Lebih lanjut dijelaskan setelah melaksanakan upacara medwijati, sang Sulinggih patut melaksanakan lontar Catur Bandana Dharma. Pertama, Amari Aran yakni seorang sulinggih tidak lagi menggunakan nama kelahiran. Namanya berganti sesuai dengan abiseka yang diberikan oleh Nabe. Kedua, Amari Sesana yaitu perubahan perilaku, karena sulinggih tidak lagi berperilaku seperti umat pada umumnya. Termasuk dalam urusan berbusana. Ketiga, Amari Wesa yakni seorang sulinggih memiliki standar penataan rambut, sesuai dengan aliran yang diambil sulinggih tersebut. Dan keempat, Amulahaken Guru Susrusa yakni seorang sulinggih harus taat dan bakti kepada guru spiritualnya atau Nabe yang dalam kehidupan seorang sulinggih juga merupakan Siwa Sekala.paparnya.
Selain itu ada pula lontar Bongkol Pangasrayan yang memuat tentang Tingkahing Adiksa dalam melenyapkan sudra wangsa, wesya wangsa dan ksatrya wangsa menjadi wangsa pandita dewata atau windu dewa, seorang wiku sejati.
Sementara Manggala Upacara Diksa Pariksa, IB Made Widnyana menyampaikan, keberadaan Ida Sang Diksita, Ida lahir di Denpasar tanggal 26 Juni 1965 bernama Ida Bagus Wisnawa dan Istri Ida Ayu Sri Wahyuni serta sudah memiliki 4 anak, lanang istri. Untuk meningkatkan kesucian, Ida sudah melaksanakan sesana Brahmana walaka.
Ditambahkan, mengenai dudonan upacara, telah dimulai sejak 19 April 2022 dengan matur piuning. Setelah diksa pariksa dilanjutkan dengan upacara mapinton lan ngekes pada 14 Mei. Sementara puncak karya pediksan pada 15 Mei 2022 mendatang. Ucapnya (van/Lp68)
