Perhatian Pemerintah Terhadap Kesehatan Mental ASN Masih Rendah. Dari Hari Ke Hari Kasus Ganguan Kejiwaan Di Pacitan Terus Meningkat. Apa Penyebabnya, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Kejiwaan RSD dr Darsono Endang Soekartiningisih

Pacitan- Kasus gangguan jiwa, kian hari kian bertambah. Khususnya mereka yang mengalami tekanan hidup serta beban pekerjaan cukup tinggi, bisa berpotensi mengalami ganguan kejiwaan cukup berat.

Dokter Spesialis Kejiwaan, RSUD dr Darsono Pacitan, Endang Soekartiningisih, mengatakan, kasus gangguan jiwa semakin lama semakin meningkat. Sehingga, masalah kesehatan jiwa, sekarang ini mulai disadari masyarakat sebagai masalah yang serius.

“Seperti dalam definisi WHO tentang kesehatan, yang diuraikan sebagai kesehatan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan,” kata Endang, Kamis (8/6).

Konsep kesehatan jiwa meliputi keadaan sejahtera, dimana individu mampu mengenali kemampuannya, mampu mengatasi tekanan hidup, bisa bekerja secara produktif dan bermanfaat serta bisa memberikan kontribusi kepada komunitasnya.

“Masalah kesehatan jiwa akan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Tidak hanya pada kelompok tertentu saja,” jelas dia.

Satu-satunya ahli kejiwaan yang di punya rumah sakit daerah di Pacitan ini menegaskan, tidak ada kelompok yang bisa kebal terhadap gangguan jiwa. Tetapi pada kelompok tertentu memiliki resiko tinggi. Misalnya seperti kelompok masyarakat miskin, tunawisma, pengangguran, tingkat pendidikan rendah, korban kekerasan, anak-anak dan remaja, perempuan teraniaya dan lansia terlantar.

Adapun beberapa penyebab seseorang bisa menderita gangguan jiwa, yang menurut Endang, bermacam-macam atau disebut multifaktorial. Yaitu, faktor genetik atau keturunan.

Kondisi ibu selama dia mengandung, bila ada gangguan mental, emosional, atau fisik maka akan memengaruhi saraf otak janin yang dikandungnya. Proses persalinan, bila ada komplikasi maka meningkatkan risiko
penyakit fisik, seperti panas tinggi, kejang, atau penyakit berat lainnya mulai dari lahir sampai usia sekarang.

“Riwayat jatuh, terbentur kepala, kena pukul atau kecelakaan, penggunaan narkoba/napza seperti alkohol, ganja (cannabis), shabu-shabu, extasy, obat penenang, heroin (putaw) serta riwayat peristiwa traumatis, beban psikologis yang berat, masalah yang sulit diselesaikan, konflik, keinginan yang tidak tercapai, kemarahan yang terpendam, kesedihan yang mendalam, kehilangan, kekecewaan juga menjadi penyebab seseorang mengalami gangguan jiwa,” bebernya.

Menurut Endang, semua hal diatas dapat membuat keseimbangan zat kimia di otak (neurotransmitter) menjadi berubah dan tidak stabil. Inilah yang memunculkan adanya perubahan pada cara berpikir, perasaan, sikap, dan perilaku.

Masih di kesempatan yang sama, Endang juga menjelaskan, dampak gangguan jiwa membuat seseorang menjadi terganggu fungsi dan produktivitasnya. Dan ini bisa mengganggu juga keluarga dan masyarakat.

Orang dengan gangguan jiwa tidak bisa sekolah, kuliah dan bekerja dengan baik. Fungsi sosial juga menjadi terganggu, ODGJ tidak mampu berinteraksi dengan
memutuskan untuk bertindak, kemampuan berkomunikasi, fungsi gerakan juga terganggu sehingga fungsi dan produktivitas menjadi terganggu.

Tak lupa sebagai dokter spesialis, Dia mengingatkan, persoalan kesehatan mental ASN sampai saat ini masih relatif kurang mendapat perhatian dan fokus yang proporsional dalam hal usaha yang bersifat preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan) dan juga preservatif (pemeliharaan) bagi setiap ASN sejak dari masa rekruitmen sampai masa pensiunnya.

Stress yang terjadi di lingkungan kerja tidak hanya dikarenakan aspek lingkungan pekerjaan saja, tetapi stress juga bisa disebabkan karena adanya permasalahan dengan keluarga, dengan teman, masalah hutang atau masalah lainnya, yang akhirnya terbawa sampai ke tempat kerja.

BAGIKAN KE :