Ideo, Logos dan Kuasa

Oleh : Zulkarnain Siregar

Pengantar

Judul ini tidak mengandung pretensi yang bermuara ke dalam suatu kepentingan macam apapun, tetapi sebuah keinginan yang begitu mendalam untuk berproses dalam menggagas- walaupun tidak bisa tidak mulai dari bentuk yang paling skeptis. Penggagasan ini tujuannya hanya menawarkan dialog dan menjadikannya sebagai obrolan yang cerdas dan berkelanjutan. Artinya, ketika gagasan mencapai pendulumnya, dia akan pecah dan berserak membentuk doromua-doromua baru. Namun jika pendulum itu menyentuh ruang kepentingan, maka ide menjadi “ideologi”. Ideologi akan mengatakan dirinyalah yang paling benar. Paling benar berarti mengakui adanya keterbatasan evidensi-evidensi yang lebih konkret.

Keterbatassan yang dimaksud, tentu tidak hanya berakibat menyembulnya budaya komunikasi afirmatif, tetapi peluang bertahannya komunikasi interjektif. Dominasi afirmatif dan interjektif “memandulkan” setiap pemahaman untuk dapat bertanya tentang dirinya, tentang sekitarnya dan tentang apa saja. Intensitas bertanya menjadi minus. Logikanya, proses menjadi bodoh atas setiap diri dapat diterima. Pembodohan dalam tanda kutip dilegitimasi dan menjadi sah-sah saja. Orang tidak akan pernah tercegat oleh sebuah pertanyaan yang sebenarnya bagian dari hak dan partisipasinya. Tidak merasa penting akan sebuah persoalan yang sesungguhnya bagian dari kepentingan kelayakan hidup manusiawinya. Kehidupan dan proses menghidupi “bibit” intelektualnya sangat dimungkinkan akan berhenti. Inilah yang sebenarnya yang menjadi pengantar masalah. Mulai dari sinilah pertanyaan lahir dan sikap bertanya hadir.

 

Ideo

Dari berbagai pidato dan banyak buku, setiap pikiran yang ada mencoba memahami tiga afirmatif tentang kebijakan setiap orang untuk sesamanya sebagai warga bangsa, yaitu: Pertama, membela sesamanya sebagai bangsa dan dalam suatu negara. Kedua, membangun sesamanya dalam kepentingan bangsa dan negara. Ketiga, menjaga sesama dalam satu bangunan-bangsa-negara. Ketiga kebijakan di atas adalah upaya perluasan moral yang setidak-tidaknya tak dapat dikatakan langsung dilakukan. Hal di atas masih berwujud dalam dunia yang melayang. Namun setelah diketahui demikian, lantas apa?

Menentukan tesa “ideologi” dari komunitas yang menegara, tidaklah kerja yang gampang, sebab sumber keyakinannya juga berasal dari kebhinnekaan. Tidak banyak sumber yang dapat membantu penguraian ideasi dari makna yang ideal sebuah “ideologi”. Hanya dapat dikatakan salah satu yang terungkap dari pesannya secara leksis adalah: ide bermakna alasan, logos bermakna sabda atau perkataan (Lihat Kamus Latin –Indonesia: halaman 397 & 501, Kanisius). Dari pemahaman di atas ada dua alternatif transformasi gramatika, yaitu: 1) alasan untuk suatu perkataan, 2) perkataan untuk suatu alasan. Arti pertama mengisyaratkan bahwa alasan diajukan untuk suatu perkataan atau diktum, sedangkan arti kedua menjelaskan bahwa perkataan disampaikan untuk menguatkan alasan. Dengan kata lain, makna pertama bermuara ke dalam bentuk dogma, selainnya, mengarah ke dialogis.

Di dalam The World Book Encyclopedia pada pengertian ideologi dalam tanda kutip: “Ideologi tidak didasarkan pada informasi faktual dalam memperkuat kepercayaan. Orang yang menerima sebuah sistem pikiran tertentu ini cenderung menolak sistem pikiran lain yang tidak sama dalam menjelaskan kenyataan yang sama. Untuk orang-orang ini hanya kesimpulan yang bertolak dari ideologi mereka yang dianggap sebagai logis dan benar. Karena itu orang yang secara kuat menganut ideologi, tentu mengalami kesukaran untuk mengerti dan berhubungan dengan penganut ideologi lain.”

Ada beberapa deskripsi dari pengertian di atas, antara lain: 1) Ideologi tidak mendasarkan diri pada data empiri yang faktual. 2) Sistem pemikiran yang menganut satu ideologi cenderung menolak sistem pemikiran dari ideologi lain. 3) Sebuah ideologi tidak pernah sama dalam menjelaskan suatu kenyataan yang sama. 4) Seorang ideolog ideologi tertentu akan sukar mengerti dan berhubungan dengan penganut ideologi lain. Bila dicermati uraian di atas maka menjadi jelas bahwa ideologi tidak pernah berhubungan dengan kenyataan-kenyataan yang berkembang dalam suatu masyarakatnya. Berikutnya, jika sistem pemikiran direduksi ke dalam ideologi, maka logikanya, pemikiran tidak akan pernah bersentuhan dengan kenyataan-kenyataan. Secara vertikal masyarakat yang menganut ideologi tertentu tidak akan pernah mengalami dinamika. Tampaknya, hipotesa seperti ini tidak mudah dipercaya, sebab dalam teori sosial dari aliran mana pun tidak ada absolutisme. Kecuali ideologi dipersepsikan ke dalam semacam “agama” masyarakat.

Oleh sebab itu, jika ideologi diromantisasi ke arah yang dogmatis maka, growth society adalah bagian dari akibat-akibatnya, walaupun ada sains sebagai “kekuatan” lain. Sebaliknya. Ideologi yang dialogis lebih representatif untuk kebutuhan masyarakat yang “dibentuk” oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Persoalannya adalah sejauh mana potensi yang berkembang mampu mengurangi kepentingan-kepentingan sepihak dengan menggunakan instrumen itu? Artinya ide-ide yang berkembang tetap menjadi bagian dari kepentingan makro.

 

Menegara

     Imbuhan meng- pada kata menegara artinya menjadi. Menjadi negara. Syarat-syarat terbentuknya negara ada tiga, yaitu 1. Ada wilayah, 2. Ada penduduk, 3. Ada pemerintahan (pengelola)

BAGIKAN KE :