Gunung Semeru dan Sejarah Kabupaten Lumajang

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum.

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347)

A. Daya Linuwih Gunung Semeru.

Lumajang berarti melu majune jangkah kang panjang. Wilayah kawasan Gunung Semeru begitu indah permai, ayem tentrem, guyub rukun dan subur makmur.

Masyarakat Lumajang selalu memiliki cita-cita yang luhur, gagasan yang agung dan gerak langkah yang anggun. Lumajang bermakna melu majune jangkah kang panjang. Melu mengandung arti ikut, berpartisipasi, menyertai, menyumbang, memberi kontribusi. Majune jangkah berarti mengikuti laju jaman yang serba berubah. Kang panjang mengandung rentang waktu yang sangat lama. Keteladanan masyarakat Lumajang berlaku sejak tanggal 14 Dulkangidah 1665 Saka atau 15 Desember 1255. Saat itu Lumajang dalam pembinaan kerajaan Singosari yang diperintah oleh Prabu Kertanegara.

Raja Singosari Prabu Kertanegara adalah tokoh yang populer di kalangan rakyat Lumajang. Beliau seorang pemimpin yang wibawa, bijaksana, suka menolong, dermawan, peduli nasib orang kecil, jujur, rendah hati, rela berkorban, ramah tamah, pemurah. Setiap bulan Suro Prabu Kertanegara mahas ing ngasepi, manjing wana wasa, tumurune jurang terbis. Beliau lara lapa tapa brata. Raja Singosari ini memang sakti mandraguna. Prabu Kertanegara memberi nama Lumajang yang bermakna melu majuning jangkah kang panjang.

Labuh labet kerajaan Singosari terus berlanjut pada generasi berikutnya. Menantu Raja Kertanegara bernama Raden Wijaya. Beliau pendiri kerajaan Majapahit tahun 1293. Ayahnya Pangeran Mahesa Cempaka, sepupu Prabu Kertanegara. Ibunya berasal dari Lumajang. Namanya Dyah Iswari, putri Dahyang Padmamurti. Wajar sekali bila kerajaan Singosari dan Majapahit memiliki hubungan emosional dengan warga Lumajang. Raja Majapahit tiap bulan Ruwah mengadakan upacara Sarada di Lumajang. Upacara Sarada bertujuan untuk memuliakan arwah leluhur.

Pada tahun 1312 Prabu Jayanegara datang ke wilayah Lumajang. Beliau mengikuti upacara Yadnya Kasada. Panitia sudah menentukan jadwal upacara Yadnya Kasada, yaitu tanggal 15 bulan Kasodo atau kesepuluh. Tempatnya di gunung Bromo. Prabu Jayanegara diminta oleh masyarakat Tengger untuk memimpin jalannya upacara Kasada. Raja Airlangga sebagai titisan dewa yang bertugas untuk memelihara keselamatan dunia. Raja Jawa Majapahit ini memang selalu memangku hayuning bawana.

Selama memimpin upacara Yadnya Kasada panitia bekerja dengan sistem organisasi yang rapi. Bidang keamanan diserahkan pada warga dari daerah Candipuro, Gucialit, Jatiroto. Bidang konsumsi akomodasi dan transportasi ditangani warga dari daerah Kedungpajang, Klakah, Kunir, Padang, Pasirian, Pasujambe. Bidang acara ritual dipegang oleh warga dari daerah Pronojiwo, Randuagung, Senduro, Ranuyoso, Rowokangkung, Sukodono. Bidang among tamu diserahkan kepada warga dari daerah Tekung, Sumbersuko, Tempursari, Tempeh. Mereka bekerja gotong royong. Melayani raja Majapahit akan mendatangkan anugerah besar.

Kerajaan Majapahit selanjutnya dipimpin oleh raja putri, Tri Bhuana Tunggadewi. Beliau memerintah tahun 1328 – 1350. Kesetaraan gender sudah dikenal orang Jawa sejak lama. Pria wanita punya kedudukan yang sama. Kepemimpinan Maharaja Tri Bhuana Tunggadewi sangat mengagumkan. Beliau seorang raja yang ber budi bawa laksana, hambeg adil paramarta. Tidak pernah pilih kasih. Sekalian warga negara sama kedudukan dalam hukum. Tumindak becik diganjar, tumindak luput nampa pidana. Negara Majapahit benar-benar ayem tentrem, agung ngrembuyung.

