Dinkes Pacitan Gelar Orientasi Penguatan Puskesmas Dalam Integrasi Pelayanan Kesehatan Pimer (ILP)
Pacitan,Liputan 68.com-Pandemi COVID-19 yang mengguncang sistem kesehatan global telah mengantarkan Indonesia pada pilihan menuju jalan perubahan.
Kementerian Kesehatan telah bertekad untuk menjalankan transformasi sistem kesehatan Indonesia melalui enam pilar transformasi kesehatan. Salah satu pilar utama yaitu transformasi layanan primer yang dijalankan untuk mengatasi berbagai tantangan dalam pencapaian indikator kesehatan Nasional.
Data menunjukkan sampai tahun 2021, capaian 12 pelayanan pada SPM bidang kesehatan kabupaten/kota belum ada yang berhasil mencapai target 100%.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, Daru Mustikoaji, masalah kesehatan yang ada, antara lain; pelayanan ANC rendah, ibu hamil KEK tinggi, cakupan imunisasi rendah, dan tingginya kematian ibu akibat pendarahan.
Hal ini menyiratkan unit pemberi layanan kesehatan belum cukup dekat dengan masyarakat untuk memenuhi standar pelayanan minimal.
“Transformasi layanan primer ini sejalan dengan arah kebijakan dan strategi bidang kesehatan yang diamanatkan dalam RPJMN 2020-2024 yaitu untuk meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta, terutama penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif, didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi,” katanya, Selasa (23/4).
Transformasi layanan primer, lanjut Daru, difokuskan untuk meningkatkan layanan promotif dan preventif, seperti memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, promosi kesehatan, membangun infrastruktur, melengkapi sarana, prasarana, SDM, serta memperkuat manajemen di seluruh layanan primer di tanah air.
Perubahan mendasar pada transformasi layanan kesehatan primer terletak pada desain layanan yang difokuskan pada kelompok sasaran (people center) yang diberikan sampai ke tingkat dusun dan keluarga.
Pada level kecamatan, desain ini memberikan paket layanan untuk masing-masing siklus hidup di berbagai tingkatan layanan kesehatan yang ada di Puskesmas, baik pelayanan di dalam gedung maupun luar gedung.
“Pelayanan dalam gedung akan disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai siklus kehidupannya. Pelayanan yang semula berbasis program akan berubah menjadi berbasis siklus kehidupan sebagai platform integrasi layanan kesehatan,” jelas Daru.
Masih di kesempatan yang sama, Daru juga mengungkapkan, secara umum pelayanan di Puskesmas akan terbagi menjadi 4 klaster.
Yaitu klaster manajemen, klaster ibu hamil hingga remaja, klaster usia produktif dan lansia, dan klaster penanggulangan penularan penyakit.
Perubahan ini, tegas Daru, akan mendekatkan layanan kesehatan melalui jejaring hingga tingkat desa dan dusun serta memperkuat pemantauan wilayah setempat melalui pemantauan dengan dashboard situasi kesehatan di setiap desa.
Pada level desa akan dirancang model desa melalui Puskesmas Pembantu (Pustu) yang memiliki jejaring berupa kegiatan layanan kesehatan dalam bentuk kegiatan posyandu di tingkat Dusun.
Tahun 2022 telah dilaksanakan uji coba penerapan konsep integrasi layanan primer di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan di 9 (sembilan) lokus.
Puskesmas yang dipilih sebagai lokasi uji coba, mewakili kategori Puskesmas perkotaan, pedesaan, terpencil dan sangat terpencil yang berada di kawasan Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimatan Selatan, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Maluku dan Papua.
Pada tahun 2023 dan 2024 dilakukan scale up integrasI layanan primer yang dilakukan replikasi di seluruh provinsi. Pelaksanan scale up integrasI layanan primer
agar sesuai perencanaan dan target yang diharapkan, perlu dilakukan persiapan dan pendampingan teknis pada penerapan ILP di puskesmas, pustu dan posyandu.
“Tahun 2024 Kabupaten/Kota Pacitan akan melakukan scale up integrasi pelayanan kesehatan primer di 24 puskesmas. 54 pustu dan 53 posyandu.
Berkaitan dengan kondisi tersebut maka dilakukan orientasi bagi petugas puskesmas yang dimaksudkan untuk persiapan dan pendampingan puskesmas, puskesmas pembatu dan Posyandu dalam penerapan ILP,” terangnya.
Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini antara lain , memberikan bimbingan teknis kepada petugas puskesmas, pustu, dan posyandu dalam pelaksanaan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer sesuai konsep ILP.
Kemudian, meningkatkan kapasitas petugas dalam melaksanakan integrasi pelayanan kesehatan primer di puskesmas, pustu, dan posyandu, yang dapat dimanfaatkan oleh semua sasaran sesuai siklus kehidupan.
“Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan Puskesmas, di akhir dari kegiatan akan dilakukan kunjungan lapangan di Puskesmas Gemaharjo sebgai Puskesmas uji coba pelaksanaan ILP,” tandasnya. (****).

Tinggalkan Balasan