Perjalanan Bubur Beribu Tahun, Makanan Penyembuh dari Negeri Tirai Bambu

Medan – Liputan68.com – Jejak bubur pertama kali ditemukan sejak sebelum masehi di mana Kaisar Kuning atau Xuanyuan Huangdi berkuasa di daratan Cina. Pada saat itu, ada musim paceklik yang mengharuskan kaisar memutar otak; dengan cara apa rakyat dapat tetap makan ketika bahan makanan terbatas.

Dan jawabannya adalah dengan membuat bubur atau congee. Eits, congee dilafalkan ‘kanji’ yaa, jangan terkecoh dengan tulisannya yang bisa punya arti lain hehe. Beras yang dimasak dengan lebih banyak air pun menjadi bubur, membuat jumlahnya lebih berlimpah sehingga bubur dapat dibagikan kepada banyak orang. Permasalahan pun teratasi.

Masih dari daerah Tiongkok, bubur identik dengan makanan untuk orang yang sedang sakit. Salah seorang dokter kerajaan pernah membuatkan bubur untuk Kaisar Qi yang sedang sakit. Tekstur bubur yang lembut memudahkan untuk dicerna oleh tubuh, sehingga cocok untuk disantap saat kondisi tubuh sedang tidak baik-baik saja.

Bubur (congee) awalnya hanya berupa campuran sup panas dari kaldu dan beras. Seiring waktu berjalan, congee berubah menjadi semakin bervariasi. Potongan sayur, daging, telur, dan kacang-kacangan sering ditambahkan sebagai topping.

Di Indonesia sendiri, tambahan sambal dan kerupuk sudah menjadi semacam kewajiban. Bubur yang lembut dan hangat ini paling cocok disantap saat sarapan dan malam hari, atau ketika udara sedang dingin.

Congee telah dikonsumsi lebih dari 3000 tahun yang lalu, pertama kali ditemukan melalui bukti tertulis sejak zaman dinasti Chinese Zou di Asia Selatan dan Asia Timur. Namanya sendiri berasal dari bahasa Tamil ‘Kanji’ yang artinya merebus, kemudian berubah menjadi ‘canje’ setelah kolonisasi Portugis, kemudian berubah kembali menjadi ‘congee’ yang saat ini lebih familiar di berbagai belahan dunia.

BAGIKAN KE :