“Berdasarkan hasil survey sendiri, saat ini memang banyak konstituen yang menjadikan medsos dengan durasi pendek sebagai landasannya. Dengan demikian, para calon sepertinya terus mengaktifkan pola seperti ini. Padahal, masyarakat butuh pemimpin yang merakyat,” katanya.
Ditambahkannya, saat ini masyarakat butuh pemimpin yang merakyat untuk bisa menyampaikan visi yang penting dalam berpolitik, bukan hanya gimmick yang bisa dinikmati untuk bersenang-senang,” pungkasnya.
Elna Sipayung menjelaskan, gimmick di medsos memang saat ini menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan elektabilitas.
“Namun, untuk konteks pilpres, ini jelas tak relevan. Untuk mencari pemimpin yang akan mengurusi 281 juta penduduk tak bisa hanya melihat melalui medsos visi dan misinya, apalagi banyak gimmick,” katanya.
Elna juga mengatakan, saat ini hanya tiga syarat yang wajib dimiliki sosok yang akan jadi pemimpin di Indonesia.
“Wawasan, gagasan dan pengalaman. Itu merupakan aspek yang wajib dimiliki untuk menjadi seorang pemimpin,” ujarnya.
Untuk itu, Elna kembali menegaskan gimmick di medsos memang diperlukan seorang pemimpin untuk mem-branding dirinya, sebagai seorang pemimpin yang merakyat dan mengedepankan kepentingan rakyat.
“Jadi diskusi seperti ini sangat dibutuhkan untuk meng-upgrade pola pikir kaum millenial dalam memilih pemimpin yang berkualitas untuk menuju Indonesia Emas,” tutupnya.
Selanjutnya, acara diteruskan dengan diskusi antara peserta dan narasumber membahas sistem demokrasi dan memilih pemimpin untuk Indonesia.
(LP-01)
