Setiap kali aku mengayuh jauh, terutama jalan yang aku tempuh melalui jalur sungai, aku sedikitnya merenung. Mengapa demikian? Aku tahu sungai tempat peradaban paling tua untuk transportasi dan sumber aneka hidup, selain potensi utamanya adalah air. Air bagiku adalah kekuatan dan kebesaran semesta bumi selain daratan. Belajarlah dari tubuh manusia. Berapa persen air di dalam tubuh kita? Begitulah bumi. Untuk itu sedikit nukilanku tentangnya seperti di bawah ini.
Air
———–
Ke hilir, ia yang mengalir, yang menyisir tanah-tanah pinggir hingga pesisir. Dari hulu nan tinggi menuruni liku-liku lekuk bumi, mengairi sungai-sungai dan dataran sejak dari jejak purbawi. Mengirim kabar tentang batu-batu, kayu-kayu dan rumpun bambu dalam riwayat datu-datu yang menjaga hulu, yang menghuni bukit-bukit dan gunung itu. Alam yang membuatnya menyatu padu dalam segala tingkah laku.
Ke hilir, ia yang mencair terbakar matahari dari beku-beku batu. Angin yang membuatnya dingin, dingin yang menubuhkan tubuh jadi kaku. Ia terus melaju ke celah-celah waktu membelah-belah dataran nan rendah berubah jadi sungai-sungai baru, pun rawa-rawa, hendak mengalirinya hingga muara.
