka segera memberi doa untuk seluruh para raja Mataram dan khususnya Kraton Surakarta. Tampak dalam acara ini yaitu KP Wirobumi dan KMT Fitri Pusponegoro. Beliau diantar oleh KRT Dalijo Renggowacono. Bau dupa wangi dengan diuntai alunan syair yang merdu.

Pintu makam Sultan Agung dibuka. GKR Wandansari dan abdi dalem bertafakur nyuwun pangestu.

Tiang dan dinding terbuat dari kayu jati. Lantai terbuat dari tegel kuno. Ditata rapi, asri. Jeng Esti betul-betul khidmat mengikuti acara ini. Semoga doa terkabul sekalian warga mendapat anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Waktu jam telah berlalu. Kira-kira pukul 13.30 rombongan menuju kompleks makam Paku Buwono X, XI, XII.

Dibanding dengan tempat lain, kompleks makam ini teramat rapi, megah dan mewah. Transit dan salin pakaian amat nyaman. Kamar mandi dan paturan bersih. Seolah-olah tinggal di istama. Hawa sejuk, betah istirahat. Tempat asri anglam-lami, serba elok dari segala sudut.

Kukusing dupa kumelun, arum wangi ke kanan dan ke kiri. Di isni terdapat makam anggota BPUPKI. Mereka adalah Suryohamijoyo, Sosroningrat, Wuryaningrat.

Beliau adalah pembesar Kraton Surakarta yang turut serta dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jasa mereka amat besar. Sinuwun Paku Buwono X, XI dan XII memberi fasilitas guna membentuk NKRI. Dimulai dari Budi Utomo, Sarikat Islam, Perguruan Muhammadiyah dan ormas kebangsaan berhutang budi kepada ketiga raja Surakarta.

Paku Buwono XI menjadi dewan penasihat Sarikat Islam. Paku Buwono XII memberi bantuan uang kepada pemerintah RI. Hingga sekarang Kraton Surakarta memberi bantuan yang besar pada NKRI.

Masyarakat tiap hari ziarah pada Sinuwun Paku Buwono X, XI. XII merupakan bentuk penghargaan. Sebenarnya orang hidup tidaklah sulit guna menghormati orang lain. Terlebih bagi masyarakat atau pihak yang berjasa pada nusa dan bangsa, wajib kiranya untuk memberi penghormatan.

Pola bangunan kompleks makam Sinuwun Paku Buwono X, XI dan XII boleh dibilang megah mewah. Lantai marmer berkelas tinggi, atap rapi, tiang dinding kayu jati. Fentilasi, pengaturan udara, tata ruang dengan menggunakan arsitektur yang berkualitas.

Barangkali di seluruh Asia Tenggara makam ini paling mengesankan. Daya magis, nilai spiritual dan keindahan terpancar dari pajimatan Imogiri.

Lama waktu ziarah hari Kamis, 14 April 2016 ini selesai pukul 14.30. Dilanjutkan makan siang. Semua pendherek begitu lahap, mat-matan, gembira ria, suka hati. Sejak siang memang belum makan.

Ditambah tenaga ekstra untuk perjalanan naik turun tangga yang lumayan tinggi. Energi jelas terkuras. Begitu makan siang dihidangkan maka terasa enak dan nikmat.

D. Bangunan Sasana Asri.

Bangunan Pajimatan Imogiri dibentuk dengan struktur estetika paripurna. Sasana Palereman merupakan tempat transit buat pengunjung. Tampak suasana yang begitu asri.

Pesareyan Imogiri terdapat masjid, padasan atau tempayan, gapura, tangga naik, kelir, dan cungkup. Berdasarkan ptinggalan yang ada didalamnya Pemakaman Imogiri dapat dibedakan menjadi dua bagian.
Tingalan yang terdapat di halaman dalam tembok keliling makam terdapat gapura, kelir, cungkup, padasan, dan makam.

Tinggalan yang terdapat di halaman luar tembok keliling makam terdapat masjid, tangga naik, dan padasan.
Pasareyan Imogiri dikelilingi tembok bata yang tinggi dan terdiri dari empat halaman. Untuk memasuki halaman pertama terlebih dahulu melewati gapura candi bentar, supit urang dan di halaman ini ada kelir, bangsal, padasan dan makam.

Bagian halaman kedua, ketiga, dan keempat terdapat kesamaan unsur yang ada di dalamnya, yaitu terdapat pintu penghubung di tiap-tiap halaman makam berupa gapura paduraksa, kelir di depan gapura, juga makamp yang terdapat di tanah terbuka serta terdapat makam yang terletak di dalam cungkup.
Makam yang terletak di tanah terbuka, yaitu makam penghulu Ketagen, makam Patih Singoranu.