Tri Bhuana Tunggadewi pada tahun 1334 melakukan bakti sosial di kawasan bukit timur laut Lumajang. Raja Majapahit datang lengkap dengan aparat dan prajurit. Bakti sosial kali ini sekaligus untuk memberi nama deretan pegunungan. Atas usul Pangeran Mangkubumi, deretan perbukitan itu diberi nama Pegunungan Lyang, pemberian nama pegunungan Lyang diambil dari kakeknya Dahyang Padmamurti. Bagi pembesar Majapahit pegunungan Lyang dianggap angker, wingit dan sakral.

Tahun 1350 – 1386 Prabu Hayamwuruk memimpin kerajaan Majapahit. Patih Gajahmada mendampingi dengan setia. Empu Tantular mengarang kitab Sutasoma, sebagai panduan hidup. Empu Prapanca menyusun kitab Negara Kertagama. Kerajaan Majapahit tampil sebagai negeri kang gedhe obore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adoh kuncarane, ampuh kawibawane. Bebasan kang cerak manglung, kang tebih mentiyung. Sedaya sami pasok glondhong pengareng-areng, peni-peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana.

Kemakmuran yang berlimpah ruah, menyebabkan Prabu Hayamwuruk dengan mudah melaksanakan program kerja. Wilayah Lumajang mendapat perhatian utama. Bagi Prabu Hayamwuruk wilayah Lumajang merupakan pepundhen kang pinundhi-pundhi pindha pusaka. Pejabat spiritual Majapahit disuruh membina juru kunci yang menjaga Gunung Lyang, Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Prabu Hayamwuruk pernah tapa kungkum di kali Mujur. Benar sekali dengan ritual di Kali Mujur nasib raja Majapahit juga selalu mujur. Widada kalis ing sambikala.

Kunjungan Prabu Hayamwuruk di sekitar Gunung Semeru senantiasa disertai dengan siraman rohani. Empu Prapanca memberi wulangan wejangan wedharan tentang sangkan paraning dumadi. Sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Itulah puncak spiritual tertinggi atau manunggaling kawula Gusti. Kitab Negara Kertagama menjadi acuan untuk memahami jagad gedhe lan jagad cilik.

B. Kebijaksanaan Hidup dari Wilayah Semeru.

Ketentraman selalu menyertai warga Lumajang. Kebijaksanaan hidup berdasarkan nilai kearifan lokal. Demi memperkokoh jatidiri bangsa. Oleh karena itu perlu diulas tentang sejarah masa silam.

Adipati Menak Sembuyu dari Kabupaten Blambangan datang ke Lumajang pada tahun 1467. Beliau berkunjung bersama putrinya, Dewi Sekardadu. Pada perjalanan pulang Adipati Menak Sembuyu bertemu dengan Maulana Ishaq. Dewi Sekardadu menikah dengan Maulana Ishaq, lantas lahirlah seorang anak yang cerdas, ilmuwan, cendekiawan, rupawan, dan agamawan. Namanya Raden Paku.

Betapa bahagianya Adipati Menak Sembuyu. Cucu kesayangan di antar ke Surabaya untuk berguru kepada Kanjeng Sunan Ampel. Raden Paku akhirnya bergelar Sunan Giri. Beliau ditetapkan untuk mendirikan peguron di Gresik. Kelak Raden Paku atau Sunan Giri menjadi anggota Dewan Wali Sanga. Bahkan Sunan Giri menjadi penasihat utama raja Demak dan raja Pajang. Lewat Sunan Giri ini raja Demak dan Pajang melaksanakan tata cara adat kejawen di Gunung Bromo.

