Beliau juga mengatakan : ” Benih Tembakau Deli Sumut berkembang di Jember, tapi di Sumut hanya tinggal nama, dan pengusaha Cerutu di Jember berkembang, mengapa di Medan tidak terdengar, kalau Ilmuwan, Doktor dan Profesor di UNEJ masih terus meneliti Tembakau, kenapa di USU ahli Tembakau habis ditelan masa “, pungkas mantan Bupati Sergai.
Sumut yang dikenal punya Hamparan tanah Alluvial mulai dari Sungai Wampu (Langkat) hingga Sungai Ular (Deli Serdang) yang luasnya Ratusan Ribu Ha kini telah hilang martabatnya.
Lahan Tembakau adalah tanah harapan, tanah surga, penyerap banyak lapangan kerja kini hanya nama dan tinggal kenangan, untung ada Musium Perkebunan (Musperlin) yang berada di Kampung Baru Medan.
Ibu Sri Hartini petugas yang setia memperdayakan Musperlin yang selalu tetap semangat dan kreatif memperbesar Resonansi kejayaan masa lalu Komoditi Perkebunan dan ada juga Group WhatsApp (WA) Forum Diskusi Perkebunan dan Deli Heritage Society juga Deli Art Community yang selalu mendiskusikan dan membangun Literasi dan Budaya Perkebunan di Sumatera Utara, akan tetapi masih ada pihak yang berusaha melawan lupa pada Tembakau Deli serta lupa pada kejayaan Perkebunan.
Disini jelas bahwa Tembakau Deli adalah Culture Heritage (Warisan Budaya) dan Mantan Bupati Sergai juga mengatakan ” Dapatkah Sumatera Utara seperti Jember Jawa Timur “, ini tidak mudah nya, ungkap Soekirman.
Sembari meyakini bahwa masalahnya cukup kompleks, bukan hanya masalah tehnis Agronomis akan tetapi lebih luas dari itu yaitu masalah Yuridis, Psikologi serta Sosiologis dan Ekonomis. Kalau di Jember Tembakau Deli tumbuh subur, pasti di Deli bisa di Revitalisasi.
Planter Jember mengakui bahwa Tembakau H38 belum mampu menyaingi pohon aslinya di Deli, tapi itupun kualitas Cerutu telah harum dan diakui dunia serta menghasilkan Devisa untuk Negara.
Soekirman juga bilang : ” Budaya Perkebunan di Era Digital, Era Milenial, Era IOT dan Tekhnologi 4.0 bisa kembali bangkit, kekayaan Exotic dan Endemik Komoditi Perkebunan di Sumatera Utara tidak kalah dengan Daerah lain, tutup Soekirman.
(Dipa)