Adapun makam yang terletak di dalam cungkup, misalnya saja makam Sultan Agung. Selain bercungkup, makam Sultan Agung ini juga diberi tempat sesaji. Lokasi makam Sultan agung terletak pada posisi di bagian paling dalam karena pada bagian tersebut dianggap memiliki tingkat kesakralan yang paling tinggi.

Tata ruang makam Imogiri di dalamnya memiliki benteng yang cukup tinggi, serta memiliki empat halaman. Halaman pertama terdapat kelir, bangsal, padasan, dan makam itu sendiri. Pada bagian halaman kedua, ketiga, keempat terdapat kesamaan unsur bangunan yaitu ada pintu penghubung pada tiap-tiap halaman makam yang berupa gapura paduraksa, kelir yang selalu ada di depan gapura, dan cungkup.

Masing-masing kompleks makam tersedia ruangan untuk transit dan berfungsi sebagai markas para abdidalem juru kunci. Barangkali tempat transit ini semacam peristirahatan atau pesanggrahan. Perjalanan untuk menuju makam Imogiri bisa dilewati melalui dua jalur.

1. Jalur tangga.
Pegunjung Pajimatan Imogiri bisa lewat tangga berundak yang jumlahnya lebih dari 450. Tentu saja diperlukan tenaga besar.

Bagi mereka yang menjalankan laku ritual, pasti tidak merasakan beban apapun. Para abdi dalem siap untuk memandu, bagaimana cara menempuh tangga supaya terasa agak ringan. Cara jalan dengan maju miring.

2. Jalur jalan barat.
Pengunjung Pajimatan Imogiri bisa lewar jalur jalan barat. Dari parkiran terminal naik kira-kira 500 m. Sebelum anik perlu mengisi tenaga. Sudah tersedia jajanan makanan aneka ragam.

Kenyamanan pengunjung didukung oleh fasilitas. Rupa-rupa makanan kecil yang enak murah. Makanan besar dengan lauk-pauk tradisional, sayur-mayur segar seperti daun ketela pohung, nangka, terong, kacang, kangkung, bayam. Rasanya enak, segar, gurih nikmat.

Minuman wedang uwuh terkenal segar, nikmat dan bisa untuk obat sakit encok, jimpe, pegal linu dapat diobati dengan minum wedang uwuh. Begitu diminum badan terasa segar sumyah. Bahkan ramuan wedang uwuh tersedia dalam bentuk kemasan, bisa untuk oleh-oleh di rumah.

Wedang uwuh terkenal dan ramuannya tersedia di mana-mana. Pada masa depan menjadi barang komoditas ekspor. Mutu barang terjamin, kualitas pasti bagus. Perlu tenaga promosi dan marketing. Pasar dunia terbentuk, maka roda ekonomi berputar cepat.

Cerita berikut memperjelas deskripsi historis Pajimatan Imogiri. Kira-kira pukul 16.00 rombongan Kraton menuju Pantai Parangkusumo. Kali ini GKR Galuh Kencono yang bertugas memimpin upacara di pajimatan Kotagedhe langsung ke Pantai Selatan.

Duduk di bangsal pelereman sambil rembugan kawruh. Tampak menyertai KP Satriyo Hadinegoro, KPA Brotodiningrat beserta dengan abdi dalem. Terlebih dulu wedangan di tempat transit. Dengan berbaju Jawa lengkap, tampat merbawani, ngengreng dan bersinar. Jelas keberadaan mereka unggul dibanding dengan kedatangan para turis yang lalu lalang. Satu bertujuan rekreasi, satunya lagi bertujuan meditasi.

Kembang melati dalam bokor kencana dibawa oleh para abdi dalem. Barisan rapi dengan busana kejawen sungguh agung dan anggun. Sinar matahari yang terhalang mega mendung mmbuat hawa tak begitu panas. Angin laut yang berhembus dari Samudera Selatan menyisir berkap dan kebaya.

Ratusan mata memandang abdi dalem yang mengunjungi pantai Parang Kusumo. Pasir laut yang lembut menjadi alas untuk duduk timpuh. GKR Galuh Kencono mengheningkan cipta. Semua abdi dalem mengikuti. Tanpa alas kaki semua duduk langsung di atas pasir.

Abdi dalem purwo kinanthi membawa bunga melati. Tepat di pinggir pantai ombak berdebur menerima sebaran bunga melati. Sebaran kembang dibawa ombak, terpantul balik kembali ke tepian. Kembang melati berjajar-jajar di tepi bibir pantai.