Dewi Sekardadu dan Maulana Ishaq pada tahun 1487 datang ke Lumajang. Tujuanya untuk membagi lenga tala. Minyak ini berkhasiat untuk mencegah penyakit gudig. Wabah pageblug mayangkara sedang terjadi di sepanjang kali Asem, kali Winong, kali Sumbergebang, kali Banter. Dewi Sekardadu yang kaya raya ini segera turun tangan. Bersama dengan anak buahnya yang tinggal di Lamongan, Dewi Sekardadu memberi pertolongan kepada sesama. Masyarakat Lumajang pun bebas dari penyakit menular. Hidup kembali aman nyaman.

Pengalaman Dewi Sekardadu cukup luas. Beliau tinggal di Lamongan. Di sana beliau menjadi suadagar kaya raya. Hasil bumi mendatangkan keuntungan besar. Dewi Sekardadu pernah berkunjung di kawasan kebun teh Merbabu. Dari pengalaman ini, lantas beliau mengajak ahli agrobis untuk datang ke desa binaan maka diajaklah pembesar, Kertowono. Usaha ini berhasil sekali. Penduduk bergembira bukan main.

Kebun teh Kertowono berada di daerah Gucialit Lumajang. Pemandangan sungguh asri indah. Cocok untuk wisata alam. Hawanya sejuk, di bawah kaki Gunung Bromo, Dewi Sekardadu amat berjasa. Sudah selayaknya putri Adipati Menak Sembuyu ini dihormati oleh penduduk Lumajang sepanjang masa.

Perkebunan karet dan coklat dipelopori oleh raja Mataram, Sri Amangkurat Amral tahun 1688. Beliau adalah cucu Pangeran Pekik Bupati Surabaya. Nama kecilnya yaitu Raden Rahmat. Beliau sering diajak keliling wilayah bang wetan bersama kakeknya. Pangeran Pekik Bupati Surabaya dan Ratu Wandansari merupakan pasangan yang suka budidaya agrobisnis. Wilayah Lumajang loh subur kang sarwa tinandur.

Kanjeng Sinuwun Paku Buwono IV juga pernah datang ke wilayah Lumajang pada tahun 1812. Beliau bersama dengan Kanjeng Ratu Mas, putri Bupati Lamongan yang menjadi permaisurinya. Raja karaton Surakarta Hadiningrat ini sedang melakukan program kerja di wilayah Bang Wetan. Ibu-ibu dari Lumajang lantas diajak untuk datang ke Surakarta. Mereka kursus batik di Laweyan. Kemudian dilanjutkan dengan belajar meracik jamu di Tawangsari.

Hubungan Lumajang dengan karaton Surakarta Hadiningrat selalu akrab. Pada tanggal 16 Mei 1896 Sinuwun Paku Buwono X melakukan kunjungan di Lumajang. Beliau turut meresmikan stasiun kereta api. Bersamaan dengan itu dilakukan pula peresmian stasiun Klakah, stasiun Pasisiran, stasiun Balung, stasiun Rambipuji. Stasiun di Lumajang ini sangat berguna sekali untuk kelancaran lalu lintas barang dan jasa.

Pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X ini Lumajang mendapat status kabupaten otonom pada tahun 1928. Raja karaton Surakarta melantik Kanjeng Raden Tumenggung Kertodirejo sebagai Bupati Lumajang. Beliau menjabat bupati Lumajang tahun 1928 – 1941. Surat keputusan diserahkan oleh Patih Sosrodiningrat. Bupati Lumajang tahun 1941 dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono XI. Raden Abu Bakar menjabat Bupati Lumajang tahun 1941 – 1948. Kabupaten Lumajang semakin ayem tentrem, murah sandang pangan papan.

Demi kemakmuran rakyat, para raja Jawa melakukan tata cara jangkep genep genah. Agar gunung Semeru bisa memberi berkah pada sesama makhluk. Keselarasan alam semesta yang hakiki.

C. Pangarsa Kawasan Semeru.

Para Bupati Lumajang yang berjasa pada nusa bangsa selalu berhubungan dengan wilayah Semeru. Pemimpin rakyat Lumajang berdarma bakti sepenuh hati.

BAGIKAN KE :