Indah sekali. Tampak seperti pembatas antara laut dan darat. Demikianlah prosesi upacara nyadran yang dimaksudkan untuk memuliakan jasa para leluhur, para raja yang pernah memerintah kraton Mataram.

Pemimpin Jawa peduli pada seluruh ruang. Baik untuk hidup di dunia maupun alam pengrantunan. Maka makam mendapat perhatian. Kematian diiringi dengan upacara yang jangkep genep genah.

Papan pelereman kompleks makam Imogiri dibangun dengan serius. Mulai dari bahan bangunan, pilihan kayu dan struktur tempat. Masing masing unsur dikaji mendalam. Tentu saja juga disertai dengan laku tirakat.

E. Gagasan Alam Pangrantunan.

Alam Pangrantunan setelah kehidupan di dunia. Ahli waris yang masih hidup di dunia memberi doa dan upacara. Pajimatan Imogiri memberi keterangan kehidupan di alam kelanggengan.

Nyadran sudah berlangsung lama. Tujuan upacara nyadran Kraton Surakarta Hadiningrat yaitu untuk memuliakan para leluhur yang telah membangun peradaban masa silam. Kejayaan yang telah dirintis perlu dilestarikan untuk pijakan pada masa kini. Pada masa mendatang segala tindak tanduk dan aktivitas kebudayaan diharapkan memperoleh masa kejayaan.

Tradisi nyadran yang diselenggarakan oleh Kraton Surakarta Hadiningrat terbukti dapat mengokohkan kepribadian para pendherek yang setia menyertai laku spiritual. Para abdidalem yang selalu siyaga ing gati, sawega ing dhiri benar-benar merasakan kekuatan rohani. Mereka mendapatkan berkah yang berupa ketentraman lahir dan batin.

Jasa dan perjuangan para leluhur Mataram sebenarnya kelanjutan dari cita-cita kerajaan Majapahit, Demak Bintoro dan Kasultanan Pajang. Jejak mulia ini hendaknya selalu diwariskan dan dilestarikan secara nak tumanak run tumurun.

Jaman keemasan Jawa akan menjadi kenyataan dan berwujud dalam sesanti negari kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Cita cita sosial nenek moyang.

Kegiatan budaya di Pajimatan Imogiri pada hari Minggu, 10 Oktober 2021 memang penting. Teladan bagi para penyelenggara negara. Agar bersedia hormat pada leluhur.

Hari itu cuaca begitu segar sejuk. Angin sumilir berhembus pelan. Langit berawan tipis. Menginjak saat bedhug dheng sinar matahari masih saja redup. Iklim yang normal menjelang mangsa labuh. Yakni peralihan dari mangsa ketiga ke mangsa rendheng.

Suasana awal bulan Oktober mulai normal. Sejak tanggal 17 Maret 2020 dunia didera oleh musibah corona. Pemerintah dan rakyat sibuk mencegah bahaya Covid 19. Pelan pelan masalah bisa diatasi dengan baik. Kunjungan ke Pajimatan Imogiri tetap patuh protokol kesehatan.

Tiba tiba angkasa berubah cerah. Mendung untuk sementara menyisih. Langit kembali biru. Pepohonan sekitar gunung Merak memantulkan warna hijau. Burung berung pun beterbangan. Hinggap di cabang pepohonan sambil berkicau nyaring.

Jasa ojek dengan ramah melayani pengunjung. Rupanya kompleks Pajimatan Imogiri memutar roda ekonomi. Penjual makanan berderet deret. Pisang kepok, kripik mlinjo, opak gapit, pecel bisa menambah gairah. Setidak tidaknya menjaga energi setelah naik turun tangga makam. Badan kembali segar bugar.

Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 13. Keluarga Karaton Surakarta Hadiningrat sudah tiba berdatangan. Abdi dalem Pajimatan Imogiri menyiapkan minuman dan makanan. Teh hangat tersedia di halaman palereman. Tinggal ngiling dalam gelas.

Abdi dalem purwo kinanthi menata dupa, kembang, sesaji. Dengan berbusana adat kemben, tugas dilakukan sebaik baiknya. Melati, kenanga, mawar berbau harum. Ditambah minyak wangi, kanan kiri Pajimatan Imogiri makin kelihatan sakral. Tata cara yang berlangsung turun tumurun.

Kali ini abdi dalem Pajimatan Imogiri berbusana beskap hijau. Sentana berbusana beskap hitam. Cuaca makin cerah. Angin segar terus berhembus. Seiring dengan Putra Mahkota KGPH Mangkubumi rawuh.

Kegiatan budaya adi luhung ini harus dilestarikan. Demi memperkokoh jatidiri bangsa. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya.

(LM-01)

BAGIKAN KE :